Harga tembaga menunjukkan lonjakan signifikan di awal pekan ini, didorong oleh perkembangan geopolitik yang meredakan ketegangan di Timur Tengah. Katalis utamanya adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengindikasikan penundaan serangan militer terhadap fasilitas pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.
Pada Senin, 23 Maret 2026, pukul 18.45 WIB, harga tembaga acuan di London Metal Exchange (LME) menguat 1,7% mencapai US$ 12.132 per metrik ton. Kenaikan ini menandai pembalikan positif setelah sebelumnya harga logam industri esensial ini menyentuh titik terendah dalam tiga bulan di level US$ 11.700 per ton. Tekanan sebelumnya muncul menyusul ancaman Iran untuk menargetkan pembangkit listrik Israel dan basis AS di Teluk jika Trump menindaklanjuti rencana penghancuran jaringan listrik Iran.
Para pelaku pasar menyoroti bahwa reli pemulihan pasar secara umum turut mengerek harga komoditas. Di samping itu, pelemahan dolar AS juga berkontribusi pada kenaikan, menjadikan logam yang dihargai dalam dolar lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Namun, di balik optimisme tersebut, pasar komoditas secara keseluruhan masih menghadapi tantangan besar. Harga minyak yang tetap tinggi menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi global, karena mendorong peningkatan biaya bagi rumah tangga dan sektor bisnis. Situasi ini tidak hanya memicu kekhawatiran inflasi yang lebih lanjut, tetapi juga mengurangi prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral.
Kondisi ini diperparah oleh konflik yang kini telah memasuki minggu keempat, mendorong harga minyak dan gas kian meroket. Seperti diungkapkan oleh Britannia Global Markets dalam analisisnya, “Perang ini mengancam aktivitas ekonomi di seluruh dunia dan memicu inflasi yang kemungkinan akan memaksa bank sentral untuk mengambil sikap yang lebih agresif terhadap suku bunga.” Ini menggambarkan kompleksitas situasi geopolitik yang terus membayangi pasar.
Di sisi lain, terdapat sinyal positif yang muncul dari Tiongkok, konsumen utama tembaga dunia, yang mengindikasikan potensi pemulihan permintaan. Stok tembaga di gudang yang diawasi oleh Bursa Berjangka Shanghai tercatat menurun untuk pertama kalinya sejak Desember, sementara premi tembaga Yangshan—indikator minat impor Tiongkok—telah meningkat menjadi US$ 48 per ton dari US$ 42 pada 6 Maret. Selain itu, di tengah ketidakpastian pasar secara keseluruhan, pergerakan aset digital seperti Bitcoin juga terpantau mulai menunjukkan tanda-tanda rebound, meskipun sentimen negatif terhadapnya masih cukup besar, mencerminkan kompleksitas dinamika pasar global.
Fokus perhatian di sektor logam industri juga tertuju pada aluminium. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan dari Timur Tengah, yang menyumbang sekitar 9% dari total pasokan global, terus memberikan dukungan harga. Meskipun demikian, aksi ambil untung (profit-taking) pada posisi beli (long position) menekan harga aluminium yang banyak digunakan dalam industri otomotif, konstruksi, dan pengemasan.
Indikator lain menunjukkan ekspektasi kekurangan pasokan yang parah, tercermin dari premi untuk kontrak aluminium jangka pendek dibandingkan dengan kontrak berjangka jangka panjang di seluruh kurva jatuh tempo. Pada penutupan perdagangan, harga aluminium untuk kontrak tiga bulan mengalami penurunan 1% menjadi US$ 3.181. Sementara itu, harga seng naik tipis 0,3% ke US$ 3.077, dan harga timbal relatif tidak berubah pada US$ 1.895. Kontrasnya, harga timah tercatat turun 0,6% menjadi US$ 43.015, diikuti oleh nikel yang melemah 0,3% menjadi US$ 16.985.












