JAKARTA – Pasar modal Indonesia menghadapi sentimen negatif yang kuat pada akhir perdagangan Jumat, 5 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok secara signifikan sebesar 245,02 poin atau setara dengan 4,2%, memposisikan indeks acuan ini pada level 5.594. Penurunan drastis ini sontak menjadi sorotan utama di kalangan investor dan pelaku pasar.
Kinerja pasar yang memerah tercermin jelas dari pergerakan saham-saham di lantai bursa. Mayoritas saham mengalami koreksi, dengan 626 saham bergerak turun, jauh melampaui 108 saham yang berhasil menguat. Sementara itu, 81 saham lainnya terpantau stagnan tanpa perubahan harga. Data ini secara gamblang menunjukkan tekanan jual yang dominan dan sentimen bearish yang kuat sepanjang sesi perdagangan.
Pelemahan ini tidak hanya menghantam IHSG secara keseluruhan, melainkan juga merata di seluruh indeks sektoral. Sektor transportasi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan terdalam sebesar 5,97%. Disusul kemudian oleh sektor energi yang kehilangan 5,73% nilainya, serta sektor perindustrian yang juga anjlok 5,72%. Koreksi masif pada sektor-sektor kunci ini mengindikasikan adanya kekhawatiran menyeluruh yang membayangi prospek ekonomi dan bisnis.
Sebagai bagian dari ekosistem pasar modal, dinamika ini juga selaras dengan kondisi dana kelolaan reksadana. Data per Mei 2026 menunjukkan bahwa total dana kelolaan reksadana mencapai Rp 685,76 triliun, angka ini mengalami penurunan tipis sebesar 1,52% dibandingkan dengan posisi pada bulan April 2026. Pergerakan ini memberikan gambaran yang lebih luas mengenai pergeseran investasi di berbagai instrumen di tengah gejolak pasar.
Meski diwarnai aksi jual yang intens, aktivitas perdagangan saham tetap berlangsung masif. Total volume transaksi saham di bursa pada hari itu mencapai 37,01 miliar saham, dengan nilai transaksi yang cukup fantastis, yakni Rp 31,10 triliun. Angka ini menggambarkan tingginya likuiditas dan minat pelaku pasar, baik untuk merealisasikan keuntungan maupun mencari peluang di tengah volatilitas yang tinggi.
Di tengah tekanan pasar, beberapa saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 masih mampu menunjukkan performa positif dan menjadi top gainers. Mereka adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menguat 4,10%, diikuti oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan kenaikan 3,21%, serta PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang berhasil naik 1,45%.
Namun, daftar top losers LQ45 justru didominasi oleh saham-saham yang mengalami koreksi tajam. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) memimpin penurunan dengan anjlok 15%, disusul oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang melorot 11,63%, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang juga tertekan 10%.













