Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, memberikan tanggapan positif terkait maraknya kedatangan pemain keturunan ke kompetisi Super League 2025-2026. Dinamika transfer di kancah sepak bola nasional semakin menghangat, terutama dengan pergerakan signifikan dari dua klub papan atas Super League. Dua rival abadi, Persib Bandung dan Persija Jakarta, sukses menggaet pemain berlabel Timnas Indonesia yang juga berstatus sebagai pemain keturunan pada paruh kedua musim ini.
Maung Bandung, julukan Persib, membuat kejutan dengan mendatangkan pemain Timnas U-23 Indonesia, Dion Markx. Pemain muda berbakat ini ‘dibajak’ dari NEC Nijmegen U-21 dan diikat kontrak jangka panjang hingga 31 Mei 2028. Pengumuman Markx bahkan dilakukan bersamaan dengan kedatangan mantan bintang Paris Saint-Germain, Layvin Kurzawa, yang semakin memanaskan bursa transfer.
Tak kalah mencuri perhatian, Macan Kemayoran, Persija Jakarta, juga melakukan langkah berani dengan merekrut Shayne Pattynama. Bek kiri Timnas Indonesia ini memilih kembali ke tanah leluhurnya setelah sebelumnya memperkuat Buriram United di Thailand. Pattynama menandatangani kontrak hingga Juni 2028 dengan opsi perpanjangan, menunjukkan komitmen jangka panjangnya di ibu kota. Kehadiran Markx dan Pattynama menambah daftar panjang pemain keturunan yang memilih berkarier di kompetisi lokal, mengikuti jejak Thom Haye, Eliano Reijnders, Rafael Struick, dan Jens Raven yang telah lebih dulu merasakan atmosfer sepak bola Indonesia.
Fenomena ini sontak menarik perhatian pelatih Skuad Garuda, John Herdman. Dengan tegas, Herdman menyatakan tidak mempermasalahkan kehadiran pemain keturunan di kompetisi domestik. Bahkan, ia melihat tren ini sebagai langkah krusial dan sangat penting untuk kemajuan Timnas Indonesia.
Menurut Herdman, keputusan para pemain tersebut untuk merumput di Tanah Air mempermudah akses tim pelatih ke talenta-talenta yang sebelumnya berkarier di Eropa. Akses yang lebih mudah ini tidak hanya menguntungkan dari sisi pemantauan, tetapi juga membawa nuansa dan standar permainan baru yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan kompetisi lokal. “Saya pikir itu penting bahwa kami dapat mengakses pemain kami dari Eropa yang memberikan tampilan berbeda secara nuansa dan standar,” jelas John Herdman, menekankan dampak positif kedatangan mereka.
Lebih dari sekadar akses dan standar, Herdman juga menyoroti aspek adaptasi pemain. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa sang pelatih kerap ‘blusukan’ dan mengamati langsung geliat Liga Indonesia. Bagi Herdman, sangat penting bagi para pemain keturunan ini untuk terbiasa dengan iklim khas Indonesia yang unik, terutama tingkat kelembaban yang sangat tinggi. Adaptasi ini krusial, khususnya untuk mengantisipasi pertandingan Timnas Indonesia yang sering digelar pada sore hari saat matahari masih bersinar terik.
“Penting juga bagi pemain untuk terbiasa dengan kondisi di sini,” ujar Herdman. Ia menjelaskan lebih lanjut, “Kondisi di sini sangat unik, kelembaban panas, dan saya pikir untuk pemain Eropa berlatih di sini secara konsisten itu sangat penting.” Latihan dan bermain secara rutin di lingkungan seperti ini akan membantu mereka membangun tingkat toleransi fisik yang kuat, minggu demi minggu. “Tingkat toleransi fisik yang bisa mereka bangun, minggu demi minggu, itu memberikan kami kekuatan dan kedalaman skuad. Menurut saya, itu yang kami butuhkan,” pungkasnya, menegaskan betapa berharganya adaptasi ini bagi kekuatan dan kedalaman Skuad Garuda.
Memperkuat timnas dengan fondasi pemain yang adaptif dan berkualitas tinggi menjadi semakin relevan mengingat ketatnya persaingan di kancah sepak bola regional. Sebagai contoh, Timnas Indonesia sering berada dalam grup yang kompetitif di berbagai turnamen, bahkan menghadapi lawan tangguh seperti Vietnam yang juga berambisi memamerkan skuad terbaiknya untuk ASEAN Cup 2026. Dalam konteks ini, setiap upaya untuk meningkatkan kualitas dan adaptasi pemain di liga domestik merupakan investasi berharga bagi performa timnas di masa depan.













