Isu penangguhan Israel dari kompetisi sepak bola internasional terus menjadi sorotan. UEFA, badan sepak bola Eropa, dikabarkan tengah mempertimbangkan pemungutan suara untuk membekukan keanggotaan Israel, menyusul gelombang kecaman global terhadap operasi militer mereka di Palestina.
Mengutip laporan AP News, UEFA sedang bergerak menuju pemungutan suara yang berpotensi mencabut hak federasi sepak bola Israel untuk berpartisipasi dalam seluruh kompetisi internasional.
Menurut dua sumber internal, mayoritas anggota komite eksekutif UEFA diperkirakan akan mendukung penangguhan ini. Jika langkah ini disetujui, Israel berisiko kehilangan kesempatan untuk tampil di berbagai ajang bergengsi, termasuk kualifikasi Piala Dunia.
Rencana ini muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional terkait konflik di Gaza yang menyebabkan jatuhnya banyak korban sipil. Pekan lalu, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, bahkan menyerukan agar Israel dilarang berpartisipasi dalam acara olahraga internasional, meniru sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia setelah invasi ke Ukraina pada tahun 2022.
Seruan serupa juga datang dari tujuh pakar independen PBB yang mendesak FIFA dan UEFA untuk menghentikan partisipasi Israel. Namun, posisi FIFA sendiri masih belum jelas. Presiden FIFA, Gianni Infantino, diketahui memiliki hubungan dekat dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Amerika Serikat, melalui Departemen Luar Negeri, telah menyatakan penolakannya terhadap segala upaya untuk melarang Israel tampil di Piala Dunia. Di sisi lain, sentimen publik yang menentang Israel semakin menguat.
Gelombang dukungan untuk Palestina juga terlihat di berbagai stadion di Eropa. Dalam pertandingan Liga Europa antara Maccabi Tel Aviv dan PAOK di Yunani, ribuan suporter membentangkan spanduk bertuliskan “Stop Genosida”. Selain itu, federasi sepak bola Norwegia berjanji untuk menyumbangkan keuntungan dari penjualan tiket pertandingan melawan Israel untuk bantuan kemanusiaan di Palestina. Aksi solidaritas ini menunjukkan dampak nyata dari isu tersebut di kalangan penggemar sepak bola dan organisasi olahraga.
Sementara itu, pejabat Israel, termasuk Menteri Olahraga Miki Zohar dan Ketua Federasi Sepak Bola Moshe Zuares, dilaporkan sedang melakukan lobi intensif untuk mencegah UEFA menjatuhkan sanksi. Lobi ini mencerminkan betapa seriusnya pemerintah Israel menanggapi ancaman penangguhan ini.
Penangguhan terhadap Israel akan menjadi pukulan telak bagi diplomasi olahraga negara tersebut. Lebih dari itu, hal ini akan mengirimkan pesan kuat bahwa dukungan dan solidaritas terhadap rakyat Palestina semakin menguat di panggung internasional. Sama seperti bagaimana Liverpool menemukan penyelamat dalam diri Federico Chiesa di Carabao Cup 2025, Israel berharap bisa menemukan jalan keluar dari situasi sulit ini.
Meskipun Arsenal merasa lega dengan perpanjangan kontrak William Saliba, dan Real Madrid mengalihkan perhatian mereka ke Ibrahima Konate, Israel menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dalam mempertahankan posisinya di dunia sepak bola. Sama halnya dengan empat klub top Eropa yang memulai musim tanpa kekalahan, dan Liverpool serta Real Madrid mencatatkan rekor sempurna, Israel berjuang untuk menjaga performanya di tengah badai politik dan kecaman internasional.
Ringkasan
UEFA dikabarkan sedang mempertimbangkan pemungutan suara untuk membekukan keanggotaan Israel dari kompetisi sepak bola internasional akibat operasi militer di Palestina. Mayoritas anggota komite eksekutif UEFA diperkirakan mendukung penangguhan ini, yang berisiko menghilangkan kesempatan Israel untuk tampil di berbagai ajang bergengsi seperti kualifikasi Piala Dunia.
Tekanan internasional meningkat, termasuk seruan dari Perdana Menteri Spanyol dan tujuh pakar independen PBB untuk menghentikan partisipasi Israel. Sementara Amerika Serikat menolak upaya pelarangan tersebut, dukungan untuk Palestina terlihat di berbagai stadion Eropa. Pejabat Israel dilaporkan sedang melakukan lobi intensif untuk mencegah sanksi UEFA.












