BANDUNG BARAT – Tim SAR gabungan masih terus berpacu dengan waktu, gigih melakukan pencarian terhadap korban yang hilang di lokasi longsor Cisarua. Tragedi memilukan ini melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), meninggalkan duka mendalam bagi banyak keluarga.
Memasuki hari keempat pencarian pada Selasa (27/1/2026), upaya heroik petugas membuahkan hasil. Sembilan kantong jenazah berhasil diangkut dari lokasi bencana, menambah total temuan menjadi 48 kantong jenazah yang telah diserahkan kepada Tim DVI. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, mengungkapkan, “Hingga pukul 18.00 WIB hari ini, Tim SAR gabungan menemukan 9 kantong jenazah.” Saat ini, jasad para korban masih dalam proses identifikasi mendalam, sementara sebagian yang sudah teridentifikasi telah diserahkan kembali kepada pihak keluarga untuk dikebumikan.
Namun, upaya pencarian ini tak berjalan mulus. Proses penyelamatan korban longsor Cisarua sempat beberapa kali dihentikan sementara akibat kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Hujan deras di lokasi kejadian menjadi hambatan utama yang memperlambat operasi. Para petugas pencarian sangat berharap modifikasi cuaca dapat segera diterapkan untuk memperbaiki kondisi, sehingga proses pencarian dapat berjalan lebih lancar dan efektif. “Cuaca ini menjadi hambatan dalam proses pencarian, ada modifikasi cuaca, mudah-mudahan, cuaca semakin membaik,” jelas Ade Dian, menyoroti tantangan yang dihadapi di lapangan.
Di tengah tantangan tersebut, Tim DVI juga terus bekerja tanpa lelah. Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, terpisah mengumumkan perkembangan positif. Tim DVI telah berhasil mengidentifikasi 30 kantong jenazah dari total yang diserahkan oleh Basarnas. “Di Pos DVI ini, alhamdulillah kita sudah berhasil mengidentifikasi 30 (kantong jenazah),” kata Hendra, memberikan sedikit titik terang di tengah kepedihan.
Bencana longsor dahsyat ini melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Skala kerusakan yang ditimbulkan sangat parah, dengan laporan sebanyak 30 rumah terkubur material longsor berupa lumpur tebal. Lebih lanjut, tragedi ini juga menelan korban dari kalangan aparat, di mana 23 personel TNI Marinir dikonfirmasi turut menjadi korban dan terkubur material lumpur, menambah daftar panjang mereka yang masih dalam pencarian.
Selain upaya pencarian dan identifikasi, perhatian juga tertuju pada kebutuhan mendesak para penyintas. Sejumlah korban yang terdampak longsor di Desa Pasirlangu kini menghadapi berbagai kesulitan, termasuk kehabisan pakaian. Di kantor desa yang dijadikan posko donasi kemanusiaan, tumpukan pakaian layak pakai menjadi harapan bagi mereka. Dengan sigap, warga korban longsor silih berganti menghampiri gundukan pakaian tersebut pada Selasa (27/1/2026), memilih baju dan celana yang bisa digunakan selama mereka berada di posko pengungsian.
Pakaian yang terkumpul dari donasi kemanusiaan tersebut telah dibongkar dari karung-karung, memudahkan para pengungsi untuk memilih sesuai kebutuhan mereka. Salah satunya adalah Tati (45), seorang korban longsor yang turut memanfaatkan bantuan ini. “Saya minta atasan, handuk, sandal dan daleman. Ini sudah dapat,” ujar Tati, saat ditemui di Kantor Desa Pasirlangu. Meskipun rumahnya tidak terlalu terdampak longsor, lokasinya yang berdekatan memaksa Tati dan keluarganya untuk mengungsi sejak hari Minggu. “Rumah alhamdulillah aman, tapi karena ngungsi sudah sejak hari Minggu, pakaian sudah habis,” curhatnya, menggambarkan realitas pahit yang dihadapi para penyintas.













