Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN) mengambil tindakan tegas dengan menonaktifkan Surya Utama, yang lebih dikenal sebagai Uya Kuya, dari jabatannya sebagai anggota DPR. Keputusan ini berlaku efektif sejak Senin, 1 September 2025. Wakil Ketua Umum PAN, Viva Yoga Mauladi, menyampaikan pengumuman ini melalui keterangan tertulis pada Minggu, 31 Agustus 2025.
“PAN mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang, bersabar, dan memberikan kepercayaan penuh kepada pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto,” ujar Viva Yoga.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia atas insiden penggerudukan rumah sejumlah legislator, termasuk kediaman Uya Kuya, oleh massa pada tanggal 30 Agustus 2025. Peristiwa ini menjadi puncak dari gelombang kekecewaan publik terhadap Uya Kuya.
Sorotan tajam terhadap Uya Kuya bermula ketika ia menanggapi kritik pedas atas aksi joget sejumlah anggota DPR dalam Sidang Tahunan MPR yang tengah menjadi perdebatan hangat. Dengan nada enteng, Uya Kuya berujar bahwa berjoget adalah hal yang wajar karena ia adalah seorang artis. “Lah, kita artis. Kita DPR kan kita artis,” cetusnya.
Pernyataan tersebut sontak memicu amarah di kalangan masyarakat. Apalagi, sebelumnya, rekan separtainya, Eko Patrio, juga menuai kecaman keras akibat mengunggah video parodi di media sosial. Rentetan kontroversi ini berujung pada hilangnya kepercayaan publik terhadap keduanya, dan berujung pada penonaktifan mereka dari kursi parlemen.
Rekam Jejak Seorang Uya Kuya
Sebelum terjun ke dunia politik yang penuh intrik, Uya Kuya telah menorehkan tinta emas di dunia hiburan tanah air. Lahir pada 4 April 1975, pemilik nama lengkap Surya Utama ini mengawali kariernya di dunia radio. Kemenangannya dalam Festival Tenda Mangkal Prambors di kategori akapela membuka jalannya menjadi penyiar radio selama lebih dari satu dekade, sebelum akhirnya melebarkan sayap ke dunia hiburan televisi.
Nama Uya Kuya semakin melambung ketika ia bergabung dengan grup vokal Tofu yang sangat populer di era 1990-an. Selain bernyanyi, ia juga sempat mencicipi dunia akting dengan membintangi sinetron Gerhana serta film Cinta 24 Karat (2003) dan Bad Wolves (2005).
Namun, puncak popularitasnya diraih dari dunia presenter. Acara-acara populer seperti Spontan, Uya Emang Kuya, Rumah Uya, hingga Pagi-Pagi Pasti Happy menjadikannya sebagai salah satu presenter terlaris di Indonesia. Ia bahkan berulang kali meraih penghargaan bergengsi seperti Panasonic Gobel Awards dan SCTV Awards untuk kategori presenter terfavorit.
Di luar gemerlap dunia hiburan, Uya Kuya juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang ulet. Ia pernah mencoba peruntungan di berbagai bidang bisnis kuliner, seperti Mr. Banana, restoran Jepang, spa, hingga usaha penangkaran ikan Louhan dan kucing ras.
Meskipun tidak semua bisnisnya berhasil bertahan lama, Uya Kuya tetap dikenal sebagai sosok yang pandai melihat peluang. Kehidupan pribadinya pun tak luput dari sorotan publik, khususnya melalui reality show yang menampilkan kesehariannya bersama istri, Astrid Khairunisha, dan kedua anak mereka, Cinta Kuya dan Nino Kuya.
Setelah meraih kesuksesan di panggung hiburan, Uya Kuya memutuskan untuk memasuki dunia politik. Pada Pemilu 2024, ia maju sebagai calon legislatif dari PAN, mewakili Daerah Pemilihan DKI Jakarta II yang meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan luar negeri.
Berkat popularitas yang telah diraihnya, Uya Kuya berhasil terpilih dan menduduki kursi DPR periode 2024–2029. Ia kemudian ditempatkan di Komisi XI DPR yang membidangi keuangan. Sayangnya, kehadirannya di Senayan lebih sering disorot karena gaya hidupnya yang nyentrik layaknya seorang artis dan aktivitasnya di media sosial, ketimbang kiprahnya dalam bidang legislasi.
Berdasarkan laporan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) yang diserahkan kepada KPK pada Juni 2024, Uya Kuya tercatat memiliki kekayaan sebesar Rp 26,47 miliar. Kekayaan ini didominasi oleh sembilan aset tanah dan bangunan senilai Rp 17,9 miliar. Selain itu, ia juga memiliki kendaraan, kas dan setara kas lebih dari Rp 5 miliar, serta berbagai aset bergerak lainnya. Kekayaannya yang fantastis ini mencerminkan keberhasilan karier panjangnya di dunia hiburan dan bisnis. Seperti yang dilansir dari Antara, 31 Agustus 2025.
Namun, perjalanan politiknya harus terhenti di tengah jalan. Dinonaktifkan oleh partai sejak 1 September 2025, langkah politik Uya Kuya terhenti akibat kontroversi yang memicu kemarahan publik. Impian yang kandas, menyusul kontroversi yang tak berkesudahan.
Eka Yudha Saputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Ringkasan
PAN menonaktifkan Uya Kuya dari jabatannya sebagai anggota DPR per 1 September 2025. Keputusan ini diambil setelah penggerudukan rumah Uya Kuya dan legislator lain oleh massa pada 30 Agustus 2025. Peristiwa ini merupakan puncak kekecewaan publik atas pernyataan Uya Kuya terkait aksi joget anggota DPR yang dianggap meremehkan.
Kontroversi ini bermula dari tanggapan Uya Kuya yang menyebut joget sebagai hal wajar karena ia adalah seorang artis. Pernyataan itu memicu amarah masyarakat, apalagi setelah kontroversi serupa dilakukan rekan separtainya, Eko Patrio. Rentetan peristiwa ini berujung pada hilangnya kepercayaan publik dan akhirnya penonaktifan Uya Kuya dari DPR.












