Bagi umat Islam di seluruh dunia, bulan suci Ramadan akan segera tiba. Awal puasa akan dimulai setelah matahari terbenam pada hari Selasa, 17 Februari, atau Rabu, 18 Februari, tergantung pada lokasi geografisnya. Penentuan tanggal awal Ramadan ini tidak statis setiap tahun karena Islam menggunakan sistem kalender berbasis siklus Bulan, yang dikenal sebagai kalender Hijriah. Akibatnya, Ramadan selalu bergeser mundur sekitar 11 hari dalam kalender Masehi dari satu tahun ke tahun berikutnya, menawarkan pengalaman puasa yang berbeda setiap masa.
Dalam ibadah puasa Ramadan, umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak waktu subuh atau matahari terbit hingga maghrib atau matahari terbenam. Aktivitas spiritual ini dijalankan setiap hari selama periode 29 hingga 30 hari.
Bagaimana geografi dan musim memengaruhi durasi puasa?
Durasi puasa harian sangat dipengaruhi oleh faktor geografi dan musim, menciptakan pengalaman yang bervariasi secara signifikan di berbagai belahan dunia. Saat ini, belahan bumi selatan sedang mengalami musim panas, yang berarti periode siang hari cenderung lebih panjang. Kondisi ini secara langsung berdampak pada durasi puasa yang menjadi lebih lama dibandingkan saat Ramadan jatuh pada musim dingin.
Sebaliknya, belahan bumi utara justru sedang berada dalam musim dingin, sehingga periode siang harinya lebih pendek. Hal ini tentu saja membuat durasi puasa di wilayah tersebut menjadi lebih singkat. Secara umum, semakin jauh suatu lokasi dari garis khatulistiwa, semakin ekstrem variasi durasi siang harinya. Pada musim panas, siang hari akan terasa sangat panjang, sedangkan pada musim dingin, malam hari akan mendominasi.
Perbedaan mencolok ini dapat dilihat dari beberapa contoh. Di Puerto Williams, Cile, yang sering disebut sebagai kota paling selatan di dunia, umat Islam akan berpuasa sekitar 14,5 jam, dimulai dari pukul 06:30 hingga 21:00 pada awal Ramadan tahun ini.
Namun, kontras ekstrem terjadi di Longyearbyen, Norwegia, salah satu permukiman permanen paling utara di dunia. Di sana, durasi puasa pada awal bulan suci diperkirakan hanya sekitar 2,5 jam, yakni antara pukul 10:50 dan 13:30. Untuk mengatasi durasi puasa yang terlampau panjang atau sangat pendek di daerah-daerah ekstrem seperti ini, umat Islam sering kali memilih untuk mengadopsi waktu puasa Mekkah sebagai panduan, demi menjaga keseimbangan dan kemudahan dalam beribadah.
Di belahan bumi utara, hari puasa terpanjang umumnya terjadi saat Ramadan bertepatan dengan sekitar tanggal 21 Juni, yang merupakan titik balik matahari musim panas. Sebaliknya, durasi puasa terpendek akan dialami ketika Ramadan mencakup tanggal 21 Desember, yaitu titik balik matahari musim dingin. Pola ini berbalik di belahan bumi selatan, di mana durasi puasa akan memanjang seiring bergesernya Ramadan secara bertahap ke bulan Desember setiap tahun, dan akan memendek ketika pergeserannya menuju bulan Juni.
Berapa jam umat Islam berpuasa dalam sehari?
Variasi durasi puasa juga terlihat jelas berdasarkan wilayah geografis. Di negara-negara Arab, misalnya, durasi puasa umumnya berkisar antara 12 hingga 13 jam setiap hari. Di kota suci Mekkah, awal Ramadan akan melihat umat Islam berpuasa selama sekitar 11,5 jam, dari pukul 06:50 hingga 18:20. Menjelang akhir bulan suci, durasi ini akan bertambah sekitar setengah jam.
Menariknya, umat Islam yang bermukim di kota-kota besar belahan bumi selatan akan merasakan durasi puasa yang lebih lama dibandingkan dengan saudara-saudari mereka di Timur Tengah. Sebagai contoh, di ibu kota Argentina, Buenos Aires, serta di Auckland, Selandia Baru, umat Islam harus berpuasa selama sekitar 13 jam 15 menit pada awal Ramadan.
Namun, durasi puasa di kedua kota ini akan berkurang sekitar satu jam pada akhir bulan suci, seiring dengan memendeknya periode siang hari di belahan bumi selatan pada kurun waktu tersebut. Sementara itu, di belahan bumi utara, durasi puasa menunjukkan variasi yang sangat signifikan. Di Nuuk, ibu kota Greenland, misalnya, puasa hanya berlangsung sekitar 9 jam pada awal Ramadan, namun durasi ini akan meningkat drastis menjadi lebih dari 12 jam pada akhir bulan.
Ramadan tahun ini terasa lebih mudah untuk dijalani dibandingkan ketika bulan suci jatuh pada periode Juni atau Juli. Pada bulan-bulan tersebut, durasi siang hari dapat memanjang secara dramatis, terutama di wilayah lintang utara. Di beberapa daerah seperti Norwegia, Rusia, dan Greenland, umat Islam bahkan bisa berpuasa hingga 20 jam saat Ramadan bertepatan dengan musim panas. Bahkan, dalam beberapa pengalaman ekstrem, durasi puasa dilaporkan bisa mencapai 22 hingga 23 jam, yang mengharuskan umat Muslim untuk melangsungkan sahur dan berbuka dalam rentang waktu yang sangat singkat, kadang hanya sekitar 55 menit. Ini memicu berbagai diskusi mengenai adaptasi dan bagaimana tubuh merespons puasa yang demikian panjang.
Di belahan bumi utara, durasi puasa tahun ini sedikit lebih pendek dibandingkan tahun lalu. Durasi ini akan terus menurun secara keseluruhan setiap tahun hingga mencapai puncaknya pada tahun 2031, saat Ramadan bertepatan dengan titik balik matahari musim dingin, sekitar tanggal 21 Desember. Sebaliknya, umat Islam di belahan bumi selatan akan mengalami peningkatan durasi puasa setiap tahun hingga periode yang sama di tahun 2031.
Sumber informasi matahari terbit dan terbenam: US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Global Monitoring Laboratory
Reportase tambahan oleh: Sergi Forcada Freixas, Andrew Webb, dan Ethar Shalaby




















