Di tengah gejolak harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah, Asosiasi Pengemudi Ojek Online (Ojol) Garda Indonesia menyerukan langkah strategis untuk efisiensi energi nasional. Mereka mendesak pemerintah untuk mengalihkan sebagian subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang ada ke program dukungan bagi pembelian sepeda motor listrik, sebuah inisiatif yang dianggap krusial untuk penghematan BBM.
Raden Igun Wicaksono, Ketua Umum Garda Indonesia, menegaskan perlunya kajian komprehensif dari pemerintah terkait proposal ini. Kajian tersebut harus mencakup skema pengalihan sebagian subsidi BBM menjadi subsidi pembelian sepeda motor listrik khusus bagi para pengemudi ojek daring. Lebih lanjut, Igun juga menekankan pentingnya penyediaan fasilitas pembiayaan yang terjangkau, termasuk program penukaran sepeda motor berbahan bakar minyak ke model listrik. Langkah ini bukan tanpa alasan kuat; Igun menyoroti peran vital ekosistem ojek daring sebagai pilar utama dalam rantai pasok barang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sebagai solusi transportasi penumpang yang efisien. Dengan perkiraan sekitar 7 juta pengemudi ojek daring di seluruh Indonesia, pengalihan subsidi ini dipandang sebagai strategi tepat sasaran untuk secara signifikan mengurangi ketergantungan negara pada impor BBM.
Oleh karena itu, asosiasi mendesak pemerintah untuk segera mengkaji dan mengimplementasikan kebijakan krusial ini. Salah satu aspek penting yang ditekankan adalah penyediaan skema pembiayaan kredit berbunga rendah yang terjangkau bagi para pengemudi ojek daring, guna mempercepat transisi menuju armada yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi.
Rekomendasi strategis dari Garda Indonesia ini muncul di tengah wacana dan implementasi kebijakan bekerja dari rumah (WFH) sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk penghematan. Igun sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran bahwa kebijakan WFH dapat berpotensi menurunkan pendapatan pengemudi dari layanan ride-hailing atau pengantaran penumpang hingga 10-30 persen. Namun, ia juga memprediksi adanya potensi peningkatan pendapatan dari sektor pengantaran makanan dan barang, yang menjadi penyeimbang.
Langkah-langkah efisiensi ini sejalan dengan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang menegaskan komitmen pemerintah untuk mengantisipasi dampak perang di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional. Salah satu kebijakan konkret adalah penerapan aturan WFH setelah Lebaran, baik bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun sebagai imbauan untuk sektor swasta. Kebijakan WFH ini rencananya hanya akan berlaku satu hari dalam sepekan, dan pemerintah akan berkoordinasi erat dengan Kementerian Ketenagakerjaan serta Kementerian Dalam Negeri untuk memastikan implementasinya berjalan efektif dan sesuai tujuan.
Pada intinya, kebijakan bekerja dari rumah merupakan salah satu upaya efisiensi yang diadopsi pemerintah untuk meredam dampak lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian ini, pemerintah memandang bahwa penghematan bahan bakar minyak (BBM) adalah suatu keharusan demi menjaga stabilitas ekonomi dan energi nasional.
Dengan berbagai strategi efisiensi, termasuk potensi pengalihan subsidi dan kebijakan WFH, perhatian besar juga tertuju pada kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menahan tekanan akibat terus meningkatnya harga minyak global. Ini menjadi pertanyaan krusial yang menentukan seberapa jauh ketahanan fiskal negara kita dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia.












