Ratusan juta umat Muslim di Indonesia telah merayakan hari raya Idulfitri yang penuh makna, jatuh pada Sabtu (21/03) dan sebagian pada Jumat (20/03). Perayaan agung ini selalu diawali dengan tradisi sakral salat berjemaah, yang memenuhi setiap sudut masjid dan lapangan terbuka sejak pagi hari, menyatukan jutaan jiwa dalam kekhusyukan dan kebersamaan.
Momen-momen spiritual dan kebersamaan yang mendalam tersebut terekam indah dalam serangkaian foto dari berbagai daerah di seluruh Nusantara. Uniknya, sebagian besar potret perayaan salat Idulfitri ini diabadikan dari ketinggian menggunakan teknologi drone, memberikan perspektif yang memukau atas lautan jemaah yang bersujud, membentang di bawah langit Indonesia.
Lebih dari sekadar ibadah, Idulfitri juga identik dengan tradisi tahunan mudik Lebaran yang tak terpisahkan. Kisah-kisah perjalanan pulang kampung dari berbagai penjuru Indonesia selalu menjadi sorotan, merepresentasikan ‘sebuah tradisi yang sulit dilewatkan’ untuk mempererat tali silaturahmi keluarga. Namun, semangat kebersamaan ini turut diiringi realitas ekonomi. Prediksi penurunan jumlah pemudik Lebaran tahun ini kembali mencuat, di tengah keluhan masyarakat bahwa ‘pendapatan sekarang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari’, menggambarkan tantangan yang dihadapi banyak keluarga.
Keragaman perayaan Idulfitri juga terlihat dari dinamika unik di beberapa daerah. Sebagai contoh, malam takbiran yang dilakukan oleh umat Islam pengikut Muhammadiyah sempat bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, menunjukkan toleransi dan harmoni keberagaman di Indonesia. Akan tetapi, sukacita Idulfitri tidak dirasakan merata. Di beberapa wilayah, seperti Aceh Tengah dan Pidie Jaya, para penyintas banjir harus merayakan dalam suasana keprihatinan yang mendalam. Kisah mereka menjadi pengingat pilu tentang pentingnya menjaga lingkungan, dengan seruan tulus ‘tolong jaga alam, jangan asal babat’ menggema sebagai refleksi dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat.














