Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) hingga mencapai 5,25% diproyeksikan akan memicu peningkatan biaya pinjaman di sektor perbankan. Kondisi ini secara alami mendorong masyarakat untuk mencari alternatif sumber pembiayaan yang lebih terjangkau, di mana layanan fintech peer-to-peer (P2P) lending, atau yang populer disebut pinjaman daring (pindar), kini semakin menjadi pilihan utama.
Pengamat ekonomi digital dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyoroti relevansi fintech lending sebagai solusi pembiayaan di tengah tekanan daya beli yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, kebutuhan finansial rumah tangga berpotensi meningkat seiring dengan tantangan ekonomi yang kian berat. Namun, lonjakan permintaan ini juga menghadirkan dilema bagi industri fintech lending itu sendiri.
“Ketika permintaan meningkat, tentu ada dua skenario utama: apakah kualitas pembiayaan akan meningkat, atau justru risiko gagal bayar yang membayangi akan ikut merangkak naik,” ungkap Nailul Huda kepada Kontan pada Kamis (28/5/2026). Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa menjaga kualitas pembiayaan adalah prioritas mutlak bagi para penyelenggara fintech lending. Langkah-langkah krusial yang harus diambil meliputi penguatan proses verifikasi calon peminjam, peningkatan validitas sistem credit scoring, serta pengetatan penyaringan data melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Upaya-upaya strategis tersebut sangat penting untuk memastikan portofolio pinjaman tetap terjaga kualitasnya di tengah dinamisnya permintaan. Lebih lanjut, Nailul juga meyakini bahwa pemanfaatan teknologi canggih seharusnya mampu meningkatkan akurasi credit scoring di industri fintech lending. Dengan demikian, proses penyaringan data melalui SLIK dapat berlangsung lebih cepat dan mitigasi risiko dapat berjalan lebih efektif, sejalan dengan pertumbuhan pesat permintaan akan pembiayaan.
Kondisi ini juga mencerminkan dinamika yang semakin intens di sektor keuangan, di mana persaingan aplikasi digital perbankan dan inovasi teknologi finansial terus memanas. Dalam konteks ini, pelaku industri fintech lending pun tidak tinggal diam dan terus memperkuat strategi pengelolaan risiko mereka. Salah satunya adalah PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), yang mengadopsi pendekatan unik dengan mengombinasikan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) dengan pendampingan langsung oleh tenaga lapangan untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan.
Harumi Supit, VP Public Relations Amartha, menjelaskan bahwa strategi mereka tidak hanya fokus pada penyaluran dana, melainkan juga pada peningkatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pendampingan di lapangan ini berfungsi vital dalam membekali mitra UMKM dengan kemampuan mengelola keuangan bisnis, mempelajari pembayaran digital, hingga berinvestasi mikro. Harumi menekankan bahwa tujuan utama adalah membantu UMKM di akar rumput agar lebih tangguh dalam menghadapi berbagai gejolak usaha. Hingga saat ini, Amartha telah berhasil menyalurkan pembiayaan produktif secara kumulatif sebesar Rp 46 triliun kepada sekitar 4 juta UMKM di seluruh Indonesia, membuktikan efektivitas pendekatannya.
Perkembangan pesat ini tidak terlepas dari laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menunjukkan bahwa outstanding pembiayaan fintech P2P lending telah menembus angka Rp 101,03 triliun per Maret 2026. Angka fantastis ini menandai pertumbuhan signifikan sebesar 26,25% secara tahunan (year on year/YoY), mengindikasikan tingginya kepercayaan dan permintaan terhadap layanan pembiayaan digital ini. Namun, pertumbuhan yang impresif ini turut diiringi dengan peningkatan risiko kredit.
OJK mencatat bahwa tingkat risiko kredit macet secara agregat, yang dikenal sebagai TWP90 (tingkat wanprestasi 90 hari), pada fintech P2P lending berada di level 4,52% per Maret 2026. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan posisi Maret 2025 yang tercatat sebesar 2,77%. Peningkatan risiko ini, bersama dengan gejolak pasar yang terkadang menekan hasil investasi di sektor finansial lainnya seperti asuransi syariah, menunjukkan perlunya kehati-hatian. Meskipun demikian, secara bulanan, kondisi TWP90 menunjukkan sedikit perbaikan, turun tipis dari 4,54% pada Februari 2026 menjadi 4,52% pada Maret 2026, memberikan secercah harapan bagi industri untuk terus berbenah.













