Peringatan dini telah dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia selama sepekan ke depan. Kondisi ini diperkirakan memicu peningkatan curah hujan dengan intensitas sangat lebat di berbagai lokasi, didorong oleh kombinasi kompleks fenomena atmosfer.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengonfirmasi bahwa curah hujan tinggi telah tercatat di beberapa wilayah dalam beberapa hari terakhir. “Hujan dengan intensitas sangat lebat teramati di Makassar (126,7 mm/hari), Jawa Barat (129,0 mm), Nusa Tenggara Timur (126,0 mm), dan Bali (120,0 mm),” ungkap Andri pada Selasa (13/1), menyoroti intensitas fenomena ini.
Pemicu Cuaca Ekstrem: Fenomena Monsoon hingga La Niña
Fenomena cuaca ekstrem ini, menurut Andri, bukan terjadi secara kebetulan. Berbagai dinamika atmosfer skala regional saling memperkuat, menciptakan kondisi yang mendukung peningkatan intensitas hujan.
Salah satu pemicu utama adalah penguatan Monsoon Asia, sebuah pola angin dominan yang membawa massa udara lembap dan angin kencang dari Laut Cina Selatan. Aliran udara ini bergerak menuju Pulau Jawa, melewati Selat Karimata, dan menciptakan daerah pertemuan angin atau konvergensi yang sangat ideal untuk memicu pertumbuhan awan hujan secara masif dan intensif.
Tidak hanya itu, keberadaan daerah tekanan rendah di timur Australia turut berperan signifikan. Kondisi ini mengakibatkan aliran udara di selatan Indonesia melambat dan naik secara berkelanjutan. Andri menambahkan, “Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian besar pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.”
Prakiraan Cuaca Sepekan ke Depan (13 – 19 Januari 2026)
Memasuki pertengahan Januari 2026, khususnya periode 13 hingga 19 Januari 2026, BMKG telah merilis prakiraan cuaca yang menunjukkan potensi berlanjutnya kondisi ekstrem ini. Pemantauan menunjukkan indikasi La Niña lemah yang masih aktif, ditambah dengan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang bergerak melintasi wilayah Indonesia Tengah hingga Timur, kian memperkuat potensi peningkatan curah hujan.
Berdasarkan analisis ini, sejumlah wilayah telah dikategorikan dalam status Siaga Hujan Lebat. Untuk periode 13 hingga 15 Januari, wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua Pegunungan. Sementara itu, pada periode 16 hingga 19 Januari, potensi hujan lebat diperkirakan beralih ke Sumatera Barat, Jawa Timur, NTT, dan Papua Pegunungan.
Tidak hanya hujan lebat, hampir seluruh provinsi di Indonesia, membentang dari Sumatera hingga Papua, juga diperkirakan berpotensi terdampak angin kencang. Selain itu, BMKG juga menyoroti keberadaan Bibit Siklon 91W di Samudra Pasifik utara Papua, yang dipantau mampu meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di sepanjang daerah konvergensi yang ada.
Imbauan Keselamatan dari BMKG
Dengan potensi bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat, BMKG tak henti-hentinya mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada dan lebih berhati-hati dalam merencanakan setiap aktivitas, baik di luar ruangan maupun perjalanan. Ini adalah langkah krusial untuk meminimalisir risiko yang mungkin timbul.
“Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, aktivitas wisata, dan perayaan malam pergantian tahun,” tegas Andri, menekankan pentingnya kewaspadaan dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
Kondisi cuaca ekstrem yang terus mengintai ini juga tercermin dari langkah BPBD Jawa Timur yang telah memperpanjang status Operasi Manajemen Cuaca (OMC) hingga akhir Januari 2026, menggarisbawahi bahwa ancaman hidrometeorologi masih akan berlangsung dan membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan. Ini menunjukkan skala dan durasi ancaman yang serius.
Untuk mendukung keamanan perjalanan Anda, khususnya bagi yang berencana menempuh jarak jauh, BMKG menyediakan layanan Digital Weather for Traffic (DWT). Layanan ini dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG atau laman signature.bmkg.go.id/dwt, memungkinkan Anda memantau kondisi cuaca di sepanjang rute perjalanan secara real-time dan membuat keputusan yang lebih aman.












