Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, dilaporkan terus meluas hingga mencakup area sekitar 60 hingga 90 hektare. Eskalasi ini dipicu oleh kombinasi cuaca panas ekstrem dan angin kencang yang mempercepat laju penyebaran api.
Dampak langsung dari bencana ini mulai dirasakan masyarakat, dengan kabut asap tebal menyelimuti permukiman warga di sekitar lokasi kebakaran. Otoritas terkait di Aceh mengidentifikasi pusat Karhutla berada di Desa Kayee Unoe, Kecamatan Darul Makmur, dan Babah Lueng, Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya.
Api mulai membakar lahan di kawasan tersebut sejak Kamis (29/05). Berbagai media melaporkan bahwa kebakaran telah meluas hingga 90 hektare. Namun, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagan Raya, luas area yang terdampak mencapai 60 hektare. Kepala BPBD Kabupaten Nagan Raya, Irfanda Rinaldi, pada Kamis (04/06), menyampaikan kekhawatiran bahwa “api berpotensi terus meluas”. Meskipun demikian, hingga Kamis tersebut, BPBD mengklaim telah berhasil memadamkan “sekitar 40 hektare”, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor berita Antara. Untuk mengatasi titik api yang sulit dijangkau, tim pemadam telah mengerahkan dua unit mesin pompa air portable.
Tim pemadam menghadapi sejumlah kendala serius di lapangan. Irfanda menjelaskan bahwa “cuaca panas yang ekstrem disertai angin kencang” menjadi tantangan utama yang menyebabkan kobaran api menyebar dengan cepat. Selain itu, keterbatasan sumber air juga menjadi hambatan signifikan bagi upaya pemadaman. Dengan melibatkan anggota TNI dan kepolisian, tim gabungan ini terus berjibaku di lokasi demi menyekat pergerakan api agar tidak mendekati permukiman warga.
Wartawan foto kantor berita Antara, Syifa Yulinnas, pada Kamis (04/06), juga melaporkan bahwa Karhutla ini telah menimbulkan “kabut asap tebal ke kawasan permukiman penduduk”. Kabut asap tersebut mulai terasa di beberapa titik permukiman di Kecamatan Darul Makmur dan Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Situasi ini diperparah oleh kondisi cuaca yang ekstrem, yang sering kali dikaitkan dengan fenomena iklim seperti El Nino yang dapat menyebabkan musim kemarau panjang dan suhu panas tinggi, menciptakan kondisi yang sangat rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan serta berpotensi mengancam sektor pertanian dengan ancaman gagal panen.
BPBD Nagan Raya telah mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Peringatan ini disampaikan mengingat kondisi kering saat ini “sangat rawan” memicu bencana kebakaran yang lebih luas dan sulit dikendalikan. Imbauan serupa juga disuarakan oleh Polda Aceh, yang juga sedang mengusut dugaan unsur kesengajaan di balik kasus-kasus kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut. Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, menegaskan pihaknya sedang “memburu terduga pelaku pembakaran” di beberapa wilayah, menunjukkan keseriusan dalam penegakan hukum.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengingatkan potensi meluasnya Karhutla di sejumlah wilayah di Aceh. Hal ini sejalan dengan “kondisi cuaca yang panas dan disertai angin kencang” yang menjadi pemicu utama percepatan penyebaran api, terutama pada wilayah dengan vegetasi kering dan mudah terbakar. Pada Selasa (02/06), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa api di sejumlah titik di Aceh belum sepenuhnya berhasil dipadamkan dan masih dalam proses penanganan. “Hasil pemantauan visual, api belum berhasil dipadamkan dan masih dalam penanganan. Diperkirakan api masih bisa meluas mengingat kondisi cuaca saat ini panas dan angin kencang,” jelasnya, dikutip dari Antara. Direktorat Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat eskalasi titik api terbesar saat ini terkonsentrasi di Kabupaten Nagan Raya, termasuk di Gampong Kayee Uneo, Kecamatan Darul Makmur, serta Gampong Babah Lueng, Kecamatan Tripa Makmur, seperti dilaporkan Kompas.com.
Selain Nagan Raya, kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di beberapa kabupaten lain di Aceh dalam waktu yang hampir bersamaan. Dilaporkan Antara pada Selasa (02/06), Karhutla turut melanda Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, serta Kabupaten Aceh Barat Daya. Sama seperti yang dialami tim pemadam di Nagan Raya, upaya pemadaman di kabupaten-kabupaten lain di Aceh juga terkendala oleh cuaca panas dan angin kencang. Karakteristik lahan, seperti adanya lapisan tanah yang menyimpan bara, disebut sebagai tantangan tambahan yang memperlambat proses pemadaman. Kondisi ini menuntut tim pemadam untuk tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga melakukan pendinginan secara menyeluruh guna mencegah terjadinya kebakaran susulan. Mengingat kompleksitas dan intensitas Karhutla yang seringkali meluas dan sulit dipadamkan, diperlukan strategi penanganan yang komprehensif, tidak hanya berfokus pada pemadaman tetapi juga pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku, terutama di tengah kekhawatiran akan kembali terulangnya bencana ini.













