Bulan Sabit Merah Iran pada Senin (2/3) merilis data terbaru yang sangat mengkhawatirkan mengenai korban jiwa akibat serangkaian serangan yang mereka klaim dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS). Laporan terkini menyebutkan bahwa ratusan orang telah kehilangan nyawa dalam eskalasi konflik yang memanas ini.
Kelompok kemanusiaan Iran itu, seperti dilansir AFP, menyatakan, “Kami melaporkan ada 131 kota di penjuru Iran diserang Zionis-AS sejak Sabtu (28/2). Ada 555 kompatriot kami tewas.” Angka mengerikan ini mencakup tragedi yang menimpa puluhan siswi sekolah dasar di Minab, Iran Selatan. Lebih lanjut, diperkirakan sekitar 160 korban tewas lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat serangan tersebut, menambah daftar panjang penderitaan yang terjadi.
Di tengah laporan memilukan ini, situasi di Timur Tengah tetap berada dalam kondisi yang sangat genting dan tegang. Belum ada tanda-tanda jelas yang mengindikasikan bahwa Israel dan Amerika Serikat akan mengurangi intensitas atau jumlah serangan mereka di wilayah tersebut, menunjukkan bahwa konflik kemungkinan akan terus berlanjut.
Iran sendiri tidak tinggal diam dalam menghadapi agresi ini. Sebagai respons balasan, Teheran terus melancarkan serangan yang menargetkan sejumlah Negara Teluk yang diketahui menjadi lokasi pangkalan militer AS, memperluas jangkauan konflik.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) turut melaporkan dampak dari eskalasi konflik ini di pihak mereka. CENTCOM mengonfirmasi bahwa tiga tentara AS telah gugur akibat serangan yang dilancarkan oleh Iran. Selain itu, beberapa personel militer lainnya juga mengalami luka-luka akibat ledakan, namun kini dilaporkan berangsur pulih dan telah kembali bertugas.
Melalui akun resmi X (sebelumnya Twitter), CENTCOM menjelaskan, “Saat ini situasinya masih cair, maka untuk menghormati keluarga, kami menahan informasi termasuk identitas tentara yang gugur.” Pernyataan ini menegaskan bahwa ketegangan di kawasan tersebut masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian, menambah kompleksitas konflik yang terus bergejolak di panggung geopolitik global.














