Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, memicu respons yang meluas di kawasan. Kelompok Hizbullah di Lebanon, yang mendapatkan dukungan penuh dari Iran, segera meluncurkan rentetan roket ke wilayah Israel. Serangan ini dilaporkan telah menewaskan setidaknya sembilan warga sipil, memicu pembalasan cepat dari Israel yang kini menyerukan evakuasi bagi penduduk di sejumlah desa di Lebanon.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah mengeluarkan perintah darurat kepada penduduk lebih dari 50 desa di Lebanon untuk segera mengungsi. Langkah ini diambil menyusul serangan roket bertubi-tubi yang diluncurkan Hizbullah. Israel juga telah mengevakuasi warga lanjut usia dari desa-desa tersebut, mengantisipasi eskalasi konflik yang lebih luas.
Situasi di Lebanon dilaporkan sangat mencekam, dengan kemacetan lalu lintas parah di berbagai ruas jalan saat ribuan warga bergegas meninggalkan rumah mereka. Seorang penduduk Lebanon mengungkapkan kepada BBC bahwa kondisi yang ada “sangat menyedihkan,” mencerminkan kepanikan dan ketidakpastian yang melanda masyarakat.
Sebelumnya, kota Beit Shemesh di Israel menjadi sasaran serangan rudal Iran yang mematikan, menewaskan sedikitnya sembilan orang, menurut layanan ambulans Israel. Peristiwa tragis ini menandai serangan paling mematikan terhadap Israel sejak konflik terbaru dimulai. Di sisi lain, Komando Pusat AS mengonfirmasi tewasnya tiga anggota militer AS dalam pertempuran tersebut, dengan lima lainnya dilaporkan “luka parah.”
Presiden Donald Trump sendiri telah memperingatkan bahwa “kemungkinan akan ada lebih banyak” korban jiwa dari pihak Amerika. Menanggapi situasi ini, Israel berjanji akan mengintensifkan serangan balasan terhadap Iran, sementara Trump menyatakan bahwa kampanye militer AS dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Ancaman terhadap stabilitas regional semakin nyata setelah Pangkalan Angkatan Udara Inggris (RAF) di Siprus juga menjadi sasaran “dugaan serangan drone” pada Minggu malam, sebagaimana disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Inggris.
Israel Imbau Warga Lebanon Mengungsi, Beirut Diguncang Ledakan
Meningkatnya eskalasi memaksa Israel untuk mengimbau warga di lebih dari 50 kota dan desa di Lebanon agar segera mengungsi. Peringatan keras ini disertai arahan bagi warga yang berada di daerah rawan untuk pindah setidaknya 1.000 meter ke area terbuka demi keselamatan mereka. “Demi keselamatan Anda, Anda harus segera mengungsi dari rumah Anda dan pindah setidaknya 1.000 meter dari desa ke area terbuka,” demikian bunyi peringatan tersebut, menambahkan bahwa “Siapa pun yang berada di dekat anggota Hizbullah, fasilitasnya, atau aset militernya mempertaruhkan nyawanya.”
Di ibu kota Lebanon, Beirut, warga dikejutkan oleh serangkaian ledakan dahsyat yang menggema di seluruh kota sesaat sebelum pukul 03.00 waktu setempat, menambah ketegangan yang sudah ada. Militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa mereka melancarkan serangan terhadap target-target Hizbullah sebagai respons atas tembakan roket kelompok yang didukung Iran itu ke Israel utara.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Hizbullah mengklaim bahwa serangan mereka merupakan tindakan pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Mereka menggambarkan serangan ke Israel tersebut sebagai “tindakan pembelaan diri yang sah,” seraya menegaskan telah meluncurkan “rentetan roket dan sejumlah besar drone” ke situs pertahanan rudal di wilayah utara Israel. Militer Israel telah mengonfirmasi serangan balasan tersebut, menyatakan bahwa aksi mereka bertujuan “melawan keputusan Hizbullah bergabung” dalam konflik dan tidak akan membiarkan kelompok tersebut “menjadi ancaman bagi negara Israel dan membahayakan warga sipil di Israel utara.”
Ironisnya, Israel dan Lebanon sejatinya telah menyepakati gencatan senjata yang dimediasi oleh AS pada tahun 2024, mengakhiri lebih dari setahun pertempuran sengit dengan Hizbullah. Namun, sejak kesepakatan itu, kedua pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata. Terlepas dari perjanjian tersebut, Israel secara konsisten melancarkan serangan hampir setiap hari di Lebanon, menargetkan posisi-posisi yang mereka klaim terkait dengan Hizbullah.
Rudal Iran Hantam Kota Beit Shemesh, Israel
Serangan rudal Iran yang menghantam kota Beit Shemesh di Israel tidak hanya menewaskan sedikitnya sembilan orang, tetapi juga menjadikannya serangan paling mematikan bagi Israel sejak konflik ini pecah. Dampak konflik ini segera terasa di sektor ekonomi global. Harga saham maskapai penerbangan di Asia Pasifik merosot tajam, diakibatkan oleh serangan Iran yang melumpuhkan bandara di negara-negara tetangganya. Sementara itu, harga minyak dunia melonjak drastis setelah sejumlah kapal diserang di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak global. Anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) telah menuduh Iran melanggar kedaulatan mereka. Serangan udara yang menyebar di seluruh kawasan Teluk telah menciptakan gangguan ekonomi yang meluas di seluruh wilayah, sebagaimana dilaporkan oleh para jurnalis.
Hizbullah Luncurkan Rudal dan Drone ke Israel
Hizbullah telah secara terbuka mengonfirmasi peluncuran rudal dan drone dari Lebanon menuju Israel. Pernyataan ini muncul tak lama setelah militer Israel mengumumkan serangan mereka terhadap target-target di Lebanon, sebagai respons terhadap serangan rudal Hizbullah sebelumnya. Kelompok tersebut menegaskan bahwa aksi mereka adalah bentuk pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS dan Israel. Militer Israel mengonfirmasi bahwa proyektil-proyektil tersebut jatuh di area terbuka di wilayah Israel, menghindari korban lebih lanjut.
Dugaan Serangan Drone di Pangkalan Militer UK di Siprus
Konflik juga menyentuh kepentingan internasional, dengan Pangkalan Angkatan Udara Inggris (RAF) di Siprus dilaporkan menjadi sasaran “dugaan serangan drone” pada Minggu malam, menurut Kementerian Pertahanan Inggris. Angkatan bersenjata Inggris segera merespons serangan di RAF Akrotiri tersebut sekitar tengah malam waktu setempat. Beruntung, sejauh ini tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa “Perlindungan pasukan kami di wilayah tersebut berada pada tingkat tertinggi.” Kejadian ini terjadi setelah Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, memperingatkan bahwa pasukan dan warga sipil Inggris di Timur Tengah berisiko terkena “serangan tanpa pandang bulu” oleh Iran, sebuah ancaman yang semakin nyata setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat dalam serangan udara yang melibatkan AS dan Israel.
Dalam konteks ketegangan global ini, peran potensi mediasi internasional menjadi sorotan. Presiden Prabowo Subianto sempat menawarkan diri untuk menjadi juru runding dalam konflik AS-Israel dengan Iran. Namun, tawaran ini dipandang oleh sebagian pihak sebagai “sangat tidak realistis” mengingat kompleksitas dan sensitivitas situasi yang sedang berlangsung.














