TEL AVIV – Gelombang serangan balasan Iran ke Israel terus berlanjut tanpa henti. Hingga Ahad malam, dilaporkan puluhan warga Israel menjadi korban, baik tewas maupun terluka, menimbulkan kekhawatiran serius akan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Puncak dampak serangan tersebut terjadi di kota Beit Shemesh, Israel tengah, sekitar 30 km sebelah barat Yerusalem. Serangan rudal balistik Iran di sana telah mengakibatkan sedikitnya sembilan orang tewas dan sekitar 20 lainnya terluka. Juru bicara layanan ambulans Magen David Adom, Zaki Heller, secara tegas menyatakan dalam siaran televisi, “Sembilan orang tewas dalam serangan langsung di Beit Shemesh.” Insiden ini menandai jumlah korban tertinggi sejak Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu lalu, seperti yang dilaporkan oleh Aljazirah.
Menanggapi serangan mematikan tersebut, Tentara Israel segera bergerak cepat. Dalam sebuah pernyataan melalui Telegram, mereka mengonfirmasi bahwa pasukan pencarian dan penyelamatan, didukung oleh tim medis serta helikopter evakuasi korban, telah dikerahkan ke lokasi dampak. Upaya penyelamatan masih berlangsung intensif untuk mengevakuasi warga yang mungkin terjebak di bawah reruntuhan, sehingga muncul kekhawatiran besar bahwa jumlah korban tewas maupun luka akan terus bertambah.
Beit Shemesh, sebuah kota yang berkembang pesat yang terletak di antara Yerusalem barat dan Yafa, menjadi sasaran empuk, dengan laporan menunjukkan bahwa rudal menghantam rumah-rumah tua yang dibangun di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, salah satu tempat perlindungan di area tersebut juga tidak luput dari dampak serangan. Di tengah kekacauan, muncul pertanyaan krusial mengapa sirene peringatan tidak berbunyi di Beit Shemesh, menyoroti celah dalam sistem pertahanan Israel.
Kejadian di Beit Shemesh menggarisbawahi salah satu risiko besar yang harus ditanggung Israel dengan memulai konflik langsung melawan Iran. Rudal-rudal Iran terus menghujani kota-kota di Israel. Meskipun Israel berupaya mencegat setiap rudal yang datang sebagai respons pertahanan, insiden di Beit Shemesh dan Tel Aviv menunjukkan bahwa risiko kegagalan intersepsi masih ada, menempatkan warga sipil dalam bahaya besar.
Dampak serangan balasan Iran tidak hanya terbatas di Israel, tetapi juga meluas ke kawasan Teluk. Di Uni Emirat Arab (UEA), setidaknya tiga orang tewas dan 58 lainnya terluka sejak Iran memulai kampanye pembalasannya sebagai respons atas serangan AS dan Israel. Kementerian Pertahanan UEA melaporkan bahwa mereka mendeteksi 165 rudal balistik, berhasil menghancurkan 152 di antaranya, serta mencegat dua rudal jelajah. Selain itu, sebanyak 541 drone Iran terdeteksi, dengan 506 di antaranya berhasil dicegat dan dihancurkan. Tiga korban jiwa di UEA berasal dari Pakistan, Nepal, dan Bangladesh, menunjukkan keragaman korban dalam konflik regional ini.
Tak hanya UEA, Kuwait juga merasakan imbasnya. Kementerian Kesehatan Kuwait mengumumkan bahwa satu orang tewas dan 32 lainnya luka-luka “akibat perkembangan terkini di wilayah tersebut.” Para korban segera dilarikan dan mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit al-Adan, mempertegas cakupan geografis konflik yang semakin meluas.













