News Stream Pro
No Result
View All Result
Saturday, June 13, 2026
  • Login
  • Home
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Traveling
Subscribe
News Stream Pro
  • Home
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Keuangan
  • Traveling
No Result
View All Result
News Stream Pro
No Result
View All Result
Home sports

Vanenburg: Biang Kerok Timnas U-23 Gagal ke Piala Asia?

by demo-nspro
September 13, 2025
in sports
0
Vanenburg: Biang Kerok Timnas U-23 Gagal ke Piala Asia?
152
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Laga terakhir Timnas U-23 Indonesia di Grup J Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 menjadi momen yang pahit. Kekalahan tipis 0-1 dari Korea Selatan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa malam, 9 September 2025, memastikan Garuda Muda gagal melaju ke putaran final.

Seusai pertandingan, Pelatih Gerald Vanenburg memberikan kesempatan luas kepada awak media untuk bertanya. “Hari ini Anda boleh bertanya lebih banyak,” ujarnya didampingi Matias Ibo, penerjemah sekaligus mantan fisioterapis timnas Indonesia di era 2010-an.

Menariknya, tak ada nada penyesalan dalam komentar Vanenburg terkait kegagalan timnya. Menurut pelatih asal Belanda itu, menyalahkan para pemain yang telah berjuang keras sejak 3 September lalu bukanlah tindakan yang bijak.

Sejak peluit awal dibunyikan, Kadek Arel Priyatna dan rekan-rekannya langsung tampil menekan, termotivasi oleh target kemenangan yang menjadi harga mati untuk lolos ke Piala Asia U-23 2026. Bahkan, ancaman sudah ditebar saat laga baru berjalan 30 detik. Sayang, umpan silang Rayhan Hannan dari sayap kanan belum mampu dimanfaatkan dengan baik karena rekannya terlambat bergerak.

Namun, terlalu asyik menyerang justru membuat Timnas U-23 Indonesia kewalahan menghadapi serangan balik cepat Korea Selatan. Gawang Cahya Supriadi akhirnya bobol pada menit keenam. Umpan Lee Seungwon dari dalam kotak penalti berhasil disambar Hwang Doyun, yang sepakannya sempat membentur mistar sebelum bersarang di gawang.

Cahya Supriadi sebenarnya tampil gemilang dengan melakukan sembilan penyelamatan. Sayangnya, kegagalan lini depan dalam mencetak gol membuat Indonesia harus menerima kekalahan.

Hasil ini menempatkan Indonesia di posisi kedua klasemen Grup J dengan empat poin, hasil dari dua laga sebelumnya yang berakhir imbang 0-0 melawan Laos dan kemenangan 5-0 atas Makau. Sementara itu, Korea Selatan melenggang mulus ke Piala Asia U-23 2026 dengan rekor sempurna, mencetak 13 gol tanpa kebobolan, termasuk kemenangan 5-0 atas Makau dan 7-0 atas Laos.

Dalam kesempatan tersebut, Vanenburg juga menyampaikan evaluasi performa para pemainnya. Kekalahan ini, menurutnya, tidak hanya disebabkan oleh faktor di lapangan, tetapi juga oleh kegagalan membangun sistem sepak bola yang terstruktur melalui pembinaan usia dini yang merata.

Vanenburg menekankan bahwa pembinaan berjenjang seharusnya tidak hanya terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, tetapi juga harus menjangkau seluruh pelosok daerah. Dengan demikian, pencarian bibit-bibit bertalenta akan lebih mudah, dan impian membangun sepak bola Indonesia tidak akan terkubur.

Pertandingan melawan Laos yang berakhir imbang juga menjadi faktor krusial yang menggagalkan langkah Garuda Muda ke Piala Asia. Dalam laga tersebut, Rafael Struick dan kawan-kawan gagal mencetak gol akibat penyelesaian akhir yang buruk, mentalitas yang kurang kuat, dan minimnya kreativitas serangan, seperti yang diakui oleh sang pelatih.

Hasil imbang tanpa gol melawan Laos pada laga pembuka tersebut membuat Indonesia kehilangan dua poin berharga yang sebenarnya bisa membantu mereka bersaing di jalur empat *runner-up* terbaik. Meskipun mendominasi penguasaan bola hingga 70-77 persen dan mencatatkan 13-35 tembakan (7-13 tepat sasaran), Jens Raven dan rekan-rekannya gagal mengkonversi satu pun menjadi gol. Para penyerang terlihat tumpul dan kurang variasi dalam serangan, terutama di sepertiga akhir lapangan.

Dua penyerang Timnas U-23 Indonesia, Rafael Struick dan Jens Raven, yang diharapkan menjadi mesin gol, gagal memanfaatkan peluang yang ada. Rafael dinilai kurang tajam dalam memanfaatkan kesempatan di area berbahaya lawan, sementara Jens kesulitan menembus pertahanan rapat Laos.

Vanenburg mengkritik penyelesaian akhir timnya yang sangat buruk. Banyak peluang emas, termasuk tembakan dari jarak dekat dan situasi satu lawan satu, yang gagal dikonversi menjadi gol. Para pemain dinilai kurang tenang dan kurang akurat di depan gawang, masalah yang terus berulang sejak Piala AFF U-23 2025.

Usai pertandingan melawan Laos, Vanenburg mengatakan bahwa tim lawan hanya berusaha bertahan, namun kelemahan Indonesia justru membuat laga berakhir imbang. “Mereka (Laos) secara permainan kurang bagus. Tapi kita lebih buruk. Kita harus menanggung (risiko) sekarang,” ujarnya seusai laga pada 3 September lalu, seperti dikutip *Antara*.

Pengamat sepak bola, Supriyono Prima, memiliki penilaian serupa. Menurutnya, lini depan Timnas U-23 Indonesia tumpul. “Artinya minim pemain yang punya kreativitas di satu per tiga pertahanan lawan,” kata mantan pemain Timnas Indonesia era Primavera ini pada Kamis, 4 September lalu.

Supriyono menambahkan bahwa pemain sayap yang membantu serangan juga tampil kurang maksimal. Para pemain di lini tengah dan area sayap lapangan tampak buntu dan kesulitan merancang serangan dengan matang. Selain itu, pemain sayap cenderung bermain ke dalam dan terkesan monoton. “Pattern-nya *coach* Gerald kurang optimal,” katanya.

Bangkit di Satu Laga

Setelah hasil mengecewakan melawan Laos, Timnas U-23 Indonesia bangkit saat menghadapi Makau pada pertandingan kedua, 6 September 2025. Pasukan Vanenburg berhasil meraih kemenangan telak 5-0.

Melawan tim asuhan Kar-Lok Kenneth Kwok ini, Indonesia tampil mendominasi. Gol pertama tercipta pada menit ke-3 melalui gol bunuh diri kapten Makau, Lek-Hang Ieong, akibat salah mengantisipasi umpan silang dari Rahmat Arjuna. Gol kedua datang pada menit ke-17, ketika Arkhan Fikri memanfaatkan bola muntah dari kesalahan bek lawan untuk menjebol gawang.

Di babak kedua, Indonesia semakin menggila. Rayhan Hannan mencetak gol ketiga melalui tendangan keras dari kemelut di depan gawang pada menit ke-47. Kemudian, Zanadin Fariz dan Rafael masing-masing mencetak gol pada menit ke-68 dan ke-74.

Makau tampil defensif dengan formasi 5-3-2 sepanjang laga, namun gagal menahan gempuran serangan Indonesia yang dipimpin Arkhan sebagai poros tengah. Kemenangan besar ini memuaskan Vanenburg. Meski demikian, ia mengingatkan pasukannya untuk tidak terlena dalam euforia karena mereka harus segera bersiap menghadapi laga krusial melawan Korea Selatan. “Kemenangan ini harus dirayakan, tapi cukup sesaat saja. Jangan terlalu euforia, fokus ke Korea Selatan karena kami harus menang untuk lolos,” ujarnya.

Jejak Gerald Vanenburg

Gerald Mervin Vanenburg, sang pelatih, merupakan salah satu pemain andalan timnas Belanda di masa jayanya. Ia mencatatkan 42 *caps* dengan satu gol untuk *Oranje*.

Vanenburg melakoni debut di timnas Belanda pada 14 April 1982 dalam laga persahabatan melawan Yunani, yang berakhir dengan kemenangan 1-0. Pada Piala Dunia 1990, ia tampil 45 menit dalam hasil imbang 1-1 melawan Mesir, meskipun Belanda akhirnya tersingkir di babak 16 besar.

Selama periode 1980-1986 bersama Ajax, Vanenburg tampil dalam 173 pertandingan dan mencetak 64 gol. Ia menjadi pemain kunci, memberikan banyak *assist* untuk penyerang seperti Marco van Basten dan Wim Kieft. Ia membantu Ajax meraih tiga gelar juara Eredivisie berturut-turut (1982-1985) dan satu KNVB Cup.

Setahun kemudian, Vanenburg pindah ke rival Ajax, yaitu PSV Eindhoven, di mana ia menghabiskan tujuh musim (1986-1993). Di PSV, ia bermain 199 kali dan mencetak 48 gol. Pada 1988, ia menjadi salah satu dari lima pemain Eropa yang memenangkan empat trofi dalam satu tahun: tiga dengan klub, satu dengan tim nasional, bersama rekan seperti Berry van Aerle dan Ronald Koeman.

Setelah pensiun pada 2000, Vanenburg memulai karier kepelatihan sebagai manajer tim muda PSV (2000-2005). Ia sempat menangani TSV 1860 Munich selama tiga bulan pada April 2004, dan mengarsiteki FC Eindhoven pada Januari-Maret 2008. Transisinya ke Indonesia menandai babak baru dalam kariernya, membawa pengalaman Eropa ke sepak bola Asia Tenggara.

Pada 24 Januari 2025, Vanenburg ditunjuk sebagai pelatih kepala Timnas U-23 Indonesia sekaligus asisten pelatih tim senior di bawah Patrick Kluivert. Penunjukan ini terjadi setelah PSSI tidak memperpanjang kontrak Shin Tae-yong asal Korea Selatan setelah menangani tim Merah Putih selama hampir lima tahun.

Debut Vanenburg sebagai pelatih Timnas U-23 Indonesia bertepatan dengan Piala AFF U-23 2025. Namun, ia gagal membawa Indonesia menjadi juara setelah dikalahkan Vietnam 1-0 di final. Berdasarkan *Transfermarkt*, hingga 9 September 2025, *win rate*-nya sebagai pelatih Timnas U-23 adalah 37,50 persen dari 8 laga.

Kekalahan Lawan Korea Selatan

Kemenangan telak atas Makau membangkitkan motivasi Timnas U-23 Indonesia untuk mengalahkan Korea Selatan di laga pamungkas grup. Skuad Garuda Muda bermain dengan semangat tinggi, dan lini pertahanan tampil menjanjikan dengan penampilan gemilang kiper Cahya Supriadi. Namun, kebobolan di menit keenam dan kegagalan mencetak gol balasan membuat tim Merah Putih gagal melaju ke Piala Asia U-23 2026 di Arab Saudi pada Januari mendatang.

Meskipun beberapa kali berhasil menembus pertahanan Korea Selatan di babak pertama, Indonesia minim variasi dalam serangan. Umpan-umpan pendek atau serangan dari sayap sering kali terbaca oleh bek lawan, sehingga kurang efektif dalam menciptakan peluang di kotak penalti. Di sisi lain, pemain Korea Selatan memiliki keunggulan fisik dan stamina yang prima, membuat Indonesia sulit mengembangkan serangan balik yang efektif, terutama di babak kedua ketika energi pemain Indonesia mulai menurun.

Indonesia berhasil menciptakan beberapa peluang, tetapi tidak mampu mengoptimalkannya menjadi gol, terutama setelah pergantian pemain di babak kedua dengan masuknya Jens Raven, Kakang Rudianto, dan Robi Darwis. Persoalannya terletak pada penyelesaian akhir yang tidak akurat. Peluang yang tercipta sering kali gagal dikonversi menjadi gol karena kurangnya ketepatan atau tekanan dari bek Korea Selatan.

Setelah unggul pada menit keenam, Korea Selatan mampu bermain lebih defensif dengan mengandalkan serangan balik. Taktik ini memaksa pasukan Vanenburg menyerang lebih agresif, tetapi dengan lawan yang memiliki pertahanan solid, Indonesia kesulitan menemukan ritme untuk menyamakan kedudukan.

Komentar Pengamat Rahmad Darmawan

Mantan pelatih Timnas U-23 Indonesia, Rahmad Darmawan, menilai bahwa Garuda Muda secara keseluruhan menguasai permainan saat menghadapi Korea Selatan, terutama dalam kontrol penguasaan bola dan kemampuan untuk terus bermain di daerah lawan.

Menurut Rahmad, ini merupakan sebuah kemajuan ketika pemain mampu menguasai jalannya pertandingan dan bermain di area lawan. Namun, keuntungan ini tidak diimbangi dengan kemampuan striker yang mampu menerapkan sejumlah taktik alternatif, terutama dalam menghadapi pertahanan kompak lawan. “Di antaranya menghadapi pertahanan kompak lawan,” kata dia kepada *Tempo* melalui aplikasi perpesanan pada Kamis, 11 September 2025.

Saat menghadapi pertahanan lawan yang kuat, taktik alternatif meliputi kombinasi umpan satu-dua, penetrasi individual yang dilanjutkan dengan permainan kombinasi, tembakan jarak jauh, dan permainan sayap dengan umpan silang berbahaya ke kotak penalti.

Beberapa umpan silang pemain sayap cukup berhasil, tetapi Rahmad menyayangkan bahwa peluang tersebut tidak didukung oleh striker dengan kemampuan menyundul bola lambung. “Kita tidak punya striker yang kuat menerima bola-bola atas,” tutur mantan pemain timnas Indonesia kelahiran Kota Metro, Lampung, 26 November 1966, itu.

Selanjutnya, ia menambahkan bahwa jumlah pemain yang menempati posisi depan untuk menerima umpan lambung dari sisi kanan atau kiri tidak cukup, sehingga sasaran bola tidak terkirim sempurna. Seharusnya para pemain berada di tiga titik penting: dekat tiang gawang, area tengah gawang, dan tiang gawang paling jauh. “Kemarin hanya ada satu pemain di posisi itu, dan lebih banyak pemain lawan, yang akhirnya bisa menghalau bola,” ucapnya.

Tidak adanya penyerang yang memiliki kualitas bermain satu-dua di Timnas U-23 Indonesia membuat lawan dengan mudah merampas bola dan melancarkan serangan balik. “Jujur, ya kita belum punya kualitas striker yang mampu bermain dengan serangan *one-two play*,” kata arsitek tim Indonesia All Star di Piala Presiden 2025.

Skuad Garuda juga tampak kesulitan melakukan tembakan jarak jauh karena blok pertahanan di lini belakang Korea Selatan cukup kuat, sehingga mampu menutup kesempatan anak buah Vanenburg melakukan tembakan jarak jauh.

Menyinggung soal serangan yang dilakukan, Rahmad menilai tim Merah Putih masih kurang dalam melakukan penetrasi ke gawang Korea Selatan. Penjagaan ketat di lini pertahanan membuat ruang penetrasi menjadi sempit. “Kemarin, sebenarnya hanya dua opsi paling efisien, yaitu kombinasi bermain dengan permainan *wing play*,” ujar pria 59 tahun tersebut.

Dua pemain yang dipasang sebagai penyerang utama, Jens dan Rafael, dinilai masih kurang memahami posisi kapan menerima umpan silang dari pemain sayap. Timnas U-23, menurut Rahmad, membutuhkan pemain gelandang yang kreatif bermain di area lawan, seperti Ricky Kambuaya, Egy Maulana Vikri, dan Marselino Ferdinan.

Dengan melihat performa Garuda Muda, Rahmad menilai ada dua alasan mengapa Vanenburg gagal membawa skuad Indonesia lolos ke Piala Asia U-23 2026, yakni skuadnya tidak mempunyai striker yang mampu mengadopsi permainan sesuai keinginannya dan waktu persiapannya kurang panjang. “Kalau Gerald Vanenburg gagal membawa tim ini ke Piala Asia di Arab Saudi, mungkin waktunya kurang,” kata dia.

Kegagalan Timnas U-23 Indonesia melaju ke Piala Asia U-23 2026 tentu menjadi evaluasi penting bagi perkembangan sepak bola usia muda di tanah air. Seberapa Besar Kans Timnas Indonesia Lolos ke Piala Dunia 2026? Pertanyaan ini menjadi relevan untuk terus memacu perbaikan dan peningkatan kualitas sepak bola Indonesia di semua level.

Ringkasan

Timnas U-23 Indonesia gagal lolos ke Piala Asia U-23 2026 setelah kalah 0-1 dari Korea Selatan. Pelatih Gerald Vanenburg tidak menyalahkan pemain, namun menekankan pentingnya pembinaan usia dini yang merata di seluruh daerah, bukan hanya di kota-kota besar. Kegagalan ini juga disebabkan hasil imbang melawan Laos pada laga pembuka, di mana penyelesaian akhir dan kreativitas serangan menjadi masalah utama.

Pengamat sepak bola menyoroti ketumpulan lini depan Timnas U-23 dan kurangnya pemain kreatif. Mantan pelatih Rahmad Darmawan menilai tim kurang memiliki striker yang mampu menerapkan taktik alternatif saat menghadapi pertahanan kompak lawan, serta kurangnya pemain dengan kemampuan *one-two play* dan sundulan bola. Ia menyimpulkan Vanenburg gagal karena kurangnya striker yang sesuai dan waktu persiapan yang minim.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Adu Irit SUV: Xpander Cross vs XL7 vs BR-V, Mana Terbaik?

Adu Irit SUV: Xpander Cross vs XL7 vs BR-V, Mana Terbaik?

June 29, 2025
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Iran: Kejutan Dunia!

Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Iran: Kejutan Dunia!

June 24, 2025
Rumput GBK Level Up Lapangan Kampung di Yogya! Hasilnya Bikin Melongo!

Rumput GBK Level Up Lapangan Kampung di Yogya! Hasilnya Bikin Melongo!

May 31, 2025
Gunung Kuda Longsor: Belasan Korban Diduga Tertimbun, Tim SAR Bergerak!

Gunung Kuda Longsor: Belasan Korban Diduga Tertimbun, Tim SAR Bergerak!

May 31, 2025
Harga iPhone 13 Pro & Pro Max Second Juni 2025: Worth It?

Harga iPhone 13 Pro & Pro Max Second Juni 2025: Worth It?

0
Rahasia Makeup Natural Flawless: 6 Tips Mudah untuk Pemula!

Rahasia Makeup Natural Flawless: 6 Tips Mudah untuk Pemula!

0
Deadline Dividen! 34 Emiten Cum Date Minggu Depan, Jangan Ketinggalan!

Deadline Dividen! 34 Emiten Cum Date Minggu Depan, Jangan Ketinggalan!

0
Terungkap! Alasan Malaysia Tolak Undangan Timnas Indonesia dari Erick Thohir

Terungkap! Alasan Malaysia Tolak Undangan Timnas Indonesia dari Erick Thohir

0
Pradiksi Gunatama (PGUN) Realisasi Belanja Modal Rp 26,6 Miliar per Mei 2026

Pradiksi Gunatama (PGUN) Realisasi Belanja Modal Rp 26,6 Miliar per Mei 2026

June 9, 2026
Jadwal siaran langsung Timnas Indonesia vs Mozambik, tayang jam berapa?

Jadwal siaran langsung Timnas Indonesia vs Mozambik, tayang jam berapa?

June 9, 2026
Harga emas hari ini stabil, investor wajib pantau inflasi AS dan Timur Tengah

Harga emas hari ini stabil, investor wajib pantau inflasi AS dan Timur Tengah

June 9, 2026
Kecewanya Hakim Danish usai tak selesaikan balapan Moto3 Hungaria 2026

Kecewanya Hakim Danish usai tak selesaikan balapan Moto3 Hungaria 2026

June 9, 2026

Recent News

Pradiksi Gunatama (PGUN) Realisasi Belanja Modal Rp 26,6 Miliar per Mei 2026

Pradiksi Gunatama (PGUN) Realisasi Belanja Modal Rp 26,6 Miliar per Mei 2026

June 9, 2026
Jadwal siaran langsung Timnas Indonesia vs Mozambik, tayang jam berapa?

Jadwal siaran langsung Timnas Indonesia vs Mozambik, tayang jam berapa?

June 9, 2026

Categories

  • Arts
  • autos
  • Careers
  • Crime
  • Education And Learning
  • entertainment
  • Family And Relationships
  • Fashion And Style
  • finance
  • Food And Drink
  • Gaming
  • General
  • health
  • Hobbies And Interests
  • Home And Garden
  • Lifestyle
  • Lifestyles
  • News
  • Personal Development
  • Pets And Animals
  • politics
  • Public Safety And Emergencies
  • Science
  • Shopping
  • Society Culture And History
  • sports
  • technology
  • travel
  • Uncategorized
  • Urban Infrastructure
  • War And Conflicts
  • Weather

Site Navigation

  • Home
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Privacy & Policy
  • Other Links

We bring you the best Auto Generate Content News for WordPress Plugins that perfect for news, etc. Check our landing page for details.

© 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Advertisement
  • Contact Us
  • Homepages
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5

© 2025