bali.jpnn.com, GIANYAR – Bali United kembali harus menelan pil pahit setelah gagal mengamankan tiga poin penuh di kandang sendiri pada laga pekan ke-23 Super League 2025-2026. Bertanding di Stadion Kapten Dipta, Gianyar, pada Sabtu (28/2) malam, Serdadu Tridatu dipaksa berbagi angka setelah ditahan imbang tanpa gol oleh tim tamu, Persijap Jepara. Pertandingan berakhir dengan skor kacamata 0-0, sebuah hasil yang tentu mengecewakan bagi tuan rumah yang berambisi meraih kemenangan.
Hasil minor yang diperoleh Bali United ini bisa dibilang wajar, mengingat strategi berani yang diterapkan oleh pelatih Persijap, Mario Lemos. Lemos berhasil meracik taktik yang digambarkan “gila”, dengan mengandalkan pertahanan solid namun pada saat yang sama para pemain Persijap sangat agresif dalam melancarkan serangan balik. Strategi jitu ini terbukti efektif, membuat lini pertahanan Bali United kewalahan dan harus pontang-panting untuk menyelamatkan gawang Mike Houptmeijer dari kebobolan.
Secara mengejutkan, Persijap Jepara tampil dominan dalam berbagai aspek statistik, layaknya sebuah tim tuan rumah. Mereka unggul dalam penguasaan bola, jumlah tembakan ke gawang, akurasi operan, hingga peluang yang tercipta. Laskar Kalinyamat berhasil menguasai 58 persen ball possession, jauh meninggalkan Bali United yang hanya mencatatkan 42 persen. Angka ini mencerminkan betapa efektifnya Persijap dalam mengontrol ritme pertandingan.
Dominasi statistik berlanjut pada catatan tembakan. Persijap mampu melepaskan 10 kali tembakan, dengan dua di antaranya tepat mengarah ke gawang. Ironisnya, Bali United yang mencatatkan delapan kali tembakan, tidak satu pun berhasil mengarah ke gawang yang dijaga Sendri Johansyah. Data ini tidak hanya menunjukkan solidnya pertahanan Persijap, tetapi juga menyoroti kurangnya ketajaman lini serang Bali United di laga tersebut.
Dalam urusan distribusi bola, Laskar Kalinyamat juga menunjukkan superioritas. Mereka sukses melakukan 420 kali passing, di mana 332 di antaranya berhasil dengan akurasi mencapai 80 persen. Sebaliknya, Bali United kesulitan membangun serangan dari operan, hanya mampu melakukan 313 kali passing dengan 238 yang berhasil dan akurasi yang lebih rendah, yakni 77 persen. Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana Persijap lebih efektif dalam sirkulasi bola dan membangun permainan.
Tidak hanya unggul dalam penguasaan dan operan, Persijap juga lebih berbahaya dalam menciptakan peluang gol. Mereka berhasil mencatat tujuh kali chances created, sementara Bali United hanya lima kali. Sebagai informasi, chances created adalah metrik yang menggabungkan total assist dan key passes (umpan kunci). Secara sederhana, seorang pemain tercatat menciptakan peluang apabila ia memberikan umpan terakhir yang langsung memicu terjadinya tembakan ke arah gawang, baik tembakan tersebut berbuah gol maupun tidak.
Selain itu, tim tamu juga menunjukkan agresivitas di area pertahanan lawan. Mereka mencatatkan 33 kali touches in opp. box, dibandingkan dengan Bali United yang hanya 24 kali. Touches in opp. box sendiri merupakan statistik yang menghitung berapa kali seorang pemain menyentuh bola di dalam area penalti tim lawan selama pertandingan, menjadi indikator utama seberapa aktif dan berbahaya tim dalam mengancam gawang lawan. Dominasi Persijap semakin nyata dengan 37 kali passes to final third, sedikit lebih banyak dari Bali United yang mencatat 35 kali. Passes to final third adalah jumlah operan sukses yang dikirimkan dari area pertahanan atau tengah lapangan masuk ke wilayah sepertiga akhir lapangan lawan.
Meskipun secara keseluruhan didominasi oleh lawan, Bali United menunjukkan keunggulan yang signifikan di sektor pertahanan mereka sendiri. Serdadu Tridatu berhasil mencetak 29 kali tekel, 28 kali intersep, dan 13 kali sapuan, menunjukkan daya juang mereka dalam menghentikan serangan lawan. Sementara itu, lini pertahanan Persijap juga tampil solid dengan 11 kali tekel, 35 kali intersep, dan 14 kali sapuan, menegaskan betapa ketat dan disiplinnya kedua tim dalam menjaga wilayah mereka. Hasil imbang tanpa gol ini tentu menjadi catatan evaluasi penting bagi Bali United dalam mengarungi sisa musim Super League 2025-2026, terutama untuk performa di kandang sendiri.












