Perlawanan gigih ganda putra debutan Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, di babak semifinal All England Open 2026, akhirnya harus kandas. Kekalahan ini sekaligus menutup asa Indonesia untuk meraih gelar juara di ajang bergengsi tersebut.
Impian Indonesia untuk membawa pulang trofi All England Open 2026 pupus setelah Raymond Indra/Nikolaus Joaquin takluk di semifinal yang berlangsung di Utilita Arena Birmingham, Inggris, pada Sabtu (7/3/2026). Pasangan muda ini menjadi satu-satunya wakil Merah Putih yang tersisa di babak empat besar, menghadapi tantangan besar dari ganda putra Korea Selatan.
Raymond/Joaquin, yang tampil sebagai debutan, menghadapi lawan tangguh, Kim Won-ho/Seo Seung-jae dari Korea Selatan. Pasangan Korea ini dikenal sebagai duo dominan yang telah menguasai sektor ganda putra sejak kembali berpasangan awal tahun lalu, dengan koleksi dua belas titel juara, termasuk gelar All England tahun sebelumnya. Ini menunjukkan betapa beratnya lawan yang harus dihadapi wakil Indonesia.
Pertarungan sengit dimulai dengan menjanjikan bagi Raymond/Joaquin. Mereka sempat memimpin 3-2 sebelum beberapa antisipasi yang terburu-buru membuat mereka tertinggal 3-7. Namun, semangat juang tak pudar; mereka berhasil membalikkan keadaan dengan menahan gempuran Kim/Seo, lalu melancarkan serangan atraktif hingga unggul 11-8 pada interval.
Kedua pebulu tangkis Indonesia ini menunjukkan kelincahan luar biasa, bergerak gesit di seluruh lapangan, melompat untuk menyambar bola tanggung, dan sigap mengadang pengembalian lawan di depan net. Sayangnya, keunggulan tersebut tak mampu dipertahankan. Setelah kembali tertinggal 16-18, Raymond/Joaquin sekali lagi menyamakan skor menjadi 18-18 melalui permainan berani dan penuh determinasi.
Pada momen krusial ini, Seo Seung-jae, yang diakui sebagai salah satu pemain ganda putra terbaik dunia saat ini, dipaksa bekerja keras menghadapi smes bertubi-tubi hingga harus menjatuhkan diri. Seo membalas dengan tipuan cerdik yang membuat Joaquin tersungkur. Namun, Joaquin belum menyerah, ia masih sempat menangkis tiga smes beruntun dalam posisi terlentang, sebelum kok akhirnya mengarah ke Raymond yang kurang siap. Reli dramatis tersebut mengubah skor menjadi 19-18 untuk keunggulan wakil Korea, dan pasangan muda Indonesia tidak lagi mampu membalikkan situasi. Gim pertama pun berakhir dengan kekalahan 19-21 bagi Raymond/Joaquin.
Memasuki gim kedua, perjuangan Raymond/Joaquin semakin berat. Ketegangan sebagai debutan di panggung sebesar All England tampak memengaruhi performa Raymond, yang beberapa kali terlihat menyemangati dirinya sendiri, dibantu oleh Joaquin yang tampil lebih berapi-api. Namun, Kim/Seo menunjukkan dominasi penuh. Serangan Raymond/Joaquin kesulitan menembus pertahanan kokoh pasangan Korea, dan variasi cerdik untuk mengubah ritme permainan kurang terlihat. Perjumpaan pertama Raymond/Joaquin dengan Kim/Seo harus usai dengan kekalahan telak 19-21, 13-21.
Meskipun demikian, pencapaian mereka menembus semifinal All England dalam debutnya dan berstatus underdog patut mendapat apresiasi tinggi. Namun, di balik capaian membanggakan tersebut, kekalahan ini juga mencatat rekor buruk bagi Indonesia. Untuk pertama kalinya sejak tahun 2011, atau selama 15 tahun, Indonesia tidak memiliki satu pun wakil di partai final All England Open. Sejak tahun tersebut, laga puncak All England selalu dihiasi kehadiran pebulu tangkis Tanah Air, kecuali pada edisi 2021 yang tidak dihitung karena seluruh pemain Indonesia dipaksa mundur akibat terpapar Covid-19.
Di partai final ganda putra, Kim Won-ho/Seo Seung-jae akan menghadapi pasangan peringkat dua dunia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik dari Malaysia. Pertemuan ini diprediksi menjadi satu-satunya final ideal di All England kali ini. Di bawah asuhan pelatih asal Indonesia, Herry Iman Pierngadi, Chia/Soh bertekad untuk meraih gelar All England pertama bagi ganda putra Malaysia sejak tahun 2007. Menariknya, Chia/Soh telah tiga kali mencapai final All England, namun dua di antaranya harus kandas di tangan wakil Indonesia, sebuah ironi mengingat absennya wakil Merah Putih di final kali ini.
REKAP SEMIFINAL ALL ENGLAND OPEN 2026
- XD: Guo Xin Wa/Chen Fang Hui (China/6) vs Thom Gicquel/Delphine Delrue (Prancis/5) 21-11, 18-21, 12-21
- MS: Lin Chun-Yi (Taiwan) vs Kunlavut Vitidsarn (Thailand/2) 21-14, 18-21, 21-16
- WD: Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong/7) vs Ye Hong Wei/Nicole Gonzales Chan (Taiwan) 21-16, 15-21, 13-21
- MS: Lakhsya Sen (India) vs Viktor Lai (Kanada) 21-16, 18-21, 21-15
- WD: Baek Ha-na/Lee So-hee (Korea/4) vs Pearly Tan/Thinaah Muralitharan (Malaysia/2) 21-17, 21-18
- XD: Liu Sheng Shu/Tan Ning (China) vs Jia Yi Fan/Zhang Shu Xian (China) 18-21, 21-17, 22-20
- WS: An Se Young (Korea/1) vs Chen Yu Fei (China/3) 20-22, 21-9, 21-12
- MD: Chen Bo Yang/Liu Yi (China) vs Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia) 11-21, 19-21
- WS: Akane Yamaguchi (Jepang/4) vs Wang Zhi Yi (China/2) 15-21, 19-21
- MD: Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea/1) vs Raymond Indra/Nikolaus Joaquin (Indonesia) 21-19, 21-13
Selain drama dan tantangan yang dialami wakil Indonesia, babak semifinal All England Open 2026 juga menyuguhkan berbagai kisah dan pencapaian fenomenal dari para pebulu tangkis dunia lainnya, memperkaya narasi turnamen bergengsi ini dengan beragam inspirasi dan torehan sejarah baru.













