Sorotan publik sepak bola Indonesia kini tertuju pada duel akbar antara Persib Bandung dan Persija Jakarta yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat, pada Minggu (11/1/2025). Pertandingan ini bukan sekadar laga biasa, melainkan pertemuan dua raksasa yang selalu memicu antusiasme luar biasa dari para suporter setia, Bobotoh.
Tak mengherankan jika gairah pendukung memuncak. Laga Persib vs Persija, yang kerap disebut sebagai El Clasico-nya Indonesia, memang menjadi salah satu duel terbesar dalam kancah sepak bola nasional. Rivalitas panjang yang telah terjalin antara kedua klub ini menjadi pemicu utama gejolak emosi dan semangat di setiap pertemuan. Bahkan, sosok pemain bintang seperti Thom Haye pun mengakui bahwa bentrokan Persib dan Persija merupakan salah satu rivalitas terpanas di dunia sepak bola, menambah dimensi prestise pada pertandingan ini.
Kepadatan dan gairah pendukung begitu terasa, terbukti dari pengumuman resmi Persib Bandung bahwa tiket pertandingan Persib vs Persija sudah ludes terjual sejak 6 Januari lalu. Pihak klub mengumumkan, “Antusiasme Bobotoh untuk laga PERSIB vs PERSIJA sungguh luar biasa. Per hari ini, tiket resmi untuk tribun Timur, Utara, Selatan, serta VIP telah habis terjual alias sold out, sesuai kapasitas dan regulasi yang berlaku.” Ini menunjukkan betapa tingginya keinginan Bobotoh untuk mendukung tim kesayangan mereka secara langsung di GBLA, apalagi dengan motivasi dari pihak Persija yang ingin mempermalukan Persib di kandangnya sendiri, hal ini semakin menambah panas tensi pertandingan.
Namun, di tengah euforia ini, masalah klasik kembali muncul: maraknya calo tiket. Fenomena ini ironisnya tetap terjadi meski tiket telah dinyatakan habis, membuka peluang bagi para calo untuk meraup keuntungan. Dampak buruknya pun mengintai, yakni potensi munculnya korban pembelian tiket palsu yang dapat merugikan para suporter setia.
Adhitia Putra Herawan, selaku Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, menyatakan kebingungannya menanggapi fenomena calo yang menjamur. “Kalau banyak calo yang jualan, tapi kami belum cetak, jadi jualan apa mereka,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tiket fisik baru dicetak H-1 pertandingan, bahkan baru tiba di kantor pada dini hari jelang laga. “Jadi kalau ada pertandingan hari Minggu, tiket itu baru nyampai jam 2 pagi,” tambahnya, menegaskan kerancuan klaim para calo yang sudah menjajakan tiket jauh-jauh hari.
Lebih lanjut, Adhitia mengungkap modus penipuan yang dilakukan calo tiket semakin beragam dan canggih. Ia menyoroti upaya pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang mencoba mencari keuntungan dari animo tinggi ini, termasuk dengan membuat situs web palsu atau berintegrasi ke sistem pembayaran bodong. “Mungkin teman-teman tahu ada yang bikin sampai website bodong, ada yang berintegrasi ke sistem payment,” jelasnya, memperingatkan Bobotoh agar selalu waspada terhadap praktik penipuan ini.
Menyadari sulitnya memberantas calo tiket hingga 100 persen, pihak Persib memilih fokus untuk meminimalisir potensi kerugian bagi Bobotoh. Berbagai langkah preventif telah diterapkan, salah satunya adalah dengan sistem tiket online yang mengaitkan satu KTP dengan satu ID dan satu tiket. Hal ini diharapkan dapat membatasi ruang gerak para calo yang kerap membeli tiket dalam jumlah besar.
Meskipun demikian, Adhitia mengakui tantangan yang ada. “Saya akan naif kalau bilang calo hilang 100 persen, yang bisa hilang yang saya tahu hanya meminimalisir,” katanya. Ia menggambarkan skenario di mana calo dapat membentuk grup dengan KTP dan email valid untuk membeli tiket masing-masing satu, lalu mengumpulkannya kepada satu orang untuk dijual kembali. Oleh karena itu, Persib sangat mengimbau Bobotoh untuk proaktif melaporkan jika menemukan aktivitas calo kepada tim customer service mereka. Bahkan, pada hari H pertandingan, tim akan menyisir area sekitar GBLA untuk mengidentifikasi apakah itu calo yang benar-benar menjual tiket asli atau justru tiket palsu, demi menjamin kenyamanan dan keamanan para suporter.













