Herve Renard, pelatih tim nasional Arab Saudi yang pernah menjadi momok bagi Timnas Indonesia di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, kini kembali mencuri perhatian. Ia melontarkan kritik pedas terkait kegagalan eksekusi penalti Brahim Diaz dalam laga final Piala Afrika 2025. Menurut Renard, insiden tersebut bukan sekadar kegagalan biasa, melainkan sebuah tanggung jawab serius yang harus diemban.
Dalam wawancaranya dengan Le Parisiens, Herve Renard secara terang-terangan mempertanyakan keputusan Brahim Diaz untuk mengambil tendangan yang ia nilai sangat berisiko di momen krusial tersebut. Ia mengakui bahwa kegagalan penalti memang bagian tak terpisahkan dari dinamika sepak bola, namun konteks eksekusi penalti oleh Brahim Diaz di final mengubah segalanya. Mantan juru taktik Maroko ini menekankan bahwa di laga final sebesar Piala Afrika, tidak ada toleransi bagi pilihan sembarangan atau pengambilan risiko yang tidak perlu dari seorang pemain.
“Kami berhak untuk gagal mengeksekusi penalti, tetapi dalam kasus seperti itu, saya tegas dan tidak akan memberi kelonggaran,” ujar Renard dengan nada keras. Ia melanjutkan, “Ini adalah bentuk kurangnya rasa hormat terhadap seluruh negara dan seluruh rakyat yang telah berjuang meraih kesuksesan selama 50 tahun,” tegasnya kepada Le Parisiens, sebagaimana dikutip dari Foot Mercato. Momen pahit ini terjadi di tengah ketegangan final Piala Afrika 2025, yang juga sempat diwarnai kecaman dari pelatih Maroko terhadap pelatih Senegal usai kekalahan tersebut.
Prinsip Tegas Herve Renard
Prinsip ketegasan Renard bukan tanpa dasar. Ia memiliki ikatan emosional dan pengalaman mendalam dengan sepak bola benua Afrika, terbukti dengan keberhasilannya mengangkat trofi Piala Afrika dua kali bersama Zambia pada tahun 2012 dan Pantai Gading di tahun 2015. Dengan rekam jejak tersebut, Renard mengaku sangat memahami posisi sulit yang kini dihadapi oleh Walid Regragui, pelatih Maroko, setelah kegagalan penalti krusial yang mengakhiri impian juara mereka.
Meski tidak sepenuhnya menyalahkan teknik tendangan Panenka yang digunakan, Renard menegaskan bahwa pemain yang memilih cara tersebut harus siap menanggung risiko besar, terutama ketika kegagalan itu terjadi akibat kepercayaan diri yang berlebihan di momen vital. Ia bahkan berbagi pengalaman pribadinya yang serupa, meskipun dalam skala yang lebih kecil. “Saya sebenarnya mengalami hal yang sama di Piala Arab melawan Maroko,” ungkapnya. “Salah satu pemain saya, Abdullah Al-Hamdan, benar-benar gagal mengeksekusi penalti Panenka. Saat itu, saya memintanya untuk ikut dengan saya ke konferensi pers setelah pertandingan dan meminta maaf secara terbuka,” jelas Renard, menunjukkan betapa seriusnya ia memandang tanggung jawab seorang pemain.
Kegagalan ini memang memicu gelombang perdebatan tentang beban tanggung jawab pemain di momen-momen paling menentukan bagi tim nasional. Insiden tersebut juga menambah daftar panjang drama di final Piala Afrika 2025, yang bahkan membuat Maroko sempat menempuh jalur hukum terkait aksi boikot oleh tim Senegal. Meskipun demikian, pelatih Maroko, Walid Regragui, sempat memberikan komentar yang lebih bijak mengenai kegagalan Panenka Brahim Diaz, menyatakan bahwa “sepak bola terkadang kejam.”
Permohonan Maaf Brahim Diaz
Sebagai imbas dari kegagalan penalti yang kontroversial tersebut, Brahim Diaz seketika menjadi sorotan utama dan dianggap sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas sirnanya mimpi Maroko meraih trofi Piala Afrika 2025. Penalti yang gagal dieksekusi di detik-detik akhir tersebut membuka jalan bagi Senegal untuk mencetak gol kemenangan melalui Pape Gueye pada babak tambahan waktu, mengantarkan mereka pada gelar Piala Afrika kedua dalam sejarah.
Melalui akun Instagram resminya pada Senin (20/1), Brahim Diaz mengungkapkan rasa terpukulnya dan menyatakan bertanggung jawab penuh atas insiden memilukan itu. “Saya memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan kepada saya, setiap pesan, setiap dukungan yang membuat saya merasa tidak sendirian. Saya berjuang dengan segala yang saya miliki, dengan sepenuh hati. Kemarin saya gagal dan saya bertanggung jawab sepenuhnya. Saya meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam,” tulis Diaz, menyampaikan penyesalannya. Ia menambahkan, “Luka ini tidak mudah sembuh, tetapi saya akan berusaha bangkit.”
Meskipun Diaz berhasil menorehkan prestasi sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Afrika 2025, momen kegagalan tersebut begitu menghantamnya hingga air mata tak kuasa ia bendung saat menyadari mimpi mengangkat trofi telah sirna. Kesedihan mendalam itu disusul dengan janji tulusnya untuk bangkit. “Saya akan terus melangkah maju hingga suatu hari nanti saya bisa membalas semua cinta ini dan menjadi kebanggaan bagi rakyat Maroko,” pungkasnya, menunjukkan tekad untuk menebus kekecewaan tersebut di masa depan.













