Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) telah secara resmi menolak banding yang diajukan oleh Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi sepak bola Malaysia, menyusul sanksi berat yang sebelumnya dijatuhkan oleh FIFA terkait kasus naturalisasi ilegal yang melibatkan tujuh pemain dari timnas Malaysia.
Skandal ini mencuat setelah investigasi FIFA mengungkap adanya pemalsuan berkas asal-usul pemain, sebuah tindakan yang dirancang agar para pemain tersebut dapat membela Harimau Malaya. Para pemain bahkan telah mencatatkan penampilan dan mengoleksi caps dalam beberapa ajang resmi. Setelah banding awal ke FIFA ditolak, upaya terakhir FAM untuk mencari keadilan di CAS pun menemui jalan buntu. Penolakan ini menegaskan bahwa Malaysia telah menurunkan pemain yang tidak memenuhi syarat (ineligible) dan secara jelas melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA.
Dengan ditolaknya banding oleh CAS, hukuman skorsing selama 12 bulan yang dikenakan kepada ketujuh pemain tersebut tetap berlaku sesuai dengan keputusan awal. Sanksi ini secara efektif melarang mereka bermain di seluruh kompetisi resmi, sebuah kondisi yang berpotensi besar merusak atau bahkan mengakhiri karier profesional mereka. Meski demikian, ada sedikit keringanan yang diberikan: para pemain masih diizinkan untuk beraktivitas di luar pertandingan resmi. Dalam rilis yang diterima BolaSport.com, keputusan CAS menyatakan, “Setelah mempertimbangkan bukti-bukti, Panel CAS menemukan bahwa pelanggaran pemalsuan dokumen kelayakan telah terbukti.” Lebih lanjut, CAS menilai, “Bahwa larangan bermain selama 12 bulan merupakan sanksi yang wajar dan seimbang bagi para pemain, mengingat tanggung jawab mereka dalam penipuan ini.”
Selain sanksi untuk para pemain, FAM juga harus menanggung konsekuensi finansial yang tidak sedikit. Hukuman denda sebesar CHF350.000 (sekitar Rp7,5 miliar) tetap dibebankan kepada federasi. CAS menggarisbawahi bahwa pihak federasi bertanggung jawab penuh atas seluruh proses naturalisasi ilegal ini, sejalan dengan keputusan awal yang dijatuhkan oleh FIFA. “Larangan bermain dalam pertandingan mulai berlaku hari ini, 5 Maret 2026, dengan masa berlaku mulai dari 25 September 2025 hingga 26 Januari 2026 termasuk,” demikian kutipan dari keputusan tersebut. Panel CAS juga menambahkan, “Di mana larangan tersebut telah dijalankan secara efektif. Panel CAS menilai bahwa denda sebesar CHF 350.000 yang dikenakan kepada FAM adalah wajar dan proporsional.”
Meskipun masa depan ketujuh pemain Harimau Malaya di kompetisi resmi masih diliputi ketidakpastian, mereka kini diizinkan untuk kembali menjalani latihan bersama klubnya. Keputusan ini memberikan secercah harapan bagi para pemain untuk tetap menjaga kebugaran sembari menantikan selesainya masa hukuman. “Namun, sesuai dengan Pasal 22 FDC, Panel memutuskan bahwa larangan tersebut hanya berlaku untuk pertandingan dan tidak untuk semua aktivitas terkait sepak bola,” jelas CAS. Ini berarti, “para pemain dapat melanjutkan latihan dengan klub masing-masing selama masa larangan.” Akibatnya, banding yang diajukan oleh para pemain sebagian dikabulkan dan sanksi-sanksi tersebut sebagian diubah. Kendati demikian, sejumlah tim dikabarkan mempertimbangkan untuk memutus kontrak para pemain ini karena minimnya kontribusi yang dapat mereka berikan selama menjalani sanksi.
Situasi ini jelas menempatkan nasib sepak bola Malaysia, khususnya terkait ambisi mereka untuk menyusul Timnas Indonesia ke Piala Asia 2027, dalam ketidakpastian yang signifikan. Saat Timnas Indonesia telah lebih dulu mengamankan posisi dalam kualifikasi turnamen bergengsi tersebut, Malaysia kini menghadapi tantangan berat untuk kembali membangun kekuatan di tengah sanksi dan gejolak internal yang melanda. Ironisnya, di tengah semua ketidakjelasan ini, sempat muncul optimisme dari pelatih Malaysia untuk menjuarai Piala Asia 2027, meskipun fondasi untuk mencapai ambisi tersebut kini tengah diuji oleh realitas yang pahit.













