News Stream Pro Pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak menyayangkan aksi ratusan bobotoh yang masuk lapangan usai laga lawan Ratchaburi.

Kekecewaan mendalam menyelimuti pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, menyusul insiden ratusan Bobotoh yang nekat merangsek masuk ke lapangan setelah laga kontra Ratchaburi FC. Momen yang memicu kericuhan ini terjadi pada leg kedua babak 16 besar AFC Champions League Two di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/2/2026).

Aksi invasi lapangan oleh para suporter tersebut merupakan luapan emosi atas kegagalan Persib melangkah lebih jauh di kompetisi Asia. Meskipun berhasil memetik kemenangan 1-0 di kandang, hasil ini tak cukup menyelamatkan Pangeran Biru yang secara agregat kalah 1-3 dari wakil Thailand itu, sehingga langkah mereka harus terhenti di babak 16 besar ACL Two.
Gugurnya Persib dari kancah Asia ini sontak mengalihkan fokus mereka sepenuhnya ke kompetisi domestik. Dengan ambisi yang tak padam, Persib kini membidik gelar ketiganya di Super League, sebuah sinyal “alarm” bagi para pesaing utama seperti Persija Jakarta dan Borneo FC yang wajib diperhitungkan.

Salah satu pemicu kemarahan Bobotoh yang memuncak hingga turun ke lapangan adalah kekecewaan terhadap kepemimpinan wasit asal Arab Saudi, Majed Mohammed Al Shamrani. Keputusan-keputusan kontroversial wasit yang dianggap merugikan timnya juga sempat disinggung Bojan Hodak dalam konferensi pers pasca-laga. “Tentang wasit, sayangnya saya tidak bisa bicara,” ujar pelatih asal Kroasia itu. “Saya memiliki daftar panjang untuk berbicara. Banyak hal yang harus dibicarakan.” Ungkapan ini mengisyaratkan ketidakpuasan mendalam terhadap kinerja wasit yang disinyalir menjadi biang keladi kegagalan. Bahkan, setelah peluit panjang dibunyikan, terlihat beberapa Bobotoh yang mengejar wasit, menunjukkan betapa besarnya kekecewaan mereka. Menanggapi insiden tersebut dan demi menjaga keadilan, Bojan Hodak dikabarkan akan segera melayangkan surat protes resmi kepada AFC.
Namun, di balik semua kekecewaan itu, invasi lapangan oleh Bobotoh menjadi hal yang paling disayangkan oleh Bojan Hodak. Ia bersama para pemain Persib bahkan terlihat berusaha menghalau dan menegur para suporter yang masuk, namun gelombang massa yang terus-menerus membanjiri lapangan membuat mereka kewalahan. Akhirnya, para pemain dan staf pelatih harus diamankan menuju ruang ganti, meninggalkan lapangan yang dipenuhi ribuan suporter.
Insiden ini tentu saja akan membawa konsekuensi serius bagi Persib. Klub dipastikan akan menerima denda dari AFC, sebuah kerugian besar yang tidak hanya finansial tetapi juga dapat mencoreng citra tim di kancah internasional. Kejadian serupa berpotensi menjadi sorotan bagi tim lawan dan pengamat sepak bola, termasuk pelatih Ratchaburi FC, tentang bagaimana insiden ini memengaruhi pandangan terhadap klub dan liga.
Dalam komentarnya, Bojan memuji loyalitas dan dukungan 30 ribu suporter yang memadati stadion. “Kita punya 30 ribu fans di sini, sangat luar biasa. Tidak mudah bagi lawan untuk bermain di sini ketika situasi seperti ini,” katanya. Ia juga menambahkan, “Ingat ketika lawan Bangkok United, mereka tidak berkutik di babak pertama. Hari ini, Ratchaburi juga takut untuk bermain di babak pertama. Ini adalah keuntungan kita.” Namun, nada kekecewaan tak bisa disembunyikan saat ia menyoroti tindakan segelintir orang. “Tetapi ada seratusan orang yang merusak ini semua, datang ke sini dan melakukan pesta pribadi. Jadi, karena hal ini saya pikir perlu diselesaikan karena kita akan dihukum karena 100 orang ini. Mereka meneror semua orang.”
Pelatih tegas itu berharap media dapat mengangkat isu ini. “Ini bisa anda bicarakan, bisa anda sebutkan, bisa anda tulis,” pintanya. Ia menutup pernyataannya dengan kembali menekankan apresiasinya. “Kecuali hal ini, 29.900 lainnya fantastis, luar biasa, tidak ada lawan yang berani datang ke sini, ini jadi keuntungan besar kami ketika main di Bandung,” tambahnya, menegaskan bahwa tindakan segelintir orang tidak mewakili mayoritas suporter setia Persib yang selalu memberikan dukungan luar biasa.
















