Seorang pria tewas ditembak oleh agen Dinas Rahasia Amerika Serikat (Secret Service) atau paspampres setelah nekat menerobos masuk area terlarang di kompleks hunian pribadi Presiden Donald Trump, Mar-a-Lago, pada Minggu pagi waktu setempat. Insiden fatal ini segera memicu penyelidikan mendalam oleh berbagai lembaga penegak hukum.
Juru bicara Secret Service, Anthony Guglielmi, mengonfirmasi melalui platform media sosial X bahwa seorang pria berkulit putih berusia awal 20-an ditembak oleh agen Secret Service dan seorang wakil dari Kantor Sheriff Palm Beach County. Penembakan ini terjadi menyusul pelanggaran tidak sah ke perimeter aman di Mar-a-Lago, seperti dilaporkan oleh Anadolu.
Peristiwa menegangkan itu berlangsung sekitar pukul 01.30 pagi waktu setempat. Pria tersebut pertama kali terlihat di dekat gerbang utara properti Trump, membawa “benda yang tampak seperti senapan dan kaleng bahan bakar.” Petugas penegak hukum dengan sigap mengonfrontasi dan menembaknya, mengakibatkan ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Konfrontasi Berujung Maut
Sheriff Palm Beach County, Ric Bradshaw, merinci kronologi konfrontasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa seorang deputi bersama dua agen Secret Service merespons dan menghadapi tersangka. Mereka meminta pria itu untuk menjatuhkan senapan dan kaleng bahan bakarnya. Namun, situasi memburuk ketika pria itu “meletakkan kaleng gas dan mengarahkan senapan ke petugas,” ungkap Bradshaw. Mencegah ancaman yang lebih besar, para petugas terpaksa melepaskan tembakan. Bradshaw menambahkan, jumlah tembakan yang dilepaskan belum diketahui pasti, namun kamera tubuh sedang digunakan untuk merekam kejadian, seperti dikutip dari Anadolu.
Agen Khusus Secret Service yang bertanggung jawab atas kasus ini, Rafael Barros, memperkuat pernyataan tersebut, mengonfirmasi bahwa pria itu memang mengancam dengan senapan dan tabung bensin. “Agen dan deputi melepaskan senjata api untuk menghentikan ancaman,” tegas Barros. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa di pihak Secret Service maupun kantor sheriff. Baik mantan Presiden Trump maupun orang-orang yang berada di bawah perlindungan Secret Service tidak berada di lokasi saat insiden itu terjadi.
Investigasi Mendalam
Insiden serius ini mendorong Federal Bureau of Investigation (FBI), Secret Service, dan Kantor Sheriff Palm Beach County untuk meluncurkan penyelidikan bersama. Fokus investigasi mencakup latar belakang pria yang tewas, motif potensial di balik tindakannya, serta keputusan penggunaan kekuatan oleh petugas.
Agen Khusus FBI yang bertanggung jawab, Brett Skiles, menyatakan bahwa Tim Respons sedang memproses tempat kejadian dan akan melanjutkan penyelidikan “selama yang diperlukan” untuk mengumpulkan semua bukti. Skiles juga mengimbau warga sekitar untuk memeriksa rekaman kamera keamanan eksterior mereka. “Jika Anda melihat sesuatu yang mencurigakan atau tidak pada tempatnya, silakan hubungi kami,” katanya, menekankan pentingnya partisipasi publik dalam mengungkap fakta. Bradshaw menambahkan bahwa FBI memimpin investigasi utama, dengan timnya memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
Sementara itu, agen-agen yang terlibat dalam penembakan tersebut kini ditempatkan pada cuti administratif, sambil menunggu hasil penyelidikan. Identitas pria berkulit putih yang menjadi korban masih dirahasiakan, menunggu pemberitahuan resmi kepada keluarganya.
Reaksi Cepat dari Pejabat Tinggi
Insiden ini dengan cepat menarik perhatian para pejabat tinggi AS. Jaksa Agung Pam Bondi menyatakan bahwa ia telah berkomunikasi dengan Donald Trump dan bekerja sama erat dengan mitra federal dalam penanganan kasus ini. Direktur FBI Kash Patel menegaskan bahwa biro tersebut “mendedikasikan semua sumber daya yang diperlukan” untuk penyelidikan, menjanjikan koordinasi yang ketat dengan Secret Service dan mitra federal serta negara bagian lainnya.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, memuji respons cepat Secret Service AS, seraya menambahkan kritik tajam kepada Partai Demokrat. Leavitt menyebut “sangat memalukan dan ceroboh bagi Partai Demokrat yang memilih untuk menutup departemen mereka (Secret Service),” merujuk pada perselisihan anggaran yang sedang berlangsung terkait pendanaan penegak hukum federal.
Rangkaian Ancaman terhadap Trump
Insiden di Mar-a-Lago ini bukan kali pertama Trump menghadapi ancaman serius. Sebelumnya, pada September 2024, saat Trump tengah berupaya memenangkan kembali kursi kepresidenan untuk masa jabatan kedua, ia menjadi sasaran upaya pembunuhan ketika bermain golf di West Palm Beach, Florida. Calon pembunuh itu berhasil ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada Juli, sebuah insiden serupa terjadi di Pennsylvania, di mana sebutir peluru menyerempet leher Trump saat ia menghadiri rapat umum kampanye.
Rangkaian peristiwa ini menyoroti kerentanan keamanan yang terus membayangi figur-figur publik tingkat tinggi di Amerika Serikat. Tidak hanya ancaman langsung terhadap nyawa, tantangan keamanan juga meluas ke insiden yang mungkin terlihat lebih kecil namun tetap signifikan, seperti kasus pencurian dompet Menteri Keamanan Dalam Negeri AS di sebuah restoran, yang mengakibatkan hilangnya uang sebesar US$3.000, menggambarkan spektrum luas risiko keamanan yang harus dihadapi para pejabat.













