Bencana longsor dahsyat yang melanda Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, telah menyisakan duka mendalam. Material tanah dan lumpur pekat menerjang permukiman akibat curah hujan yang sangat tinggi, menimbulkan kerugian jiwa dan material yang tidak sedikit. Menanggapi musibah ini, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, langsung meninjau lokasi bencana serta para pengungsi pada Minggu (25/1). Dalam kesempatan tersebut, Pratikno menyampaikan bela sungkawa yang tulus dari pemerintah kepada seluruh keluarga korban.
Pratikno menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah penyelamatan jiwa. Oleh karena itu, operasi SAR (Search and Rescue) terus digencarkan selama 24 jam nonstop untuk mencari setidaknya 83 warga yang dilaporkan masih hilang dan diduga tertimbun longsor. Selain upaya pencarian, pemerintah juga berkomitmen penuh dalam penanganan korban meninggal dunia, mulai dari proses identifikasi yang cermat hingga penyerahan jenazah secara bermartabat kepada pihak keluarga.
Lebih lanjut, Pratikno menjelaskan bahwa penanganan bencana Cisarua telah terbagi dalam beberapa tahapan komprehensif. Tahap pertama, yaitu operasi SAR, dipimpin oleh Basarnas berkolaborasi dengan TNI, Polri, BPBD, dan BNPB. Tim gabungan ini mengerahkan lebih dari 250 personel beserta berbagai alat berat untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi. Korban yang ditemukan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat seperti Rumah Sakit Cililin dan Rumah Sakit Serang, sementara identifikasi jenazah dilakukan oleh Tim DVI dari Polri.
Setelah fase SAR, perhatian pemerintah beralih pada perlindungan dan pelayanan terhadap para pengungsi. Tim kesehatan kini telah siaga penuh di setiap posko pengungsian, menyediakan layanan medis 24 jam. Fasilitas pendukung seperti ambulans dan peralatan kesehatan lainnya juga disiapkan. Tak hanya fisik, kesehatan mental para korban pun menjadi perhatian; program trauma healing khusus disiapkan untuk membantu mereka pulih dari dampak psikologis bencana.
Tahap berikutnya adalah penyediaan logistik. Menko PMK Pratikno secara langsung memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi, termasuk ketersediaan makanan siap saji, sembako, selimut, dan perlengkapan lainnya. Koordinasi terus dilakukan untuk memastikan pasokan logistik berjalan lancar dan tepat sasaran.
Sebagai bagian dari bantuan pengungsi, aspek perlindungan sosial juga menjadi prioritas. Kementerian Sosial bekerja sama dengan Dinas Sosial tingkat kabupaten dan provinsi telah siap siaga untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada keluarga yang terdampak bencana longsor Cisarua, memastikan tidak ada warga yang terabaikan.
Terakhir, namun tak kalah penting, adalah penanganan infrastruktur dan upaya pencegahan jangka panjang. Pratikno menegaskan komitmen pemerintah agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Untuk itu, rencana relokasi warga dari area rawan bencana menjadi pembahasan serius. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bahkan telah berdiskusi langsung dengan Wakil Gubernur dan Bupati setempat, meminta agar identifikasi lahan yang aman untuk relokasi segera dilakukan guna menghindari dampak susulan longsor.












