MAGELANG, KOMPAS.com – Duka menyelimuti Kota Magelang seiring kabar penemuan jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan, pendaki muda yang hilang di Gunung Slamet. Setelah pencarian yang intensif selama 17 hari, jenazah Ali, sapaan akrabnya, ditemukan dan diperkirakan akan tiba di rumah duka pada Kamis (15/1/2026).
Proses evakuasi dan repatriasi jenazah Ali membutuhkan waktu serta koordinasi yang cermat. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo, menjelaskan bahwa korban akan dievakuasi dari titik penemuan di Gunung Slamet menuju basecamp Dipajaya, yang berlokasi di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. “Informasi terakhir yang kami terima pada Rabu (14/1/2026) pukul 14.00, untuk mengangkat jenazah dari titik penemuan hingga basecamp Dipajaya diperkirakan memakan waktu kurang lebih 15 jam,” ujar Catur dari Kantor Pemerintah Kota Magelang.
Penemuan Syafiq Ridhan Ali Razan mengakhiri penantian panjang keluarga dan tim pencari, setelah 17 hari dinyatakan hilang. Jenazah Ali ditemukan di area bebatuan jurang Sungai Lembarang, tepatnya di lereng puncak sebelah selatan Gunung Slamet, sebuah lokasi yang sulit dijangkau. Setelah berhasil dievakuasi ke basecamp, jenazah akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. M. Ashari Pemalang untuk proses pemandian. Selanjutnya, perjalanan dari rumah sakit menuju rumah duka di Kelurahan Kramat Utara, Kota Magelang, diperkirakan memakan waktu sekitar empat hingga lima jam. “Setibanya di Magelang, jenazah akan langsung disalatkan dan dimakamkan di Sambung Lor, berdekatan dengan makam neneknya,” tambah Catur, menjelaskan rencana pemakaman.
Kronologi Penemuan Setelah Pencarian 17 Hari
Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, mengonfirmasi bahwa Syafiq ditemukan oleh tim relawan pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Lokasi penemuan berada di jalur yang menghubungkan kawasan Gunung Malang dan Baturraden, sebuah area yang dikenal dengan medan bebatuan terjal di jurang Sungai Lembarang. Proses pencarian difokuskan di antara “lingkaran kuning” atau area prioritas yang telah ditetapkan tim SAR gabungan. Penemuan ini menjadi titik terang setelah upaya pencarian besar-besaran yang melibatkan berbagai pihak.
Awal Mula Hilangnya Pendaki
Kisah hilangnya Syafiq Ridhan Ali Razan (18) bermula saat ia dilaporkan tidak kembali setelah melakukan pendakian melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, sejak Sabtu (27/12/2025). Syafiq mendaki bersama teman satu sekolahnya, Himawan Choidar Bahran, warga Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Beruntung, Himawan ditemukan lebih dahulu oleh tim SAR gabungan dalam kondisi selamat pada Selasa (30/12/2025) di sekitar Pos 5, memberikan harapan untuk Syafiq.
Namun, ada fakta mengejutkan yang terungkap dari Naufal Hisyam (24), kakak kandung korban. Naufal mengungkapkan bahwa Syafiq awalnya berpamitan kepada keluarga untuk mendaki Gunung Sumbing. Keluarga baru mengetahui perubahan tujuan ke Gunung Slamet setelah Syafiq mengirimkan foto dari basecamp Gunung Slamet. Meskipun sempat terkejut, keluarga akhirnya mengizinkan karena Syafiq sudah berada di lokasi. Syafiq berencana mendaki secara “tektok” atau pulang-pergi tanpa menginap, dengan janji akan pulang pada Minggu sore. Namun, hingga waktu yang dijanjikan, Syafiq tidak kunjung memberi kabar. Kecurigaan keluarga semakin kuat setelah sepeda motor dan kartu tanda penduduk (KTP) milik korban ditemukan masih tertinggal di basecamp Dipajaya, mengindikasikan bahwa ia memang belum kembali.
Dalam upaya membantu meringankan beban keluarga, Pemerintah Kota Magelang telah menggalang donasi. Kasus tragis ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki untuk selalu berhati-hati, mempersiapkan diri dengan matang, dan memberitahukan rencana pendakian secara akurat kepada keluarga atau pihak berwenang.












