Insiden penembakan yang menargetkan pesawat Smart Air di Bandara Korowai Batu, Distrik Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, pada Rabu, 11 Februari 2026, telah memicu gelombang kekhawatiran dan dampak serius bagi masyarakat setempat. Tragedi ini bukan hanya merenggut nyawa pilot dan kopilot, tetapi juga memaksa sejumlah guru dan tenaga kesehatan untuk mengungsi, meninggalkan tugas pelayanan vital mereka karena ancaman eskalasi konflik.
Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Anis Hidayah, menyoroti dampak krusial dari insiden ini. Dalam keterangan resminya pada Jumat, 13 Februari 2026, Anis mengungkapkan bahwa kondisi pengungsian ini secara langsung melumpuhkan akses layanan dasar vital seperti pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Boven Digoel, menciptakan krisis kemanusiaan yang mendalam bagi warga.
Anis Hidayah menegaskan bahwa situasi pasca-peristiwa ini sangat rentan terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Selain terhentinya layanan publik, ia juga menyoroti adanya penyisiran terhadap masyarakat non-Orang Asli Papua oleh kelompok sipil bersenjata (KSB) yang diduga kuat sebagai pelaku penembakan. Kelompok ini, menurut Anis, telah dikaitkan dengan serangkaian aksi teror dan kekerasan sebelumnya, termasuk penembakan pesawat komersial di Yahukimo pada 14 Januari 2026 yang menggagalkan kunjungan wakil presiden, serta pembunuhan seorang pekerja bangunan bernama Daniel Datti di SMP YPK Yakpesmi, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Februari 2026.
Komnas HAM mengutuk keras tindakan kekerasan ini tanpa pengecualian. Anis Hidayah menekankan bahwa setiap serangan terhadap warga sipil, baik dalam situasi perang maupun damai, yang dilakukan oleh aktor negara maupun non-negara, merupakan pelanggaran berat terhadap hukum HAM dan hukum humaniter internasional. Tindakan semacam ini secara fundamental melanggar hak untuk hidup dan hak atas rasa aman, dua hak asasi yang tidak dapat dikurangi dalam kondisi apa pun.
Merespons situasi genting ini, Komnas HAM mendesak dilakukannya penegakan hukum yang profesional, transparan, dan tuntas terhadap para pelaku kekerasan dan pembunuhan. Tak hanya itu, pemerintah, baik pusat maupun daerah, diminta untuk segera mengambil langkah-langkah konkret guna memberikan perlindungan dan pemulihan bagi para korban, baik yang meninggal dunia, terluka, maupun keluarga korban. Pemulihan yang dimaksud mencakup aspek kesehatan dan psikologis, serta pemberian kompensasi yang layak. Selain itu, Komnas HAM juga meminta pemerintah dan aparat keamanan untuk memastikan keamanan warga sipil pasca-penyerangan, termasuk menjamin perlindungan bagi para petugas pelayanan publik yang vital.
Dalam upayanya meredakan konflik, Komnas HAM juga mengimbau Kelompok Sipil Bersenjata untuk menahan diri dari kekerasan dan mengutamakan penyelesaian masalah secara damai. “Penggunaan cara-cara kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun,” tegas Anis Hidayah.
Penembakan tragis tersebut menargetkan pesawat perintis Smart Air tipe A/C C208B Ex yang tengah mengemban misi vital dengan rute Tanah Merah (TMH) – Korowai Batu (DNW) – Tanah Merah (TMH). Pesawat itu diawaki oleh pilot Kapten Egon Erawan dan kopilot Kapten Baskoro, serta membawa 13 penumpang.
Pesawat bertolak dari Bandara Tanah Merah pada pukul 10.35 WIT. Hanya berselang sekitar 25 menit, tepatnya pukul 11.00 WIT, Polres Boven Digoel menerima laporan awal mengenai insiden penembakan yang terjadi saat pesawat hendak mendarat. “Pada saat mendarat, pesawat mendapat penyerangan berupa penembakan ke arah pesawat dari arah hutan samping areal bandara,” terang Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito.
Sayangnya, beberapa jam kemudian, pada pukul 13.27 WIT, Polres Boven Digoel mengonfirmasi kabar duka: insiden tersebut merenggut nyawa pilot dan kopilot pesawat. Beruntung, 13 penumpang yang terdiri dari 12 orang dewasa dan 1 bayi dilaporkan selamat dari serangan brutal tersebut.
Menyikapi serangan mematikan ini, Satgas Damai Cartenz segera mengerahkan tim gabungan. Sebanyak 20 personel Satgas bekerja sama dengan 12 personel Kopasgat TNI AU menuju lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan intensif dan pengejaran terhadap para pelaku. Koordinasi juga dilakukan dengan jajaran TNI AD untuk memperketat pengamanan di area bandara perintis, yang merupakan akses vital bagi masyarakat pedalaman.
Hasil investigasi Satgas Damai Cartenz mengarah pada identifikasi terduga pelaku penembakan pesawat Smart Air. Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz Komisaris Besar Yusuf Sutejo menyatakan saat dihubungi Tempo pada Kamis, 12 Februari 2026, bahwa insiden yang terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, tersebut melibatkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Yahukimo. Kelompok ini dikenal pula dengan sebutan Batalion Kanibal dan Batalion Semut Merah.
Insiden tragis ini kembali menyoroti kerentanan masyarakat dan infrastruktur dasar di Papua, khususnya dalam sektor pendidikan dan kesehatan. Gangguan terhadap layanan-layanan esensial ini memperparah tantangan yang telah ada, di mana akar masalah seperti minimnya akses pendidikan bagi ratusan ribu anak Papua masih menjadi persoalan fundamental yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan seluruh elemen bangsa.
Hanin Marwah berkontribusi dalam penulisan artikel ini.













