Angin kencang yang berasal dari bibit siklon 91S kini telah berkembang menjadi siklon tropis Jenna, berpotensi memicu terjadinya gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Untuk memastikan keselamatan pelayaran, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini yang berlaku mulai tanggal 6 hingga 9 Januari 2026.
Prakirawan BMKG, Ryan Putra Pambudi, menjelaskan bahwa pusaran angin di Samudra Hindia, tepatnya di barat daya Bengkulu, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kecepatan angin. Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara secara umum bergerak dari barat laut menuju timur laut dengan kecepatan 6 hingga 25 knot. Sementara itu, angin di wilayah selatan Indonesia terpantau bergerak menuju barat laut, juga dengan laju serupa.
“Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Natuna Utara dan Samudra Hindia dari barat Bengkulu hingga Lampung,” ujar Ryan dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 6 Januari 2025.
Berdasarkan pemantauan dari Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, BMKG sebelumnya telah memprakirakan bahwa siklon Jenna akan berkembang menjadi siklon tropis kategori tiga. Siklon ini diprediksi bergerak ke arah barat daya, menjauhi wilayah Indonesia. Pada pengamatan hingga 5 Desember sebelumnya, kecepatan siklon Jenna mencapai 50 knot atau setara 95 kilometer per jam, dengan tekanan udara minimum 990 hPa.
Tim BMKG memperingatkan bahwa potensi gelombang tinggi antara 2,5 hingga 4 meter berpeluang muncul di beberapa lokasi krusial. Area yang diwaspadai meliputi Laut Natuna Utara, Samudra Hindia di sebelah selatan Jawa Timur dan Yogyakarta, serta perairan selatan Bali dan Nusa Tenggara. Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di Samudra Pasifik, khususnya di utara Papua Barat Daya dan Papua Barat, serta di perairan utara Maluku. “Potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah tersebut dapat berisiko serius terhadap keselamatan pelayaran,” tegas Ryan.
Mengingat ancaman ini, BMKG secara reguler mengimbau seluruh pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan. Para nelayan dengan perahu kecil disarankan untuk mewaspadai kecepatan angin yang melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter.
Kapal tongkang juga diminta untuk memperhatikan kondisi ketika kecepatan angin melampaui 16 knot dan tinggi gelombang mencapai lebih dari 1,5 meter. Nahkoda kapal feri wajib lebih waspada saat kecepatan angin melampaui 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter. Sementara itu, armada besar seperti kapal kargo dan kapal pesiar harus senantiasa memantau kondisi saat kecepatan angin menembus 27 knot dan tinggi gelombang mencapai 4 meter untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Di luar informasi penting terkait dinamika cuaca maritim, isu-isu fundamental lainnya juga terus menjadi sorotan. Misalnya, perdebatan mengenai Ironi Dampak Lumbung Pangan Merauke: Gizi Buruk Anak-anak turut menjadi perhatian publik, mengingatkan kita akan kompleksitas berbagai tantangan di Indonesia.













