Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, telah mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik yang memuncak akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran secara signifikan mengancam rantai pasok minyak global. Menanggapi situasi genting ini, pemerintah Indonesia dengan sigap mengambil langkah mitigasi berupa diversifikasi suplai untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Airlangga menjelaskan bahwa gangguan pasokan ini utamanya disebabkan oleh potensi tertutupnya Selat Hormuz, sebuah jalur maritim yang sangat vital bagi perdagangan minyak dan gas (migas) dunia. “Pertama, jika Iran terlibat, sudah pasti suplai minyak akan terganggu. Ini karena Selat Hormuz terancam, belum lagi potensi gangguan di Laut Merah. Kita harus mencermati seberapa jauh konflik ini akan berkembang,” tegas Airlangga saat ditemui di kantornya pada Senin, 2 Maret 2025.
Sebagai strategi antisipasi, pemerintah fokus pada diversifikasi sumber pasokan. Langkah konkret telah diambil dengan penandatanganan nota kesepahaman yang bertujuan untuk mendapatkan suplai migas dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah. “Misalnya, Pertamina telah menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan beberapa perusahaan Amerika, seperti Chevron dan Exxon, serta pihak lainnya,” ungkapnya, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi.
Lebih lanjut, dalam kerangka perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat, terdapat komitmen Indonesia untuk mengimpor migas dari AS senilai US$ 15 miliar. Upaya diversifikasi ini tidak berhenti di sana; pemerintah juga secara berkelanjutan memantau sumber-sumber impor potensial dari berbagai negara lain untuk memastikan ketersediaan pasokan.
Airlangga juga memaparkan bahwa dampak konflik di Timur Tengah meluas lebih dari sekadar suplai minyak. Sektor-sektor seperti transportasi logistik dan pariwisata juga terancam. Konsekuensinya, harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri berpotensi mengalami kenaikan, serupa dengan apa yang terjadi selama perang di Ukraina. Namun, Airlangga memberikan catatan bahwa kali ini suplai dari Amerika Serikat diperkirakan akan meningkat, di samping peningkatan kapasitas produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang diharapkan dapat menstabilkan pasar.
Sebagai perbandingan historis, harga minyak mentah global pernah melonjak hingga menembus US$ 100 per barel pada tahun 2022, dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina. Perdagangan pada Senin siang, 2 Maret 2025, menunjukkan harga minyak mentah jenis Brent berada di US$ 79 per barel, meningkat signifikan dari penutupan perdagangan Sabtu sebesar US$ 72,8 per barel. Sementara itu, berdasarkan data Trading Economics, kontrak berjangka minyak mentah WTI terpantau di level US$ 72,3 per barel, melonjak tajam dibandingkan dengan level sebelumnya di US$ 67,2 per barel.
Kenaikan harga dan potensi gangguan pasokan ini menegaskan betapa krusialnya pemahaman mendalam mengenai dampak serangan Iran terhadap pasokan minyak global dan langkah proaktif pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan energi di tengah gejolak geopolitik.













