Kabar duka menyelimuti Iran setelah Mansoureh Khojasteh, istri dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, dikonfirmasi meninggal dunia. Kematiannya, yang dilaporkan kantor berita Mehr pada Senin dan dikutip oleh NDTV, terjadi setelah kediamannya menjadi sasaran serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat. Peristiwa ini menambah daftar panjang korban dalam eskalasi konflik yang memanas di kawasan tersebut.
Sebelumnya, pada Sabtu, situasi keamanan di Timur Tengah memanas ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan intensif terhadap berbagai target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Agresi militer ini dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan merenggut banyak korban jiwa dari kalangan sipil. Tidak tinggal diam, Iran segera melancarkan serangan balasan, menargetkan wilayah Israel dan infrastruktur militer Amerika Serikat yang tersebar di sepanjang kawasan Timur Tengah dengan rentetan rudal.
Dampak serangan tersebut kian terpampang jelas pada Ahad, saat stasiun TV pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi serangkaian kematian yang mengejutkan. Di antara korban tewas adalah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sendiri, beserta putrinya, cucunya yang baru berusia 14 bulan, menantunya, dan seorang menantu perempuannya. Tragedi ini juga merenggut nyawa sejumlah pejabat senior, termasuk Ali Shamkhani, penasihat utama Khamenei, serta Jenderal Mohammad Pakpour, kepala Garda Revolusi Iran (IRGC) yang memiliki pengaruh besar.
Merujuk pada rentetan peristiwa tragis ini, Iran secara tegas menuding Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan aksi terorisme serta pembunuhan terencana yang secara khusus menargetkan Ali Khamenei dan keluarganya.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Mansoureh Khojasteh, istri sang Pemimpin Tertinggi Iran, dilaporkan menderita luka parah akibat serangan itu hingga jatuh dalam kondisi koma. Ia berpulang di usia 79 tahun, sebagaimana dikonfirmasi oleh Mehr. Sejak menikah dengan Ali Khamenei pada tahun 1964, Khojasteh dikenal menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan publik. Meski informasinya terbatas, pasangan ini dikaruniai enam orang anak, menandai kehidupan pribadi yang tenang di balik layar kepemimpinan suaminya.
Menyikapi insiden mematikan ini, Kementerian Luar Negeri Iran pada Ahad mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras serangan gabungan tersebut. Mereka menegaskan bahwa tindakan itu secara fundamental melanggar prinsip dan norma hukum internasional, termasuk ketentuan dalam Piagam PBB. Lebih lanjut, pernyataan tersebut menyebutkan, “Tindakan teroris oleh AS dan rezim Zionis (Israel), yang melakukan pembunuhan terencana terhadap Pemimpin Tertinggi serta pejabat tinggi lainnya melalui agresi militer terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan nasional negara (Iran), merupakan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seluruh prinsip dan norma internasional.” Pemerintah Iran berargumen bahwa penggunaan kekuatan militer yang menargetkan pimpinan negara berdaulat sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam sistem hukum internasional, menegaskan pelanggaran serius terhadap kedaulatan nasional.
Kematian Ali Khamenei pada usia 86 tahun memicu gelombang kemarahan yang meluas di kalangan rezim maupun publik Iran. Tragedi ini mencatat sejarah kelam, menjadikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi pertama Iran yang tewas dalam sebuah serangan selama bulan suci Ramadan, bersama dengan anggota keluarganya: anak, menantu, dan cucunya yang masih berusia 14 bulan. Insiden ini tidak hanya menjadi pukulan telak bagi kepemimpinan, tetapi juga menyulut duka mendalam bagi seluruh bangsa.
Melihat kekosongan kepemimpinan yang krusial ini, perhatian kini tertuju pada langkah selanjutnya yang akan diambil Iran. Dikabarkan, sebuah Dewan Sementara akan segera menggelar sidang untuk menentukan siapa yang akan menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi. Proses transisi ini sangat penting untuk stabilitas negara di tengah ketegangan regional yang kian memuncak, serta akan menjadi penentu arah masa depan Iran setelah kepergian sosok sentral ini.












