Habib Hanif Alatas, Sekretaris Majelis Syuro DPP Front Persaudaraan Islam (FPI), baru-baru ini mengungkap detail penting dari pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (5/3). Pertemuan ini menjadi sorotan karena melibatkan tokoh ulama dengan pemimpin negara.
Dalam kesempatan tersebut, Habib Hanif menegaskan kehadirannya adalah sebagai perwakilan dari pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab. Ia menjelaskan bahwa Habib Rizieq sebelumnya menerima undangan langsung dari Presiden, namun berhalangan hadir karena suatu udzur. Kehadiran Habib Hanif sebagai Sekretaris Majelis Syura DPP FPI, ditemani Habib Muhammad selaku Sekretaris Umum DPP Front Persaudaraan Islam, menjadi penanda representasi FPI dalam forum tersebut.
Lebih lanjut, Habib Hanif menjelaskan bahwa agenda di Istana merupakan momen silaturahmi sekaligus diskusi mendalam mengenai berbagai isu krusial. Pembicaraan meliputi perkembangan geopolitik global dan bagaimana posisi Indonesia dalam forum BoP. Presiden Prabowo, kata Habib Hanif, menyampaikan visinya secara panjang lebar, dengan inti keinginan kuatnya agar keberadaan Indonesia di BoP dapat memberikan kontribusi yang lebih besar untuk Palestina.
Meskipun belum mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pandangan secara langsung dalam forum diskusi yang padat tersebut, FPI tidak kehilangan momentum. Melalui Habib Hanif, organisasi ini menitipkan sebuah surat resmi kepada Presiden. Surat ini menjadi saluran untuk menyampaikan sikap organisasi secara tertulis.
Surat tersebut, terang Habib Hanif, secara tegas memuat sikap FPI terkait keikutsertaan Indonesia dalam BoP. FPI tetap pada pendiriannya untuk meminta Republik Indonesia agar menarik diri dari forum tersebut. Alasan di balik sikap ini bukan karena ketidakpercayaan terhadap iktikad baik Presiden Republik Indonesia, melainkan karena keraguan mendalam terhadap Amerika Serikat dan Israel. “Kita percaya iktikad baik Presiden Republik Indonesia tapi kita nggak percaya Amerika. Kita nggak percaya sama Israel. Nabi-nabi aja, para Rasul saja dikhianati oleh Israel, apalagi cuma kita manusia biasa,” ungkap Habib Hanif, menyoroti rekam jejak hubungan politik internasional yang kontroversial.
Habib Hanif kembali menegaskan bahwa surat yang telah disampaikan kepada salah satu menteri Presiden dan juga langsung kepada Presiden tersebut tidak lain merupakan wujud ketidakpercayaan FPI terhadap Amerika dan Israel, bukan kepada pemimpin negara. Ia juga menambahkan bahwa surat resmi DPP FPI tersebut juga mencakup beberapa hal lain yang telah disampaikan secara terbuka, menegaskan kembali komitmen FPI terhadap isu-isu krusial ini.












