Mohammed Odeh, komandan sayap militer Hamas, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan Israel yang mengguncang Jalur Gaza pada Selasa (26/05). Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah pendahulunya juga kehilangan nyawa dalam serangan serupa, menandai eskalasi ketegangan yang berkelanjutan di wilayah tersebut.
Serangan mematikan tersebut merenggut nyawa setidaknya tiga warga Palestina dan melukai puluhan lainnya, demikian keterangan dari tenaga medis dan saksi mata di lokasi. Bangunan tempat tinggal di salah satu area pasar paling sibuk di Kota Gaza menjadi sasaran utama, menciptakan kekacauan di tengah keramaian.
Menurut pernyataan dari militer Israel dan badan keamanan Shin Bet, gedung tersebut adalah tempat persembunyian Odeh, yang telah dilacak pergerakannya selama berbulan-bulan. Mereka mengklaim penargetan ini merupakan hasil dari operasi intelijen yang intensif.
Hingga kini, Hamas belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kematian Odeh. Namun, seorang sumber dari Hamas dan pihak kerabat telah mengonfirmasi bahwa Odeh, istrinya, dan putra dewasa mereka turut menjadi korban dalam serangan brutal tersebut.
Kekerasan di Gaza terus berkobar hampir setiap hari, sebuah realitas pahit yang bertolak belakang dengan kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas yang telah disepakati pada Oktober lalu. Kondisi ini menggambarkan rapuhnya stabilitas dan semakin kompleksnya konflik di wilayah tersebut.
Serangan tersebut secara spesifik menghantam tiga lantai teratas Gedung al-Kayali, yang terletak di pusat Kota Gaza. Area ini, yang seharusnya dipadati oleh para pembeli yang bersiap menyambut hari raya Idul Adha, berubah menjadi medan kehancuran dan kepanikan.
Tim tanggap darurat segera bergegas menuju lokasi, namun mereka menghadapi kesulitan besar dalam mencapai lantai atas gedung. Kerusakan masif dan kemacetan lalu lintas yang parah di area tersebut menghambat upaya penyelamatan. Saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan kengerian saat setidaknya lima rudal menghantam bangunan secara hampir bersamaan dari berbagai arah, sementara seorang warga lainnya mengaku mendengar suara helikopter yang melayang di atas sebelum serangan terjadi. Rekaman video dari lokasi memperlihatkan ambulans dan tim pertahanan sipil yang berjuang melakukan pencarian di dalam reruntuhan bangunan, dikelilingi oleh kerumunan warga yang diliputi keprihatinan.
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam sebuah pernyataan pada Selasa (26/05), dengan tegas menyebut Odeh sebagai “salah satu perancang pembantaian 7 Oktober.” Pernyataan itu lebih lanjut menegaskan bahwa Odeh “bertanggung jawab atas pembunuhan, penculikan, dan pelukaan banyak warga Israel serta tentara IDF.” Kematian Odeh menyusul tewasnya Izz ad-Din al-Haddad, pendahulunya sebagai komandan sayap militer Hamas, yang juga gugur dalam serangan udara Israel di awal Mei. Serangan yang menargetkan al-Haddad juga menghantam sebuah bangunan tempat tinggal dan menewaskan sedikitnya tiga orang, menurut kesaksian dan sumber lokal.
Dalam operasi gabungan untuk melenyapkan tokoh penting Hamas ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Shin Bet merilis pernyataan yang merinci strategi mereka. “Sebagai bagian dari operasi gabungan IDF dan Shin Bet untuk melenyapkan teroris Mohammed Odeh, beberapa bangunan di jantung Kota Gaza yang menjadi tempat persembunyiannya diserang, setelah berbulan-bulan pengawasan intelijen untuk melacak pergerakannya serta pergerakan para pembantunya dalam organisasi,” bunyi pernyataan tersebut. Militer Israel juga mengumumkan bahwa mereka turut menyerang “sebuah apartemen di dekatnya milik seorang teroris Hamas yang melakukan penyerangan pada 7 Oktober dan merupakan bagian dari lingkaran pembantu Odeh.” Sebagai pengingat, tanggal 7 Oktober merujuk pada serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan pada tahun 2023.
Seorang sumber Hamas kemudian mengonfirmasi kepada BBC pada Selasa (26/05) bahwa Odeh dan istrinya telah meninggal dunia. Tragedi ini diperparah dengan kabar duka keesokan harinya, Rabu (27/05) pagi, ketika kerabat mengumumkan bahwa putra Odeh juga meninggal akibat luka-luka yang dideritanya di rumah sakit. Pemakaman bagi ketiga korban dijadwalkan akan dilaksanakan setelah salat zuhur di sebuah masjid di Kota Gaza, sebuah momen duka yang mendalam bagi keluarga dan pendukung Hamas.
Serangan Israel Terus Melanda Gaza
Sejak gencatan senjata yang disepakati pada 10 Oktober, Israel terus melancarkan serangan rutin di seluruh Jalur Gaza. Tindakan ini memicu tuduhan berulang kali dari Hamas bahwa Israel melanggar ketentuan gencatan senjata dan secara sengaja menargetkan warga sipil. Kementerian Kesehatan di wilayah Palestina yang dikelola Hamas melaporkan bahwa lebih dari 900 orang telah tewas akibat serangan Israel selama periode gencatan senjata ini, sebuah angka yang dianggap dapat diandalkan oleh PBB.
Di sisi lain, pemerintah Israel berkeras bahwa mereka memiliki hak untuk menargetkan anggota Hamas, bahkan menuduh Hamas melanggar perjanjian gencatan senjata dengan tidak melucuti senjata. Namun, di tengah klaim dan tuduhan tersebut, upaya menuju perdamaian di Gaza tampaknya semakin jauh. Tahap-tahap lanjutan dari rencana perdamaian yang dipimpin AS masih belum diberlakukan, dengan kemajuan yang terhenti sejak AS dan Israel terlibat dalam “perang” dengan Iran pada Februari lalu.
Rencana perdamaian yang dicanangkan AS ini sebenarnya telah memasuki tahap kedua pada Januari, di mana Gaza seharusnya diambil alih oleh pemerintahan sementara yang teknokratis, disertai dengan demiliterisasi dan rekonstruksi wilayah. Namun, pembicaraan mengenai pelucutan senjata menemui jalan buntu, dan sejak itu Hamas justru mengaktifkan kembali kepolisiannya, seakan menegaskan kembali otoritasnya di Gaza. Kondisi ini membuat Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pada Rabu bahwa Israel berkomitmen untuk mencegah Hamas memerintah Gaza, “baik secara sipil maupun militer.” Ia bahkan mengklaim bahwa “rencana emigrasi sukarela dari Gaza” akan dilaksanakan “pada waktu dan dengan cara yang tepat.”
Perdana Menteri Netanyahu, dalam pernyataannya yang penuh tekad, menegaskan bahwa Israel akan “terus memburu siapa pun yang terlibat dalam pembantaian 7 Oktober,” menambahkan, “Cepat atau lambat, Israel akan menjangkau mereka semua.” Pembantaian 7 Oktober sendiri merupakan serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza, yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Palestina dan menyebabkan banyak dari 2,1 juta penduduknya mengungsi. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, yang angkanya dianggap dapat diandalkan oleh PBB, pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 72.800 orang di Gaza.
Eskalasi di Gaza ini juga terjadi setelah 31 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon, sebuah tindakan yang dimulai setelah Netanyahu bersumpah untuk meningkatkan aksi militer terhadap kelompok bersenjata Hizbullah. Militer Israel mengklaim bahwa serangannya menargetkan infrastruktur dan petempur Hizbullah, memperlihatkan meluasnya cakupan konflik. Di tengah eskalasi konflik dan krisis kemanusiaan yang mendalam ini, solidaritas internasional juga menghadapi tantangan. Sebelumnya, sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla yang berusaha menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza bahkan sempat mengalami insiden penahanan oleh militer Israel, di mana beberapa relawan memberikan kesaksian memilukan tentang perlakuan yang mereka alami selama penahanan.
Meskipun rencana perdamaian yang digagas AS mengalami kebuntuan, upaya global untuk meredakan ketegangan terus bergulir. Indonesia, sebagai salah satu aktor penting di kancah internasional, telah menunjukkan komitmennya dalam pencarian solusi damai yang komprehensif. Presiden Prabowo Subianto, misalnya, turut serta dalam pertemuan Dewan Perdamaian dan menyatakan kesediaan Indonesia untuk menjadi wakil komandan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza, menunjukkan keseriusan peran Indonesia. Namun, tawaran ini tidak lepas dari berbagai pertimbangan kompleks, terutama mengingat potensi penempatan pasukan perdamaian di wilayah yang sering menjadi pusat infrastruktur tempur Hamas. Kekhawatiran muncul mengenai potensi risiko keterlibatan TNI dalam program “Board of Peace” dan bagaimana peran Indonesia yang netral dapat tetap terjaga di tengah tuntutan Hamas agar pasukan perdamaian tidak mencampuri urusan internal Palestina. Penolakan tegas Indonesia terhadap rencana Israel untuk mengambil alih Kota Gaza juga menegaskan posisinya dalam mendukung kedaulatan wilayah Palestina, menggarisbawahi urgensi dialog untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di tengah intrik politik dan militer yang terus berlangsung.
















