Operasi pencarian korban longsor tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, secara resmi ditutup pada Selasa, 10 Maret 2026. Penutupan ini menyusul keberhasilan tim SAR gabungan menemukan korban terakhir, Riki Supriadi, 40 tahun, pada Senin malam pukul 23.30 WIB. Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menegaskan bahwa seluruh korban telah berhasil dievakuasi, menandai berakhirnya masa-masa kritis pencarian yang intensif.
“Dengan ditemukannya seluruh korban dan tidak adanya laporan orang hilang, kami menyatakan operasi pencarian ditutup,” ujar Desiana pada Selasa. Ia merinci bahwa musibah longsor gunung sampah ini menelan tujuh korban jiwa, sementara enam orang lainnya berhasil selamat. Setelah proses identifikasi, jenazah para korban segera diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dikebumikan. Desiana turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang telah bahu-membahu membantu operasi pencarian dan evakuasi korban.
Tragedi longsor gunung sampah itu sendiri terjadi di Zona 4 TPST Bantargebang, area milik Pemerintah Provinsi Jakarta, pada Ahad, 8 Maret 2026. Insiden nahas ini terjadi di tengah aktivitas normal pembuangan sampah, saat deretan truk sedang mengantre untuk menurunkan muatan. Kondisi cuaca ekstrem, khususnya hujan deras yang mengguyur Kota Bekasi selama beberapa hari berturut-turut, diduga kuat menjadi pemicu utama ambruknya tumpukan sampah raksasa tersebut.
Musibah yang mengejutkan ini total menimpa 13 orang. Dari jumlah tersebut, enam orang dilaporkan berhasil selamat, meskipun mungkin mengalami luka-luka atau trauma. Namun, tujuh orang lainnya harus meregang nyawa, termasuk para sopir truk yang sedang bertugas dan beberapa pemilik warung kecil yang mencari nafkah di sekitar area longsor TPST Bantargebang. Keberadaan mereka yang rentan di dekat zona tumpukan sampah raksasa ini menjadi sorotan pilu dari insiden tersebut.












