Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis dengan pengerahan pasukan marinir Amerika Serikat dan kapal perang tambahan ke kawasan tersebut. Dua pejabat AS mengonfirmasi langkah ini kepada CBS News, mitra BBC di Amerika Serikat, menegaskan peningkatan kehadiran militer Washington di tengah gejolak regional yang memanas.
Pengerahan tambahan pasukan ini melibatkan Amphibious Ready Group (ARG) dan satuan ekspedisi marinir, sebuah formasi tempur laut yang sangat fleksibel. ARG, yang dikenal kemampuannya membawa pasukan darat, helikopter, dan pesawat tempur, merupakan kekuatan proyeksi yang signifikan. Sumber internal menyatakan formasi ini akan dipimpin oleh kapal serbu amfibi USS Tripoli, yang biasanya berbasis di Jepang. Satuan di bawah komando USS Tripoli umumnya mencakup sekitar 5.000 pelaut dan marinir yang tersebar di beberapa kapal perang, menunjukkan skala operasi yang substansial.
Langkah militer AS ini diambil menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mengklaim pasukannya telah “sepenuhnya menghancurkan” infrastruktur militer Iran di Pulau Kharg, sebuah lokasi strategis di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur perairan vital bagi pengiriman minyak dunia, dan setiap gangguan di sana memiliki implikasi ekonomi global yang masif. Sebelumnya, serangan balasan Iran yang menargetkan Israel dan pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah telah memicu kekacauan pada pusat-pusat perjalanan udara internasional dan menyebabkan lonjakan harga minyak dunia.
Merespons pertanyaan mengenai kapan Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz, Presiden Donald Trump dengan tegas menyatakan kepada wartawan pada hari Jumat, “Itu segera terjadi.” Isyarat ini menegaskan komitmen AS untuk menjaga keamanan jalur pelayaran penting tersebut. Laporan awal mengenai pergerakan personel AS ini pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal, yang juga menyebutkan bahwa permintaan pengerahan pasukan tambahan diajukan oleh US Central Command—komando militer AS yang bertanggung jawab atas kawasan Timur Tengah—dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Meskipun BBC telah meminta tanggapan dari militer AS dan Pentagon, pergerakan pasukan di masa depan umumnya tidak diumumkan secara terbuka, mencerminkan sifat sensitif operasi tersebut.
Sebagai bagian dari upaya penguatan di kawasan, Amerika Serikat juga telah memindahkan sebagian sistem pertahanan rudal dari Korea Selatan menuju Timur Tengah. Informasi ini dilaporkan oleh Washington Post dan sejumlah media Korea Selatan, menandakan prioritas AS dalam memperkuat kemampuan pertahanan di wilayah yang semakin rentan tersebut. Di tengah ketegangan ini, laporan juga menyoroti kesiapan pasukan suku Kurdi, termasuk kesaksian para prajurit perempuan Kurdi, yang dilaporkan telah bersiaga di perbatasan Iran. Sejumlah pihak bahkan menyebutkan pasukan Kurdi telah mempersiapkan diri selama puluhan tahun untuk kemungkinan menyerbu Iran melalui jalur darat, menambah kompleksitas dinamika konflik di kawasan tersebut. Selain itu, krisis di perairan strategis Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada harga minyak global, tetapi juga menciptakan dilema kemanusiaan, dengan kisah para awak kapal yang terjebak di sana dan menghadapi risiko tinggi di tengah meningkatnya ancaman.
Retorika dari Gedung Putih dan Pentagon pun semakin mengeras. Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyatakan bahwa Iran akan “dihantam sangat keras” dalam pekan mendatang, sembari menambahkan bahwa perang dengan Iran akan berakhir “ketika saya merasakannya dalam tulang saya.” Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa militer AS tidak akan menunjukkan “belas kasihan bagi musuh.” Pentagon sendiri menyatakan pihaknya telah menyerang 6.000 target Iran dalam dua pekan pertama konflik. Konflik ini sendiri dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, sebuah operasi yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Di pihak Iran, kepemimpinan baru telah mempertegas posisinya. Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ali Khamenei yang kini berusia 56 tahun dan menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran, dalam pidato publik pertamanya pada hari Kamis, menyatakan bahwa Teheran akan terus memblokir Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang dibacakan oleh penyiar televisi negara Iran, ia bersumpah untuk “membalas darah” warga Iran yang tewas dalam perang dengan AS dan Israel, serta memperingatkan negara-negara tetangga agar berhenti menampung pangkalan militer AS di wilayah mereka.
Ketika konflik memasuki babak baru, pertanyaan mengenai keberlanjutan pasokan amunisi bagi AS-Israel dan Iran menjadi krusial, mengingat stok amunisi kerap kali menjadi faktor penentu dalam durasi dan hasil perang. Analis juga terus mencermati strategi khusus yang diterapkan Iran untuk menghadapi kekuatan militer gabungan AS dan Israel, menunjukkan bahwa perang ini melibatkan lebih dari sekadar superioritas senjata, dan seringkali intervensi militer AS di berbagai negara Timur Tengah dan Afrika menciptakan “bencana yang sangat mahal.” Dampak perang ini terasa hingga ke skala global. Konflik antara AS-Israel dan Iran berpotensi besar mengancam rantai pasokan pangan, farmasi, serta sektor pertambangan dunia. Bahkan, laporan menunjukkan bahwa produksi nikel di Indonesia turut terganggu akibat gejolak geopolitik ini, menyoroti bagaimana konflik di Timur Tengah dapat merembet jauh dan memengaruhi stabilitas ekonomi di berbagai negara, serta siapa saja yang akan diuntungkan atau paling terdampak dari eskalasi ini.













