Antrean panjang dan kemacetan parah yang melanda Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, sejak Minggu (15/03) memicu kritik tajam dari berbagai pihak. Pakar transportasi menilai kondisi ini mencerminkan “kelalaian” Kementerian Perhubungan dalam mengelola manajemen penyeberangan laut. Situasi ini semakin krusial mengingat lonjakan arus mudik Idulfitri yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, sebuah momen yang semestinya sudah diantisipasi jauh-jauh hari.
Deddy Herlambang, Peneliti Senior dari Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN), dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya telah memberikan peringatan terkait potensi kepadatan ini. “Kami sudah peringatkan jauh-jauh hari, Nyepi sama Lebaran waktunya mepet,” ujarnya penuh kekecewaan.
Hingga Rabu (18/03), kemacetan dan penumpukan kendaraan roda dua serta roda empat di Pelabuhan Gilimanuk, yang mengarah ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, masih berlanjut. Antrean kendaraan bahkan mengular hingga Pura Tirta Segara Rupek, atau sekitar delapan kilometer dari pelabuhan utama.
Situasi pelik ini menelan korban jiwa. Seorang ibu rumah tangga dari Kebumen, Jawa Tengah, dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan karena mengantre berjam-jam di dalam bus yang hendak keluar dari Bali. Sebelumnya, 17 pemudik lain juga tumbang akibat kelelahan dan paparan cuaca panas saat menunggu giliran naik kapal.
Peristiwa tragis menimpa seorang ibu rumah tangga berinisial RP, 39 tahun, asal Kebumen, Jawa Tengah. Ia meninggal dunia setelah tak sadarkan diri di dalam bus Tami Jaya bernomor polisi AB 1991 AS jurusan Denpasar-Jawa Tengah. Korban yang diketahui melakukan perjalanan seorang diri dari Denpasar pada Selasa (17/03) sekitar pukul 17.00 WITA, dilaporkan pingsan di Kawasan Simpang Manuver, pintu masuk Gilimanuk, pada Rabu (18/03) pukul 06.45 WITA.
Kondektur bus segera meminta bantuan petugas kesehatan di lokasi. Meski sempat mendapatkan tindakan medis darurat berupa Resusitasi Jantung Paru (RJP) di Kantor Kesehatan Karantina, nyawa korban tidak tertolong setelah dilarikan ke Puskesmas II Melaya. Dokter jaga UGD Puskesmas II Gilimanuk, Melaya, dr. Suriyono, membenarkan bahwa pasien sudah meninggal setibanya di fasilitas kesehatan. Berdasarkan pemeriksaan luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. “Pada saat tiba pasien sudah meninggal. Kalau mungkin dikaitkan dengan kondisi sekarang ini, perjalanan jauh, situasi mengantre lama, kemungkinan ada kaitannya dengan kelelahan fisik,” jelas dr. Suriyono.
Saat ini, jenazah korban masih dititipkan di Puskesmas Gilimanuk dan rencananya akan dipulangkan langsung ke rumah duka di Kebumen menggunakan mobil jenazah RSU Negara. Kapolres Jembrana, Kadek Citra Dewi Suparwati, membenarkan kejadian ini dan menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan. “Benar kami mendapat laporan adanya penumpang perempuan yang diketahui meninggal dunia di dalam bus. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan,” ujarnya.
Meskipun demikian, Citra memastikan pengamanan arus mudik dalam Operasi Ketupat Agung 2026 tetap berjalan ketat, dan mengimbau para pemudik untuk tidak memaksakan diri. “Kami mengimbau para pemudik untuk selalu memastikan kondisi kesehatan fisik yang prima sebelum perjalanan jauh. Segera lapor ke pos pengamanan terdekat jika merasa kurang sehat di perjalanan,” tambahnya. Selain masalah kesehatan yang mengancam pemudik, berbagai isu lain juga menjadi perhatian publik, termasuk kegelisahan WNI terkait potensi kenaikan harga BBM yang dikhawatirkan akan memberatkan hidup, serta melonjaknya kasus campak di Indonesia yang memerlukan kewaspadaan tinggi.
Kemacetan parah ini disebut sebagai “mudik terparah” oleh beberapa pemudik. Antrean kendaraan roda dua dan roda empat di Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, terus berlanjut hingga Rabu (18/03). Jika pada Minggu (15/03) antrean mencapai 30-40 kilometer, pada Rabu (18/03) masih mengular hingga Pura Tirta Segara Rupek, sejauh delapan kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.
Made Eko Juna, seorang pemudik dari Denpasar yang hendak menuju Banyuwangi, menceritakan pengalamannya. Berangkat dari Desa Melaya pada Senin sore pukul 17.30 WITA, ia sudah terjebak kemacetan sejak pukul 23.00 WITA. Pria yang mudik bersama keluarganya ini baru bisa memasuki area Terminal Kargo pelabuhan pada pukul 01.30 WITA dini hari, namun masih harus antre panjang hingga Selasa pukul 12.00 WITA. Itu artinya, total waktu yang dihabiskan nyaris dua hari. “Kalau menurut saya, paling parah tahun ini. Pengaturan lalu lintas (parah), truk-truk juga memengaruhi antrean,” cetusnya.
Pemudik lain, Wiwid, juga mengalami hal serupa. Ia berangkat dari Denpasar pada Senin malam pukul 22.00 WITA, namun baru berhasil tiba di pelabuhan keesokan harinya, Selasa, pukul 13.00 WITA. “Saya dari Denpasar mau ke Lumajang, Jawa Timur. Mudik tahun ini sepertinya lebih parah dari tahun sebelumnya,” ujar perempuan yang mudik bersama tiga anggota keluarganya ini.
Pada Selasa (17/03), volume kendaraan meningkat signifikan, mengakibatkan kemacetan panjang hingga 20 kilometer dengan ekor antrean menyentuh wilayah Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya. Pihak PT ASDP Indonesia Ferry mengakui lonjakan mobilitas masyarakat menjelang penutupan sementara layanan penyeberangan Gilimanuk-Ketapang pada Hari Raya Nyepi (18-20 Maret 2026) menjadi penyebab utama antrean tersebut. Tingginya pergerakan kendaraan dalam waktu bersamaan ini memberikan tekanan besar terhadap kapasitas layanan.
Data dari Posko Gilimanuk pada 17 Maret 2026 mencatat 25.105 unit kendaraan menyeberang dari Bali ke Jawa dalam 24 jam terakhir, dengan kenaikan signifikan pada kendaraan roda dua (16.909 unit). Total perjalanan kapal mencapai 243 kali penyeberangan, mengangkut 74.263 orang penumpang. Secara kumulatif, sejak H-10 hingga H-4, jumlah penumpang mencapai 383.398 orang dan jumlah kendaraan 122.892 unit.
Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Yossianis Marciano, mengklaim telah melakukan langkah-langkah taktis, termasuk pengerahan kapal perbantuan KMP Prima Nusantara milik PT Jembatan Nusantara ke lintasan Ketapang-Gilimanuk. Kapal ini diharapkan meningkatkan kapasitas angkut dan mempercepat proses bongkar muat kendaraan. “Seluruh sumber daya saat ini difokuskan untuk mempercepat stabilisasi layanan di lapangan. Pengerahan KMP Prima Nusantara merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas layanan di lintasan tersibuk. Kami juga terus mengoptimalkan pola operasi kapal agar proses penyeberangan berjalan lebih cepat dan antrean dapat ditekan,” ujar Yossianis. Di tengah hiruk pikuk mudik, isu-isu sosial seperti ‘yang berat itu bukan rindu, tapi mudik belum bawa mantu’, dilema generasi ‘sandwich’ menghadapi beban keuangan Lebaran, serta potensi meluasnya flu Singapura, juga turut menjadi percakapan hangat di masyarakat.
Meski PT ASDP mengklaim telah berupaya, Peneliti Senior INSTRAN, Deddy Herlambang, menegaskan bahwa mitigasi yang dirancang oleh Kementerian Perhubungan dan pengelola pelabuhan sangat kurang. Ia kembali mengingatkan bahwa puncak arus mudik Idulfitri yang berhimpitan dengan Hari Raya Nyepi seharusnya sudah diantisipasi, mengingat banyaknya perantau di Bali yang akan pulang kampung ke Jawa Timur sebelum pelabuhan ditutup. “Kami sudah diskusi juga sama mereka (pengelola pelabuhan dan Kemenhub), sudah kasih peringatan, hati-hari Nyepi sama Lebaran waktunya mepet,” kata Deddy Herlambang.
Menurut Deddy, kebanyakan kapal feri justru terkonsentrasi di tiga pelabuhan Merak-Bakauheni (Ciwandan, BJJ Bojonegoro, dan Merak) yang terpantau sepi sejak hari pertama arus mudik. Kemenhub semestinya mengerahkan sebagian kapal yang “menganggur” itu ke Pelabuhan Gilimanuk, terutama mengingat kapasitas pelabuhan di Bali yang terbatas. “Ini jelas kelalaian,” sebutnya. Untuk mengurai antrean, Deddy menyarankan penambahan kapal Roro yang tidak memerlukan dermaga untuk bersandar, sehingga mempercepat proses pengangkutan. “Kapal-kapal kendaraan itu bisa menyeberang lewat pantai, jadi tidak perlu ke dermaga. Jadi transaksi langsung dari pemilik kapal, operator kapal, ke penyeberang.”
Senada dengan itu, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, berpendapat bahwa masalah mendasar antrean panjang di Pelabuhan Gilimanuk bukan sekadar lonjakan volume kendaraan. Ia menyoroti sistem kedatangan ke pelabuhan yang belum tertata dan penambahan armada kapal yang tidak diimbangi dengan pembangunan dermaga yang memadai, baik dari aspek jumlah, kualitas, maupun kapasitas. “Selama infrastruktur dermaga tidak ditambah, ruas jalan menuju pelabuhan akan terus terbebani dan beralih fungsi menjadi area parkir kendaraan,” bebernya.
Djoko menyarankan solusi terintegrasi, meliputi penambahan kapasitas dermaga agar seimbang dengan jumlah armada, perbaikan manajemen kedatangan kendaraan secara terjadwal, serta penerapan sistem tiket daring (online booking). Selain itu, penyediaan zona penyangga (buffer zone) yang memadai sebelum kendaraan memasuki area utama pelabuhan juga krusial agar antrean tidak meluber dan memacetkan jalan. Ia membandingkan dengan lintasan Jawa-Sumatra yang memiliki tiga pelabuhan dengan fleksibilitas tinggi. Sebaliknya, penyeberangan Jawa-Bali hanya mengandalkan poros tunggal Ketapang-Gilimanuk, menjadikannya rentan terhadap lonjakan pemudik yang hampir dipastikan akan memicu antrean panjang yang sulit terurai.
Menanggapi situasi ini, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyampaikan permohonan maaf atas kemacetan parah di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk yang mencapai sekitar 31 kilometer. Ia mengakui kepadatan ini dipicu lonjakan arus kendaraan yang luar biasa di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, namun memastikan petugas terus berupaya mengurai antrean. “Memang ada beberapa kejadian yang apa namanya kami mohon maaf, ada penumpukan oleh karena traffic yang cukup luar biasa di penyeberangan Ketapang dan Gilimanuk itu,” kata Prasetyo. “Tapi sepenuhnya kita melakukan terus monitoring dan petugas-petugas di lapangan bekerja keras untuk mencari solusi supaya bisa mengurangi kemacetan-kemacetan dan antrean-antrean,” ujarnya, seraya mengapresiasi masyarakat yang memanfaatkan kebijakan work from anywhere (WFA) untuk mudik lebih awal guna membantu mengurangi kepadatan.
Prasetyo juga berterima kasih kepada aparat dan instansi terkait yang terlibat dalam pengamanan dan pengaturan arus mudik. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan kementerian/lembaga, termasuk TNI, untuk mengerahkan sarana transportasi guna mendukung kelancaran mudik, termasuk menyiapkan kapal-kapal laut. Sebelumnya, Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengatakan pemerintah bersama Korlantas Polri dan PT ASDP terus mengoptimalkan penanganan di lapangan melalui pengoperasian kapal berkapasitas besar, penambahan armada menjadi 35 unit, optimalisasi buffer zone, serta penerapan sistem tiba-bongkar-berangkat guna mempercepat layanan. Kepatuhan terhadap pembatasan operasional angkutan barang, khususnya truk sumbu tiga ke atas, juga menjadi faktor penting.
Dalam peninjauan pada Selasa (17/02), Kapolda Bali Daniel Adityajaya memberikan arahan strategis kepada Kapolres Jembrana dan jajarannya untuk menciptakan kantong-kantong parkir alternatif guna memecah penumpukan kendaraan yang selama ini mengandalkan Terminal Kargo Gilimanuk. “Selain rekayasa kantong parkir tambahan, prioritas penyeberangan juga harus diberikan kepada pengendara roda dua, kendaraan pribadi, dan kendaraan logistik agar distribusi pasokan kebutuhan pokok tetap lancar,” imbuh Daniel. Kejadian ini mengingatkan pada pengalaman kemacetan parah di ‘Brexit’ yang diakui Kemenhub sebagai hasil ‘prediksi kurang tepat’, serta insiden mudik lain yang dinilai bersumber dari ‘perhitungan tidak akurat’, menandakan bahwa tantangan manajemen transportasi massal masih terus berulang. Selain itu, berbagai isu nasional dan internasional seperti potensi pembukaan opsi Perppu untuk memperlebar defisit APBN, isu-isu terkait konflik AS-Israel vs Iran yang memicu kekhawatiran kenaikan BBM dan ancaman pada sektor pangan, farmasi, serta tambang nikel Indonesia, pergerakan pasukan marinir AS ke Timur Tengah, hingga penolakan negara-negara seperti Jerman dan Spanyol untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, serta profil tokoh seperti Ali Larijani yang dapat memperdalam krisis di kepemimpinan Iran, turut mewarnai dinamika pemberitaan.
Wartawan Christine Nababan di Bali berkontribusi untuk laporan ini.













