TEHERAN — Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menyatakan tekad kuat untuk menargetkan dan melenyapkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, seiring dengan memanasnya konflik di wilayah tersebut yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Dalam sebuah pernyataan di situs web resminya, Sepah News, pada Ahad, IRGC menegaskan ancamannya: “Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh.”
Ancaman ini muncul di tengah berbagai spekulasi mengenai kondisi Netanyahu. Sebelumnya, sempat beredar informasi bahwa Netanyahu mungkin terluka parah atau tewas setelah menjadi sasaran serangan Iran. Dugaan ini semakin menguat setelah munculnya cuplikan gambar saat konferensi pers pada Jumat, di mana jari Netanyahu tampak berjumlah enam, memicu teori konspirasi bahwa Israel mungkin menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyembunyikan kabar kematiannya.
Namun, Kantor Perdana Menteri Israel dengan tegas membantah rumor tersebut, menyatakan, “Ini adalah berita palsu. Perdana Menteri baik-baik saja.” Penyangkalan ini berupaya meredakan ketegangan dan mengklarifikasi status Netanyahu di tengah laporan yang beredar luas.
Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah terus memuncak dengan laporan bahwa pasukan Iran secara intensif melancarkan serangan rudal dan drone baru. Serangan-serangan ini menargetkan beberapa pangkalan militer AS di berbagai lokasi strategis di seluruh wilayah tersebut, menandakan eskalasi signifikan dalam konflik yang melibatkan AS dan Israel.
Teheran sendiri telah mengeluarkan peringatan keras kepada warga sipil untuk menjauhi situs-situs Amerika, menggarisbawahi bahwa perang dengan AS dan Israel tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Menurut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), fasilitas Amerika di Irak, Bahrain, dan Kuwait semuanya telah menjadi sasaran serangan saat konflik ini memasuki hari ke-16.
Seorang juru bicara komando militer tertinggi Iran menambahkan bahwa “drone mematikan kami mencari titik demi titik tempat persembunyian tentara AS di wilayah tersebut, dan setelah mendapatkan informasi intelijen, mereka akan menyerang secara tepat setiap teroris Amerika di daerah tersebut,” menegaskan strategi pengintaian dan penargetan yang cermat. Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyebut serangan balasan Iran terhadap sekutu yang menampung pangkalan AS di Timur Tengah sebagai “kejutan terbesar,” sebuah pernyataan yang menyoroti kompleksitas dan ketidakpastian situasi geopolitik.












