Tragedi memilukan menyelimuti keluarga seniman legendaris Betawi Mpok Nori setelah cucunya, Dwintha Anggary, ditemukan tak bernyawa di rumah kontrakannya di kawasan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, pada Sabtu (20/3) dini hari. Kematian Dwintha yang mendadak ini segera mengungkap tabir misteri, apalagi setelah pihak kepolisian berhasil meringkus terduga pelaku tak lama berselang.
Identitas pelaku pembunuhan Dwintha Anggary terungkap adalah Fuad, mantan suami siri korban. Pria tersebut berhasil diringkus oleh jajaran Subdit Resmob Polda Metro Jaya di Cikupa, Tangerang, Banten, pada Minggu (22/3). Kanit Reskrim Cipayung, Iptu Edy Handoko, membenarkan penangkapan ini seraya menambahkan bahwa Fuad juga diketahui merupakan seorang warga negara asing (WNA) asal Irak. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, turut mempertegas informasi ini, menegaskan bahwa pelaku memang mantan suami korban yang berkewarganegaraan Irak.
Sebelum penemuan jasad Dwintha, gerak-gerik Fuad ternyata sempat terpantau oleh beberapa saksi mata. Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Ressa Marabessy, mengungkapkan bahwa pada Jumat, 20 Maret 2026—sehari sebelum penemuan jasad—Fuad terlihat mondar-mandir di sekitar Gang Daman 1 dan Daman 2. Seorang saksi bahkan sempat menegur Fuad yang saat itu mengenakan kaus hijau dan celana pendek. Kesaksian lain datang dari seorang warga bernama Siti, yang melihat Fuad dengan pakaian serupa sedang menunaikan salat subuh di Masjid Al Ikhlas, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, pada hari yang sama. Kehadiran Fuad yang mencurigakan di sekitar lokasi kejadian menjadi perhatian kepolisian, apalagi setelah ditemukan fakta penting bahwa hanya ada dua orang yang memegang kunci rumah kontrakan Dwintha, yaitu korban sendiri dan Fuad.
Motif di balik aksi keji ini diduga kuat adalah persoalan asmara. Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Alfian Nurrizal, membeberkan bahwa Dwintha Anggary berkeinginan untuk mengakhiri hubungannya dengan tersangka, sebuah keputusan yang ditolak keras oleh Fuad. Dugaan ini semakin diperkuat oleh keterangan dari pihak keluarga korban. Dian, kakak Dwintha, menggambarkan Fuad sebagai pribadi yang sangat cemburuan dan posesif. Ia kerap mengekang Dwintha, melarang adiknya berkomunikasi dengan orang lain, terutama setelah Dwintha mulai bekerja dan memiliki lingkungan pertemanan yang lebih luas. Bahkan, setelah hubungan mereka kandas, Fuad disebut masih berulang kali berupaya mendekati dan mengajak Dwintha untuk rujuk, mengindikasikan obsesi yang mendalam.
Rekaman CCTV di sekitar lokasi menjadi bukti krusial yang memperkuat dugaan keterlibatan Fuad. Menurut penuturan Dian, dari pantauan CCTV, Fuad terlihat mondar-mandir menggunakan sepeda motor di area sekitar rumah Dwintha sejak pukul 8 malam, sehari sebelum insiden nahas itu. Gerak-geriknya seolah memantau situasi selama beberapa jam. Sekitar pukul 00.03 WIB, Fuad kembali terekam mendatangi rumah kontrakan korban. Yang lebih mencurigakan, dalam rekaman tersebut, ia tampak membawa sebuah benda panjang yang menyerupai karpet. Hanya berselang beberapa menit, tepatnya pukul 00.09 WIB, Fuad kembali terlihat, kali ini berlari terburu-buru meninggalkan rumah kontrakan Dwintha dengan pakaian yang berbeda, tanpa menoleh sedikit pun. Keluarga korban menduga kuat bahwa seluruh rangkaian aktivitas yang terekam kamera pengawas tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari peristiwa tragis yang merenggut nyawa Dwintha Anggary. Dengan harapan keadilan dapat ditegakkan, keluarga korban menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya atas perbuatannya.
















