Indeks utama Wall Street melonjak tajam pada Senin (23/3/2026), merefleksikan optimisme pasar setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan perintah penundaan serangan militer terhadap fasilitas pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Keputusan mengejutkan ini, menurut Trump, diambil menyusul “percakapan produktif” dengan Teheran, meredakan ketegangan geopolitik yang mendalam.
Namun, kabar baik ini tidak sepenuhnya tanpa kerutan. Kantor berita Iran, Fars, dengan cepat membantah pernyataan Trump, mengutip sumber yang menegaskan tidak ada komunikasi langsung maupun melalui perantara dengan Amerika Serikat. Bersamaan dengan itu, militer Israel dilaporkan mengumumkan bahwa mereka sedang melancarkan serangan terhadap Iran, menambah kompleksitas narasi dan menimbulkan pertanyaan atas kejelasan situasi di lapangan.
Terlepas dari ketidakpastian tersebut, pasar global merespons dengan pemulihan tajam. Indeks STOXX 600 di Eropa dan logam mulia menunjukkan kenaikan moderat, sementara harga minyak justru mengalami penurunan signifikan, menandakan peningkatan selera risiko di kalangan investor. Harga minyak bahkan anjlok lebih dari 13%, membalikkan kondisi sebelumnya di mana komoditas ini diperdagangkan lebih rendah akibat ancaman serangan terhadap jaringan listrik di Israel dan Iran. Pergeseran sentimen ini mengisyaratkan bahwa pasar global berbalik arah, dengan saham-saham menguat usai kabar penundaan serangan militer ke Iran tersebut.
Chris Larkin, direktur pelaksana perdagangan dan investasi di E*TRADE dari Morgan Stanley, seperti dikutip Reuters, menyuarakan sentimen pasar. “Pasar terbangun dengan beberapa potensi kabar baik dari Timur Tengah pada hari Senin. Tetapi kelanjutan dari setiap pemulihan kemungkinan akan membutuhkan tindak lanjut nyata di bidang geopolitik,” ujarnya. Larkin juga menambahkan bahwa fokus pasar akan terus tertuju pada dinamika harga minyak dan perkembangan politik global.
Pada pukul 09:40 pagi waktu ET, Senin (23/3/2026), indeks utama Wall Street mencatat kenaikan yang substansial. Dow Jones Industrial Average melonjak 758,78 poin atau 1,66%, mencapai 46.336,25. Serupa, indeks S&P 500 menguat 1,52% menjadi 6.605,26, sementara Nasdaq Composite naik 383,36 poin atau 1,77%, ditutup pada 22.033,90. Kenaikan ini menggarisbawahi optimisme pasar yang mendalam setelah berita mengenai penundaan serangan tersebut.
Implikasi dari perkembangan geopolitik ini juga merambah ke ekspektasi kebijakan moneter. Para investor terpantau mengurangi taruhan mereka terhadap kenaikan suku bunga dari Federal Reserve AS, dengan peluang kenaikan pada bulan Desember kini turun menjadi 24%, dibandingkan lebih dari 50% sebelumnya, menurut data FedWatch dari CME Group. Pergeseran ini terjadi setelah minggu sebelumnya pasar telah menyesuaikan ekspektasi untuk menunjukkan bahwa tidak ada pelonggaran kebijakan yang diperkirakan pada tahun 2026, menyusul nada agresif dari The Fed yang memproyeksikan inflasi lebih tinggi dan hanya satu kali penurunan suku bunga tahun ini.
Sebagai indikator meredanya kecemasan pasar, Indeks Volatilitas CBOE (VIX) — yang sering disebut sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street — mundur setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam dua minggu. Indeks ini terakhir tercatat turun 2,03 poin, menetap di angka 24,75, mengindikasikan bahwa sebagian besar kekhawatiran yang membebani pasar telah sedikit berkurang.












