News Stream Pro JAKARTA. Perjalanan investasi Ganda Raharja Rusli, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, adalah cerminan pengalaman panjangnya selama hampir tiga dekade berkecimpung di sektor keuangan. Bekal ini membekalinya dengan pemahaman mendalam tentang beragam instrumen investasi, sekaligus membentuk filosofi uniknya dalam mengelola kekayaan pribadi.
Kesadaran akan pentingnya mengembangkan dana, alih-alih hanya mengandalkan tabungan, mulai muncul pada Ganda pada tahun 2002. Dorongan untuk mencari instrumen dengan potensi pertumbuhan lebih optimal membimbingnya memilih reksadana sebagai langkah awal, khususnya reksadana berbasis saham. Motivasinya saat itu cukup lugas: ingin mengikuti dinamika pasar saham sambil secara bertahap mempelajari cara menganalisis perusahaan yang prospektif untuk investasi.
“Saya ambil instrumen yang tidak langsung ke saham satu perusahaan. Reksadana itu kumpulan dari saham-saham, jadi pemikirannya sederhana saat itu,” kenang Ganda, menjelaskan pendekatan awalnya yang lebih hati-hati namun tetap strategis.
Namun, seperti halnya banyak investor pemula, perjalanan investasi Ganda tidak luput dari tantangan. Pada masa-masa awal, ia seringkali bergulat dengan keputusan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual portofolio, cenderung memandang investasi sebagai aktivitas perdagangan jangka pendek. Keterbatasan informasi dan pemahaman mengenai seluk-beluk investasi turut menimbulkan keraguan, apakah pilihan instrumennya telah selaras dengan kebutuhan dan profil risikonya.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman serta pemahaman, Ganda semakin matang dalam mengelola investasi. Transformasi ini membawanya pada portofolio investasi yang kini terdiversifikasi secara strategis, sebuah pendekatan yang krusial di tengah dinamika pasar keuangan yang kerap berubah.
Saat ini, alokasi dananya mencakup 30% pada emas digital, 30% pada obligasi pemerintah, 20% pada deposito, dan 20% pada saham. Pentingnya diversifikasi ini semakin terasa mengingat prospek pasar keuangan global dan domestik yang terus bergerak; bahkan di tengah gejolak global, reksadana menunjukkan kinerja positif pada awal tahun dengan proyeksi return yang menarik hingga 2026. Obligasi pemerintah, seperti seri SR024 yang memiliki prospek menjanjikan dan berpotensi terserap pasar dengan kuota hingga Rp 15 triliun, turut menjadi pilar penting dalam strateginya. Untuk portofolio saham, Ganda membaginya lagi menjadi dua kategori: sekitar 60% pada saham berfundamental kuat dan 40% pada saham dengan risiko lebih tinggi, mencerminkan strategi yang lebih terukur dalam menghadapi berbagai kondisi pasar.
Dalam pandangannya, kunci utama dalam mengelola investasi adalah perubahan pola pikir. Ini dimulai dengan kesadaran akan urgensi berinvestasi, kemudian berlanjut pada penghitungan cermat antara pendapatan dan pengeluaran. Ia juga menekankan pentingnya untuk senantiasa mengikuti perkembangan terbaru dari berbagai instrumen investasi di pasar.
Setelah memahami secara mendalam karakteristik setiap instrumen, Ganda menyusun target komposisi portofolio dan berkomitmen untuk secara disiplin menjalankan rencana tersebut. “Intinya disiplin untuk kembali ke rencana, itu kunci bagi saya,” tegasnya, menyoroti esensi konsistensi dalam mencapai tujuan investasi.
Perjalanan investasi Ganda juga diperkaya oleh pengalaman pahit. Ia pernah tergiur ajakan teman untuk menanamkan dana dalam skema yang belakangan terungkap sebagai mekanisme Ponzi, yang mengakibatkan dana investasinya lenyap tak kembali.
Kisah serupa terulang ketika ia menginvestasikan dana pada usaha milik temannya, yang sayangnya tidak berjalan sesuai harapan dan berujung pada kerugian signifikan.
Dari serangkaian kegagalan tersebut, Ganda memetik pelajaran berharga: investasi harus dilakukan dengan kesadaran penuh dan tidak boleh didorong oleh emosi sesaat. Ia menegaskan bahwa setiap instrumen investasi selalu disertai risiko yang wajib dipahami sejak awal, termasuk potensi terburuk yang mungkin terjadi.
Lebih jauh lagi, ia memiliki pandangan bahwa investasi melampaui sekadar aspek finansial. Pendidikan, kesehatan, pengembangan rohani, dan bahkan pola pikir, semuanya merupakan bentuk investasi yang tak kalah pentingnya untuk masa depan yang lebih baik.
Bagi Ganda, fondasi utama dalam berinvestasi adalah niat yang kuat dan kedisiplinan. Ia berpendapat, waktu terbaik untuk memulai investasi adalah ketika seseorang telah memiliki penghasilan sendiri. Ia juga menekankan bahwa investasi sangat terkait erat dengan perilaku manusia. Oleh karena itu, investor perlu memahami profil risiko masing-masing instrumen dan memberikan waktu yang cukup bagi investasi untuk bertumbuh, sebelum akhirnya dapat memetik hasilnya di kemudian hari.













