Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (13/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi signifikan. Mengutip data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diakses melalui RTI, IHSG ambruk 224,90 poin atau setara 3,05%, mengakhiri sesi di level 7.137,21.
Sepanjang hari perdagangan Jumat, pergerakan IHSG didominasi oleh tekanan jual, sehingga terus berada di zona merah. Indeks sempat menyentuh level terendah di 7.132,21 dan tertinggi di 7.350 sebelum ditutup melemah tajam.
Volume perdagangan saham di BEI tercatat masif, mencapai 28,69 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 14,04 triliun. Tekanan jual yang kuat tercermin dari dominasi saham yang mengalami penurunan, yakni sebanyak 629 saham. Sementara itu, hanya 104 saham yang berhasil menguat dan 86 saham lainnya stagnan.
Sentimen negatif pasar semakin diperparah dengan aksi jual bersih atau net sell yang dilakukan oleh investor asing. Total net sell di seluruh pasar mencapai Rp 117,48 miliar, menandakan minimnya minat beli dari investor global pada penutupan pekan ini.
Kondisi net sell ini menimbulkan pertanyaan di kalangan investor. Umumnya, saham-saham blue chip sering menjadi pilihan utama investor asing. Namun, pada perdagangan kali ini, justru terlihat tekanan jual yang signifikan pada saham-saham unggulan. Apakah fenomena ini mengindikasikan adanya prospek keuntungan di masa mendatang atau justru sebaliknya, mengingat pergerakan harga saham saat ini?
Koreksi signifikan yang dialami IHSG pada Jumat ini sebesar 3,05% menunjukkan tren pelemahan yang kian dalam. Sebagai perbandingan, pada sesi sebelumnya, IHSG juga sempat terkoreksi 0,69% ke level 7.389. Pergerakan ini menggarisbawahi pentingnya bagi investor untuk terus mencermati saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing dalam periode terkini.
Aksi jual bersih investor asing ini didominasi oleh beberapa saham berkapitalisasi besar. Berikut adalah 10 saham dengan nilai net sell terbesar oleh investor asing pada penutupan perdagangan Jumat:
1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 470,34 miliar
2. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 178,25 miliar
3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 133,65 miliar
4. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 42,57 miliar
5. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp 37,43 miliar
6. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) Rp 26,74 miliar
7. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 19,18 miliar
8. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp 17,91 miliar
9. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Rp 17,04 miliar
10. PT Kalbe Farma Tbk (KBLF) Rp 16,11 miliar














