News Stream Pro JAKARTA. Bursa Asia menunjukkan sinyal positif pada perdagangan hari Selasa (2 Desember 2025), dengan Jepang dan Australia memimpin penguatan setelah sebelumnya pasar global mengalami koreksi akibat jeda reli di Wall Street.
Di Tokyo, indeks Nikkei mengawali perdagangan dengan kenaikan tipis sebesar 0,2% ke level 49.407,63. Kenaikan ini menjadi sinyal pemulihan setelah sehari sebelumnya indeks Nikkei merosot tajam sebesar 1,9%, bahkan menembus level psikologis 50.000. Indeks Topix juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1% ke level 3.342,12.
Namun, pasar Jepang masih dibayangi sentimen kebijakan dari Bank of Japan (BOJ). Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, mengisyaratkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya, yang mendorong penguatan yen hingga mencapai 155,45 per dolar AS. Kondisi ini turut memengaruhi dinamika pasar saham di Jepang.
Sementara itu, di Australia, indeks S&P/ASX 200 menguat sebesar 0,4% ke level 8.598,70 setelah mengalami pelemahan selama dua hari berturut-turut. Sektor pertambangan menjadi motor penggerak utama penguatan ini, dengan lonjakan sebesar 1,2% berkat reli harga komoditas. Beberapa raksasa pertambangan seperti BHP, Rio Tinto, dan Fortescue, masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 1,2%, 1,8%, dan 0,9%.
Selain sektor pertambangan, saham energi juga ikut merasakan dampak positif dari kenaikan harga minyak global sebesar 1%. Woodside Energy naik 1,3%, sementara Santos bertambah 0,5%. Sebaliknya, sektor teknologi dan konsumsi non-pokok mengalami koreksi, mengikuti pelemahan yang terjadi pada indeks Nasdaq di Amerika Serikat.
Pergeseran strategi investasi juga terlihat di Australia, di mana investor mulai mengalihkan dana dari saham perbankan ke saham komoditas. Hal ini didorong oleh kekhawatiran akan valuasi bank yang dianggap sudah terlalu tinggi, di tengah spekulasi bahwa siklus pelonggaran suku bunga oleh Reserve Bank of Australia (RBA) akan segera berakhir.
Di Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,2% ke level 13.469,37.
Pergerakan positif di bursa Asia ini terjadi setelah sebelumnya bursa global mengalami pelemahan. Wall Street ditutup kompak di zona merah, dengan Dow Jones turun 0,90%, S&P 500 melemah 0,53%, dan Nasdaq terkoreksi 0,38%. Investor cenderung mengambil jeda setelah reli selama lima hari berturut-turut, sembari menantikan rilis data ekonomi penting AS pada pekan ini.
Yield obligasi AS juga mengalami kenaikan serentak, dipimpin oleh yield Treasury 10 tahun yang naik 7,3 bps ke level 4,092%. Penguatan yield ini mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang rilis indeks PCE, indikator inflasi favorit The Fed, serta pertemuan FOMC pada tanggal 9–10 Desember. Data-data ini akan menjadi pertimbangan penting bagi kebijakan moneter AS ke depan.
Selain pasar saham, pergerakan juga terjadi di pasar komoditas dan aset kripto. Harga emas mencapai level tertinggi dalam enam pekan terakhir, didukung oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga AS. Sementara itu, Bitcoin mengalami penurunan lebih dari 5% ke level US$86.172 akibat aksi ambil untung.
Secara keseluruhan, pasar Asia pada hari Selasa menunjukkan stabilitas, dengan fokus utama tertuju pada data ekonomi global dan arah kebijakan moneter dari Amerika Serikat, Jepang, dan Australia. Kebijakan-kebijakan ini akan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa pekan mendatang. Sentimen kebijakan Bank of Japan, khususnya, terus menjadi perhatian pelaku pasar seiring dengan peluang kenaikan suku bunga yang dipertimbangkan.
Ringkasan
Bursa Asia menunjukkan sinyal positif, dipimpin oleh Nikkei Jepang dan ASX Australia. Nikkei naik tipis setelah penurunan tajam sebelumnya, namun sentimen kebijakan Bank of Japan yang mengisyaratkan kenaikan suku bunga turut mempengaruhi pasar. ASX juga menguat, didorong oleh sektor pertambangan berkat reli harga komoditas.
Penguatan di bursa Asia terjadi setelah pelemahan di Wall Street. Investor menantikan rilis data ekonomi penting AS dan pertemuan FOMC, yang akan menjadi pertimbangan penting untuk kebijakan moneter. Selain saham, harga emas juga naik, sementara Bitcoin mengalami penurunan.








