News Stream Pro JAKARTA. Di tengah gejolak dan ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik, minat investasi dari investor ritel di Indonesia tercatat tetap tinggi, meskipun kini cenderung lebih selektif. Fenomena ini berhasil direkam oleh Bareksa, platform investasi terkemuka, dengan nilai investasi ritel yang stabil hingga akhir Februari 2026.
Data Bareksa menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan dalam dua kategori investasi utama: emas dan saham. Investasi emas digital mencatat peningkatan luar biasa sebesar 331% secara tahunan, sementara transaksi saham juga melonjak hingga 271% dalam periode yang sama. Kenaikan drastis ini mengindikasikan pergeseran preferensi investor terhadap aset yang dianggap lebih aman atau memiliki potensi pertumbuhan tinggi di tengah dinamika pasar.
Ni Putu Kurniasari, seorang Officer di Bareksa, menjelaskan bahwa peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap pembelian emas secara digital tidak lepas dari dukungan regulasi yang jelas di Indonesia. Baik dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kerangka hukum yang kuat memberikan rasa aman bagi investor. Selain itu, efisiensi menjadi daya tarik utama transaksi emas digital, terutama karena menawarkan nilai investasi minimum yang rendah. “Di Bareksa, misalnya, investasi emas dapat dimulai dari Rp50 ribu sehingga menjadi solusi bagi investor ritel,” terang Ni Putu dalam sebuah agenda media gathering Bareksa di Jakarta pada Rabu (11/3/2026). Kemudahan akses ini membuka pintu bagi lebih banyak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pasar emas.
Sejalan dengan pertumbuhan signifikan tersebut, Bareksa juga menyambut positif regulasi terkait Exchange Traded Fund (ETF) Emas. Langkah ini membuka peluang besar bagi Bareksa untuk mendistribusikan produk ETF Emas di platformnya, memperluas pilihan investasi bagi para nasabah yang mencari diversifikasi dan kemudahan dalam berinvestasi emas.
Sementara itu, pasar saham Indonesia kini sedang menjadi sorotan intens. Berbagai isu mencuat, mulai dari transparansi data kepemilikan saham yang masih perlu ditingkatkan, ketidakseimbangan penyebarluasan informasi (asymmetric information) bagi investor ritel, hingga adanya praktik yang melibatkan pelaku dengan modal besar (big player) dan manipulasi pergerakan harga saham melalui transaksi orang dalam (insider trading) oleh segelintir pihak.
Menyikapi tantangan tersebut, Bareksa menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal Indonesia yang sedang diupayakan oleh regulator, seluruh pemangku kepentingan, hingga pelaku pasar. Karaniya Dharmasaputra, CEO/Co-Founder Bareksa, menegaskan komitmen perusahaannya. “Bareksa mendukung langkah regulator pasar modal untuk membersihkan praktik yang tidak berpihak pada investor ritel, untuk menjaga integritas pasar modal Indonesia di mata investor,” ujar Karaniya pada kesempatan yang sama. Dukungan ini menunjukkan dedikasi Bareksa dalam menciptakan lingkungan investasi yang lebih adil dan transparan bagi semua pihak.
Dengan berbagai isu yang mengemuka di pasar saham, para pelaku pasar dan investor tentu menaruh perhatian besar pada prospek ke depan. Misalnya, sejumlah lembaga seperti BNI Sekuritas telah mengungkapkan target dan sektor pilihan mereka untuk prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun 2026, memberikan gambaran mengenai arah pasar yang berpotensi memengaruhi keputusan investasi. Ke depan, Bareksa memandang bahwa tren diversifikasi investasi akan semakin berkembang pesat. Hal ini didorong oleh meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan portofolio investasi yang seimbang sebagai strategi untuk menghadapi volatilitas pasar dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang.












