
Dalam pertemuan tersebut, Pandji tidak datang sendiri. Ia didampingi oleh kuasa hukumnya, Haris Azhar, dan disambut langsung oleh Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. Kiai Haji Asrorun Ni’am. Menariknya, Pandji bahkan mengajak pihak MUI untuk menyaksikan secara langsung cuplikan materi komedinya, memberikan konteks yang lebih jelas mengenai isi pertunjukannya.
Pandji mengungkapkan bahwa suasana dialog berlangsung begitu cair dan penuh tawa. Momen tersebut dirasa krusial baginya untuk memberikan penjelasan langsung, terutama setelah karyanya dilaporkan ke polisi, guna menghindari potensi salah penafsiran. “Intinya adalah, saya tadi berdialog dan kami sempat menonton pertunjukannya bareng-bareng, terus sudah gitu sempat ada diskusi. Dan saya diingatkan bahwa sebagai orang yang berkarya, tentu selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi,” ujar Pandji pada Selasa (3/2).
Menurutnya, peran aktif seniman dalam menjelaskan makna di balik karyanya adalah hal esensial untuk mencegah kegaduhan publik. “Sebagai seniman, ketika saya bikin karya, tentu ada banyak penafsiran, tapi senimannya sendiri kan bagian juga bisa ditanya untuk kejelasan maksud dari sebuah karya. Dan saya senang bisa punya kesempatan untuk bertemu dan menjelaskan,” tambahnya, menegaskan pentingnya komunikasi langsung antara seniman dan audiens.
Lebih lanjut, Haris Azhar menjelaskan bahwa kedatangan kliennya ke MUI murni dilandasi niat silaturahmi dan menjelaskan situasi yang berkembang. Haris menekankan urgensi mendiskusikan tuduhan “Mens Rea” (niat jahat) yang dialamatkan kepada Pandji dari sudut pandang keilmuan agama, agar penilaian dapat dilakukan secara komprehensif. “Tadi kita ke sini sebenarnya niatnya tabayyun, silaturahim, menjelaskan situasi yang berkembang belakangan ini. Kita jelaskan, Panji jelaskan Mens Rea itu pertunjukan apa, tujuannya apa. Latar belakangnya, proses seperti apa, dan selebihnya ngobrol rileks,” kata Haris.
Haris berharap MUI dapat merespons situasi ini dengan arif, memanfaatkan fasilitas keilmuan yang dimiliki institusi tersebut untuk memberikan pencerahan. Meski diskusi berjalan menyenangkan dan produktif, Pandji mengakui tetap menerima teguran dan nasihat konstruktif dari pihak MUI. Ia pun berkomitmen penuh untuk menjadikan masukan tersebut sebagai bahan evaluasi demi kemajuan karyanya di masa mendatang.
“Saya diingatkan bahwa sebagai orang yang berkarya, tentu selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi. Dan saya punya komitmen, karena saya ingin terus berkarya, dan karyanya didesain untuk menghibur sebanyak-banyaknya orang, maka karya itu harus didesain dengan mempertimbangkan perasaan sebanyak-banyaknya orang juga,” tutur Pandji. Ia menegaskan, langkah proaktif seperti sowan ini adalah bukti nyata komitmennya untuk selalu membuka diri pada dialog, ketimbang terjebak dalam konflik berkepanjangan.












