Industri musik Indonesia berduka atas kepergian salah satu musisi dan penyanyi terbaiknya, Oxavia Aldiano, yang akrab disapa Vidi Aldiano. Sosok yang dikenal mudah bersahabat dengan siapa saja ini meninggal dunia pada Sabtu, 7 Maret 2026, pukul 16.33 WIB. Penyanyi berusia 35 tahun ini mengembuskan napas terakhirnya dalam dekapan keluarga besar, yang melepas kepergiannya dengan hati penuh keikhlasan.
Kehilangan Vidi bukan sekadar berpisahnya dengan seorang vokalis bertalenta, melainkan berhentinya sebuah narasi panjang tentang keberanian dan optimisme. Selama bertahun-tahun, publik menjadi saksi bisu bagaimana pria lulusan The University of Manchester ini berjuang melawan kanker ginjal stadium tiga, senyumnya hampir tak pernah pudar di wajahnya, menjadi simbol kekuatan di tengah badai.
Vidi Aldiano Mendobrak Lewat “Nuansa Bening”
Lahir di Jakarta pada 29 Maret 1990, Vidi mewarisi bakat seni yang mengalir kental dalam darahnya. Kakeknya, S. Darsih Kissowo, adalah penyanyi keroncong legendaris. Bakat musiknya sudah terasah sejak dini di bawah bimbingan sang ibu, seorang guru piano. Ketertarikannya pada melodi telah terlihat sejak usia dua tahun, hingga membawanya menjuarai lomba menyanyi tingkat anak-anak. Meski sempat dikenal sebagai sosok pemalu dan kutu buku saat bersekolah di Yayasan Al-Azhar, Vidi mulai menunjukkan eksistensinya di dunia musik saat SMA, bahkan sempat membentuk grup musik bersama penyanyi Raisa sebelum akhirnya memantapkan langkahnya meniti karier solo.
Jalan Vidi menuju puncak ketenaran tidaklah mulus dan instan. Pada usia 16 tahun, ia sempat mengikuti audisi Indonesian Idol 2006, namun sayangnya gagal melaju ke 100 besar. Ia juga harus merasakan pahitnya penolakan dari delapan label rekaman yang kala itu menganggap tren solois pria kurang menjanjikan. Namun, kegigihannya membuahkan hasil. Lewat album debutnya, Pelangi di Malam Hari (2008), lagu “Nuansa Bening” milik Keenan Nasution yang diaransemen ulang oleh Vidi, berhasil meledak di pasaran dan menjadi pintu gerbang ketenarannya.
Sosok Vidi Aldiano, yang pada akhirnya mengembuskan napas terakhirnya dikelilingi keluarga tercinta, telah membuktikan bahwa ketekunan adalah kunci. Setelah sukses dengan “Nuansa Bening”, kariernya pun terus menanjak pesat dengan deretan lagu hit seperti “Status Palsu” dan “Cemburu Menguras Hati”. Puncaknya, album Persona (2016) berhasil meraih sertifikasi Triple Platinum setelah terjual lebih dari 250.000 keping dalam waktu lima bulan, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu solois pria paling berpengaruh di Indonesia.
Akademisi yang Terjebak di Panggung Hiburan
Di balik gemerlap sorot lampu panggung, Vidi adalah pribadi yang sangat memprioritaskan pendidikan, sebuah anomali di tengah hiruk-pikuk industri hiburan. Setelah menyelesaikan studi sarjana di Universitas Pelita Harapan, ia tak ragu untuk melanjutkan pendidikan S2 di University of Manchester, Inggris.
Ia sukses meraih gelar Master of Science (M.Sc) di bidang Innovation Management and Entrepreneurship dengan predikat cum laude pada tahun 2015. Bekal akademis yang mumpuni ini tidak ia sia-siakan. Vidi dikenal sebagai pengusaha muda yang cerdas, mulai dari mendirikan label musik sendiri hingga berinvestasi di berbagai lini bisnis kreatif. Ia membuktikan bahwa seorang seniman bisa memiliki ketajaman bisnis dan kedalaman intelektual secara bersamaan, menjadikannya inspirasi bagi banyak orang.
Perjuangan Melawan Kanker dan Album Senandika
Titik balik terbesar dalam hidup Vidi terjadi pada akhir 2019 ketika ia didiagnosis menderita kanker ginjal. Alih-alih menarik diri dari sorotan publik, Vidi memilih untuk bersikap transparan dan membagikan setiap tahap perjuangannya. Mulai dari operasi pengangkatan satu ginjalnya di Singapura hingga sesi kemoterapi rutin yang ia istilahkan dengan sebutan “spa day”, semua diceritakan dengan jujur dan penuh keberanian.
Sikap positifnya menjadi inspirasi luar biasa bagi banyak orang yang mengikuti kisahnya. Di tengah perjuangan medis yang berat, ia tetap produktif. Album Senandika yang dirilis pada tahun 2022 menjadi bukti nyata resiliensinya yang tak tergoyahkan. Lagu-lagu seperti “Bertahan Lewati Senja” bukan hanya sekadar karya musik, tetapi merupakan manifestasi dari semangat hidupnya yang tak kunjung padam, meskipun raga sedang didera sakit yang hebat.
Sang Duta Persahabatan dan Warisan Kasih
Warganet memberinya julukan “Duta Persahabatan” bukan tanpa alasan. Vidi dikenal memiliki jaringan pertemanan yang sangat luas, menjangkau berbagai kalangan dan generasi. Ia adalah sosok yang hampir selalu hadir dalam setiap momen penting rekan-rekan artisnya, mulai dari lamaran hingga pernikahan, menunjukkan kesetiaan dan kehangatan persahabatan. Sifatnya yang hangat dan supel membuatnya dicintai oleh lintas generasi di industri hiburan.
Puncak kebahagiaan pribadinya terjadi pada awal 2022 saat ia meminang aktris Sheila Dara Aisha. Pasangan ini menjadi salah satu favorit publik karena dinamika hubungan mereka yang unik, jujur, dan penuh keceriaan. Sheila menjadi pilar kekuatan utama Vidi, selalu mendampingi dan memberikan dukungan tak terbatas dalam menghadapi hari-hari sulitnya hingga garis finis kehidupannya.
Wafatnya Vidi Aldiano pada 7 Maret 2026 meninggalkan duka mendalam yang merata di seluruh tanah air. Keluarga besar menyampaikan bahwa Vidi telah berpulang dalam damai, diiringi keikhlasan dari orang-orang terdekatnya, meninggalkan warisan berupa karya dan semangat positif yang tak akan lekang oleh waktu. Duka cita yang begitu mendalam juga tergambar jelas dari berbagai unggahan para sahabat yang kehilangan sosok “Duta Persahabatan” sejati.
ANDARA ANGESTI













