Pada awal perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 5.919,56. Indeks sempat menyentuh posisi tertinggi di 5.924,51, namun tak mampu bertahan dan kemudian tertekan hingga mencapai level terendah 5.849,86. Fluktuasi ini mengindikasikan adanya tekanan signifikan di pasar.
Menanggapi pelemahan IHSG yang terjadi dalam sepekan terakhir, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman menilai bahwa tekanan tersebut bukan semata-mata dipicu oleh kinerja emiten. Sebaliknya, menurut Rizal, kondisi ini merupakan kombinasi kompleks dari sentimen global dan domestik yang secara bersamaan membebani pasar modal.
Rizal menjelaskan bahwa pelemahan ini lebih didominasi oleh penguatan dolar AS yang memicu arus keluar modal (capital outflow), diikuti oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang kini mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Selain itu, meningkatnya persepsi risiko terhadap prospek ekonomi domestik turut memperparah keadaan, mendorong investor untuk melakukan aksi jual secara luas, bahkan pada saham-saham yang secara fundamental kuat dan menawarkan dividen tinggi. Dalam konteks sentimen domestik yang sensitif ini, informasi terkait stabilitas dan integritas seperti penahanan Wakil Menteri Imipas Silmy Karim oleh KPK, yang dikabarkan memiliki harta kekayaan menembus Rp234 miliar, dapat turut memengaruhi persepsi risiko yang dimaksud.
Menurut Rizal, kondisi pasar saat ini secara jelas mengindikasikan bahwa investor sedang mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Ini menandakan pasar sedang berada dalam fase risk-off, di mana tekanan jual tidak hanya menyasar saham-saham dengan fundamental yang lemah, tetapi juga emiten-emiten dengan kinerja yang relatif baik. Hal ini menegaskan bahwa pergerakan pasar lebih didorong oleh kekhawatiran menyeluruh dibandingkan kemerosotan kinerja individual perusahaan.
Meski demikian, di tengah koreksi yang terjadi, Rizal juga melihat adanya peluang menjanjikan bagi para investor cerdas. Penurunan harga saham yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat banyak valuasi emiten menjadi lebih menarik, menawarkan potensi keuntungan bagi mereka yang berani mengambil posisi beli di tengah sentimen pasar yang kurang kondusif.
Ia menambahkan, potensi pemulihan IHSG tetap terbuka lebar apabila sejumlah faktor pendukung mulai menunjukkan perbaikan signifikan. Stabilitas nilai tukar rupiah, kembalinya aliran modal asing ke pasar domestik, serta meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah akan menjadi pilar utama untuk mendorong kebangkitan indeks.
Lebih lanjut, Rizal optimistis bahwa emiten-emiten dengan fundamental keuangan yang kuat dan menawarkan dividend yield tinggi berpotensi menjadi pendorong utama (motor rebound) penguatan indeks saat sentimen pasar mulai pulih. Saham-saham ini diharapkan mampu menarik kembali minat investor dan memimpin momentum pemulihan pasar.













