Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, mengungkapkan pandangannya terkait gol cepat Arsenal dalam final Liga Champions. Ia menilai gol tersebut lahir dari keberuntungan, sekaligus menjadi tantangan awal yang berat bagi timnya, meskipun akhirnya PSG berhasil keluar sebagai juara melalui babak adu penalti yang dramatis.
Pertandingan final yang berlangsung sengit di Puskas Arena, Budapest, pada Sabtu malam, 30 Mei 2026, mempertemukan kedua tim dalam laga yang berkesudahan 1-1 hingga babak tambahan waktu. Arsenal sempat mengejutkan dengan membuka keunggulan pada menit keenam melalui gol Kai Havertz. Namun, PSG mampu menyamakan kedudukan pada babak kedua berkat tendangan penalti Ousmane Dembele, memaksa laga dilanjutkan ke babak adu penalti yang akhirnya dimenangkan oleh PSG dengan skor 4-3.
“Saya pikir pertandingan dimulai dengan cara terbaik bagi mereka. Mereka mencetak gol dari keberuntungan,” kata Luis Enrique kepada TNT Sports, seperti dikutip dari ESPN. “Setelah itu tekanannya ada pada mereka karena mereka tahu cara bertahan. Pertandingannya sangat sulit.” Pelatih asal Spanyol itu menambahkan bahwa Arsenal mampu menyulitkan PSG dengan kekuatan fisik dan organisasi permainan bertahan yang sangat baik. “Kami terbiasa menyerang tim yang menempatkan banyak pemain di belakang bola. Namun, Arsenal sangat kuat secara fisik dan selalu berusaha memanfaatkan setiap situasi. Itu membuat pertandingan menjadi sangat sulit,” jelasnya.
Meski demikian, Enrique meyakini bahwa timnya pantas mendapatkan hasil imbang pada waktu normal dan layak meraih gelar juara. “Saya pikir kami pantas menyamakan kedudukan dan pada akhirnya kami sangat senang bisa memenangkan trofi ini,” ujarnya penuh kebanggaan.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi penentu gelar, tetapi juga mengukuhkan PSG sebagai tim kedua pada era Liga Champions yang mampu mempertahankan gelar secara beruntun, menyamai rekor Real Madrid yang fenomenal. Gelar tersebut juga menjadi trofi Liga Champions ketiga bagi Enrique sebagai pelatih, sebuah pencapaian yang mengesankan. Namun, ia dengan rendah hati menolak sebutan legenda. “Legenda? Saya tidak tertarik dengan itu. Saya baru punya tiga gelar, jadi saya masih harus berkembang. Saya akan senang jika bisa meraih empat gelar,” ucapnya, menunjukkan ambisi yang tak pernah padam.
Enrique juga tidak lupa memberikan apresiasi tinggi atas penampilan Arsenal di laga final. “Selamat kepada Arsenal. Mereka bermain sangat baik. Mereka mencoba membawa pertandingan ke fase-fase sulit dan mengancam. Kami berusaha mengontrol bola, melakukan tekanan, dan akhirnya berhasil memenangkan gelar,” paparnya. Pertemuan di final Liga Champions ini memang menjadi duel strategis yang menarik, seolah menyajikan pertemuan dua gaya sepak bola, dengan sentuhan taktik yang kental dipengaruhi oleh filosofi Spanyol dari kedua pelatih.
Sementara itu, Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi, memberikan pujian setinggi langit kepada Enrique, menyebutnya sebagai pelatih terbaik di dunia. Al-Khelaifi juga optimistis bahwa sang pelatih akan tetap bertahan di klub, meskipun negosiasi kontrak baru masih berlangsung. “Dia adalah pelatih terbaik di dunia. Dia sangat istimewa, baik sebagai pelatih maupun sebagai pribadi. Apa yang dia lakukan bersama tim ini luar biasa,” kata Al-Khelaifi, menegaskan kepercayaan penuh klub terhadap kepemimpinan Enrique.












