MOSKWA, KOMPAS.com – Presiden Rusia Vladimir Putin telah melontarkan tawaran signifikan, yaitu penggunaan aset Rusia yang kini dibekukan di Amerika Serikat (AS) untuk mendukung agenda perdamaian dan rekonstruksi. Inisiatif ini hadir di tengah bergulirnya upaya diplomasi baru yang diusung oleh Presiden AS Donald Trump.
Putin secara gamblang menyatakan kesiapan Rusia untuk mengalokasikan aset negaranya yang masih terblokir di AS demi membangun kembali wilayah Ukraina yang hancur akibat perang, asalkan perjanjian damai resmi telah tercapai. Lebih lanjut, ia juga menyatakan kesediaan untuk menyumbangkan 1 miliar dollar AS, atau setara dengan hampir Rp 17 triliun, dari aset Rusia yang dibekukan di AS untuk Dewan Perdamaian yang dibentuk Trump.
Pernyataan strategis ini disampaikan Putin dalam rapat Dewan Keamanan Rusia, yang menurut laporan Bloomberg pada Kamis (22/1/2026), telah dibahas dengan pihak AS. Ia juga merencanakan pembahasan lebih lanjut mengenai tawaran tersebut dalam pertemuan mendatang dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Moskwa pada hari yang sama.
“Bahkan sebelum kita menyelesaikan persoalan partisipasi dalam Dewan Perdamaian dan cara kerjanya, mengingat hubungan khusus Rusia dengan rakyat Palestina, saya percaya kami dapat mengarahkan 1 miliar dollar ke Dewan Perdamaian dari aset Rusia yang dibekukan di bawah pemerintahan AS sebelumnya,” ujar Putin. Ia menambahkan bahwa sisa dana dari aset itu juga dapat dialokasikan untuk memulihkan wilayah-wilayah yang rusak parah akibat pertempuran, setelah tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Tawaran ini sekaligus menggarisbawahi upaya Trump yang sebelumnya mengundang Putin untuk bergabung dalam ‘Dewan Perdamaian Gaza’, sebuah inisiatif yang bahkan sempat memunculkan klaim dari Trump bahwa Putin telah setuju, meskipun Rusia pada awalnya memilih bungkam terkait hal tersebut. Dalam konteks yang sama, salah satu sekutu dekat Putin yang sebelumnya dianggap musuh, juga telah bergabung dengan Dewan Perdamaian besutan Trump, menunjukkan spektrum diplomasi yang beragam.
Langkah Rusia ini dipandang sebagai upaya taktis untuk menarik simpati Donald Trump, sekaligus menghindarkan diri dari potensi sanksi ekonomi tambahan. Namun, perlu dicatat bahwa dana yang ditawarkan tersebut saat ini tidak berada di bawah kendali langsung Kremlin. Sementara itu, nilai aset Rusia yang dibekukan di AS diperkirakan hanya berkisar antara 4 miliar hingga 5 miliar dollar AS, jumlah yang relatif kecil jika dibandingkan dengan skala kebutuhan rekonstruksi Ukraina yang masif. Sebelumnya, Trump sendiri kerap melontarkan kritikan tajam, menyalahkan baik Putin maupun Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebagai penghambat utama perdamaian, dan bahkan mengancam akan memberlakukan tarif serta sanksi terhadap mitra dagang Rusia, yang menambah urgensi bagi Moskwa untuk mencari solusi diplomatik.
Secara global, total aset Rusia yang dibekukan diperkirakan mencapai sekitar 300 miliar dollar AS, dengan porsi terbesar berada di Eropa. Meskipun demikian, Rusia terus berupaya keras untuk menghindari eskalasi sanksi AS terhadap dirinya maupun terhadap mitra dagangnya. Di sisi lain, Moskwa belum menunjukkan indikasi akan mengubah arah perang di Ukraina yang telah berlangsung selama hampir empat tahun, menandakan kompleksitas dalam mencari resolusi. Pada akhirnya, kedua belah pihak masih berselisih tajam terkait sejumlah poin kunci dalam rencana perdamaian yang diusulkan Trump, termasuk tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan wilayah yang saat ini belum sepenuhnya berada di bawah kendali Moskwa.













