EVAKUASI dan pembersihan puing-puing musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, terus diintensifkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa proses pembersihan pesantren yang ambruk sepekan lalu ini masih berlangsung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa satu unit breaker excavator penghancur beton dan dua bucket excavator terus beroperasi di lokasi kejadian. “Pembersihan material puing telah mencapai 80 persen, dan jenazah korban terus ditemukan,” ungkap Abdul dalam keterangan tertulisnya pada Minggu malam, 5 Oktober 2025.
Seiring dengan terangkatnya puing-puing, tim SAR gabungan menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah fakta bahwa musala yang runtuh tersebut ternyata terhubung dengan bangunan lama di sebelahnya.
Kondisi ini memaksa tim SAR untuk menyusun ulang strategi evakuasi. “Tim SAR gabungan tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan tanpa perhitungan yang matang, terutama karena kondisi bangunan lama terlihat miring. Jika dipaksakan, dikhawatirkan justru akan merusak atau memicu robohnya bangunan di sebelahnya,” jelas Abdul.
Untuk memastikan keamanan dan efektivitas proses pembersihan, BNPB menggandeng konsultan ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk memberikan rekomendasi. Hasilnya, tim SAR diinstruksikan untuk membuat penahan bagi bangunan lama yang masih berdiri, sehingga proses pembersihan puing dapat dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan lebih lanjut.
Hingga Minggu, 5 Oktober, pukul 23.30 WIB, Abdul menginformasikan bahwa jumlah korban meninggal yang telah ditemukan mencapai 49 orang. Sementara itu, 104 korban lainnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Sayangnya, masih ada 14 korban yang dinyatakan hilang.
Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, ambruk pada Senin, 29 September 2025, sekitar pukul 15.00 WIB. Pada saat kejadian, para santri putra sedang melaksanakan salat ashar berjamaah di lantai dasar bangunan berlantai empat tersebut. Upaya pembersihan puing dan evakuasi korban terus dilakukan hingga sepekan setelah kejadian.
Dugaan Maladministrasi Proyek MBG juga menjadi sorotan terkait peristiwa ini.
Sementara itu, Kepolisian Daerah Jawa Timur berencana untuk menyelidiki dugaan kelalaian manusia dalam peristiwa ambruknya Pondok Pesantren Al Khoziny. Langkah ini akan diambil setelah proses evakuasi selesai sepenuhnya.
“Indikasi awal penyebab runtuhnya bangunan akan dijelaskan oleh tenaga ahli agar valid secara ilmiah. Jadi, mohon bersabar, kita selesaikan dulu evakuasi korban,” kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Inspektur Jenderal Nanang Avianto, dalam keterangan tertulisnya pada Minggu, 5 Oktober 2025.
Menurut Anang, kesimpulan mengenai dugaan kelalaian konstruksi hanya dapat diambil oleh ahli yang kompeten. Proses penelitian terkait hal ini masih berlangsung. Pihak kepolisian juga telah memanggil sejumlah saksi, yang sebagian besar adalah santri pondok pesantren tersebut, untuk dimintai keterangan.
Hammam Izzuddin berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Ringkasan
Proses pembersihan puing musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo terus diintensifkan, dengan progres mencapai 80 persen. Tim SAR gabungan menghadapi kendala karena bangunan yang runtuh terhubung dengan bangunan lama, sehingga strategi evakuasi perlu disesuaikan dan melibatkan konsultan ahli dari ITS.
Hingga 5 Oktober 2025, jumlah korban meninggal mencapai 49 orang, 104 selamat, dan 14 masih hilang. Kepolisian Daerah Jawa Timur berencana menyelidiki dugaan kelalaian manusia setelah evakuasi selesai, menunggu hasil penelitian dari ahli konstruksi untuk mendapatkan kesimpulan yang valid.












