
News Stream Pro – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu berpotensi menunjukkan pergerakan yang fluktuatif atau volatil. Sentimen ini dipicu oleh tingginya harga minyak global serta suku bunga global yang masih bertahan di level puncaknya.
Pembukaan perdagangan menunjukkan IHSG menguat 11,67 poin atau 0,19 persen, mencapai posisi 6.207,10. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 tercatat melemah tipis 0,25 poin atau 0,04 persen ke level 619,02. Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajian mereka di Jakarta, Rabu, menyampaikan, “Secara keseluruhan, prospek jangka pendek pasar Indonesia memang menunjukkan perbaikan, namun tetap rentan terhadap tekanan eksternal berupa harga minyak yang tinggi, suku bunga global yang terus bertahan tinggi, dan potensi melemahnya surplus perdagangan.”
Dari kancah internasional, pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali menorehkan rekor tertinggi pada 2 Juni 2026, didorong oleh optimisme yang kuat terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan sektor semikonduktor. Sentimen positif ini semakin memperkuat keyakinan para investor bahwa siklus investasi AI masih berada dalam fase pertumbuhan yang panjang. Kendati demikian, di balik reli tersebut, pasar juga mulai mewaspadai risiko konsentrasi kenaikan indeks yang hanya bertumpu pada segelintir saham teknologi berkapitalisasi besar.
Di tengah dinamika pasar global, IHSG berhasil ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya, sebuah pencapaian yang utamanya dipimpin oleh kinerja solid saham-saham dari sektor energi. Kinerja sektor energi ini tak lepas dari kekhawatiran global yang meningkat terkait pasokan energi.
Kekhawatiran terhadap pasokan energi global semakin memuncak menyusul ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, terutama setelah Iran mengancam akan memblokir Selat Hormuz. Situasi ini mendorong harga minyak dunia kembali melonjak, mendekati level 100 dolar AS per barel, yang berpotensi besar memicu tekanan inflasi di seluruh dunia. Ditambah lagi, data pasar tenaga kerja AS yang tetap sangat kuat serta inflasi Zona Euro yang mengalami peningkatan signifikan, semakin membatasi peluang penurunan suku bunga oleh bank-bank sentral utama dunia.
Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas memperingatkan bahwa, “Kombinasi antara harga energi yang tinggi, inflasi yang masih kuat, dan suku bunga yang bertahan tinggi berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.” Ini mengindikasikan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan signifikan dalam menarik investasi di tengah kondisi makroekonomi global yang kurang kondusif.
Melihat kondisi domestik, ada beberapa sinyal yang beragam. Indeks Manufaktur (PMI manufaktur) Indonesia kembali memasuki zona ekspansi pada Mei 2026, sebuah indikator positif yang menunjukkan aktivitas ekonomi domestik mulai membaik setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya. Namun, sejumlah risiko masih membayangi: investor asing masih mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp1,39 triliun, yang mencerminkan bahwa kepercayaan investor global terhadap pasar domestik belum sepenuhnya pulih. Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat menurun tajam menjadi hanya 90 juta dolar AS akibat lonjakan impor, sementara inflasi Mei 2026 meningkat menjadi 3,08 persen secara tahunan (yoy) yang terutama disebabkan oleh kenaikan biaya transportasi dan energi. Dari sektor perbankan, tingginya undisbursed loan mengindikasikan likuiditas yang masih kuat, namun permintaan kredit produktif belum sepenuhnya pulih, menandakan potensi perlambatan dalam ekspansi bisnis riil.
Menilik performa pasar pada hari sebelumnya, Selasa (02/05), bursa saham Eropa kompak ditutup menguat. Euro Stoxx 50 melesat 1,17 persen, indeks FTSE 100 Inggris naik 0,33 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,48 persen, serta indeks CAC 40 Prancis ditutup lebih tinggi 0,77 persen. Senada dengan Eropa, bursa AS Wall Street juga mencatat penguatan. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,45 persen, indeks S&P 500 menguat 0,13 persen, dan indeks Nasdaq Composite melonjak 0,48 persen.
Sementara itu, perdagangan bursa saham regional Asia pada pagi hari ini menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks Nikkei Jepang memimpin penguatan dengan melonjak 1.706,26 poin atau 2,56 persen ke level 68.440,50. Indeks Shanghai juga menguat tipis 7,72 poin atau 0,19 persen ke posisi 4.082,82. Berbeda arah, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 395,32 poin atau 1,52 persen ke 25.643,00, sementara indeks Strait Times Singapura menunjukkan kenaikan 42,16 poin atau 0,83 persen menuju level 5.139,58.












