KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Mei 2026 dengan performa yang kurang menggembirakan. Pada Jumat (29/5/2026), IHSG tercatat di level 6.127,38, menandai penurunan signifikan sebesar 29,14% secara tahun berjalan.
Kondisi pasar saham domestik semakin tertekan dengan terus berlanjutnya tren arus keluar dana asing. Sepanjang tahun berjalan, nilai jual bersih investor asing (net foreign sell) di seluruh pasar telah mencapai angka fantastis Rp 45,45 triliun.
Menyikapi dinamika pasar ini, Analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memproyeksikan pergerakan pasar saham akan tetap volatil sepanjang Juni 2026. Volatilitas ini utamanya didorong oleh berbagai sentimen global yang masih sensitif, seperti arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi AS (US Treasury yield), serta ketegangan geopolitik yang terus berfluktuasi.
Dari sisi domestik, beberapa sentimen kunci turut mempengaruhi pergerakan IHSG. Faktor-faktor tersebut meliputi stabilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, serta arus dana asing, khususnya yang menargetkan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada berbagai kebijakan pemerintah. Mulai dari perkembangan isu terkait PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA), hingga kelanjutan program hilirisasi. Aksi korporasi lain seperti pembagian dividen, seperti yang terjadi pada awal Juni, juga menjadi bagian dari dinamika pasar yang terus dicermati.
Kinerja emiten pada kuartal II-2026 akan menjadi penentu penting. Data ini akan menjadi indikator krusial untuk menilai apakah penguatan pasar yang mungkin terjadi hanyalah sekadar technical rebound, atau justru didukung oleh fundamental perusahaan yang memang mengalami perbaikan signifikan.
“Potensi technical rebound akan terbuka lebar jika arus dana asing kembali mengalir ke emerging market, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, kami memprediksi IHSG pada Juni berpotensi bergerak mixed, dengan kecenderungan sideways hingga slightly bullish,” jelas Elandry pada Jumat (29/5/2026).
Dihubungi secara terpisah, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa pergerakan IHSG di bulan Juni 2026 akan diawali dengan beberapa sentimen penting. Di antaranya adalah isu terkait PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), pergerakan nilai tukar rupiah, serta penilaian rebalancing FTSE Russell yang akan direalisasikan pada 19 Juni 2026 dan berlaku efektif mulai 22 Juni 2026.
Secara khusus mengenai DSI, Liza menjelaskan bahwa implementasi kebijakan ekspor satu pintu berpotensi memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional. Kebijakan ini dapat meningkatkan transparansi ekspor, mengurangi potensi praktik under invoicing, memperkuat posisi tawar Indonesia terhadap komoditas strategis, dan pada akhirnya, mengukuhkan konsep resource sovereignty.
Namun, tantangan terbesar dari kebijakan ini bukan terletak pada tujuannya yang mulia, melainkan pada aspek implementasinya. Pasar saat ini berada dalam kondisi yang sangat sensitif, membutuhkan kehati-hatian dalam setiap perubahan kebijakan.
Indikasinya terlihat dari foreign outflow yang telah mencapai puluhan triliun dari pasar modal Indonesia hingga akhir Mei 2026. Di sisi lain, rupiah juga mengalami tekanan besar, bahkan sempat menyentuh level lebih dari 17.800 per dolar AS, sebuah angka yang menurut Menteri Keuangan Purbaya tidak rasional.
Dalam situasi pasar yang serba tidak menentu seperti ini, setiap perubahan kebijakan yang berdampak langsung pada mekanisme bisnis emiten akan langsung diinterpretasikan sebagai tambahan policy risk oleh investor.
Kekhawatiran pasar akan memuncak apabila DSI berkembang menjadi bentuk intervensi yang lebih agresif, melampaui sekadar pemeriksaan administratif. Misalnya, jika DSI bertransformasi menjadi sole exporter atau mandatory selling channel, melibatkan pengendalian harga oleh negara, pembatasan pembeli tertentu, pengawasan pembayaran yang terlalu ketat, atau bahkan peninjauan ulang kontrak-kontrak eksisting secara agresif.
Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, pasar akan mulai mempertanyakan sejumlah hal krusial. Ini termasuk transparansi mekanisme harga, tata kelola perusahaan dan potensi benturan kepentingan, peningkatan birokrasi yang dapat menghambat kecepatan pengambilan keputusan, kapabilitas institusi yang bertanggung jawab dalam aktivitas perdagangan dan pengelolaan risiko, serta kemampuan eksekusi sistem tersebut secara keseluruhan.
Liza menegaskan bahwa kebijakan ekspor satu pintu secara inheren bukanlah kebijakan yang buruk. Dari perspektif negara, langkah ini memiliki landasan logika yang kuat untuk memperkuat devisa, meningkatkan transparansi ekspor, menutup celah kebocoran ekonomi, dan mendukung stabilitas rupiah.
Namun, dari sudut pandang pasar modal, keberhasilan kebijakan DSI akan sangat bergantung pada kualitas implementasinya, transparansi tata kelola yang diterapkan, serta kemampuan pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor.
“Pertanyaan terbesar pasar saat ini bukan lagi apa tujuan kebijakannya, melainkan siapa yang akan menjalankannya, seberapa transparan mekanismenya, dan seberapa efisien implementasinya,” ungkap Liza, menyoroti esensi kegelisahan investor.
Apabila DSI hanya berfungsi sebagai clearing house administratif dan alat pemantauan devisa, pasar kemungkinan besar masih dapat beradaptasi. Namun, jika berkembang menjadi instrumen kontrol yang terlalu dominan terhadap harga, pembeli, pembayaran, dan kontrak perdagangan komoditas, investor global dapat mulai menginterpretasikan langkah Indonesia ini sebagai pergeseran menuju resource nationalism yang berlebihan. Pandangan positif terhadap DSI pun muncul, di mana sebagian pihak optimistis bahwa kebijakan ini, jika diimplementasikan dengan baik, justru mampu memperkuat transparansi ekspor dan pada akhirnya, membangun kembali kepercayaan investor.
Pada akhirnya, pasar tidak hanya mengevaluasi tujuan mulia sebuah kebijakan, tetapi juga menilai apakah kebijakan tersebut dapat dieksekusi secara efisien tanpa menciptakan hambatan baru bagi dunia usaha. Dalam kondisi rupiah yang masih rapuh dan foreign flow yang masih negatif, menjaga kepercayaan investor akan menjadi prioritas yang sama pentingnya dengan menjaga cadangan devisa negara.
Untuk proyeksi pergerakan IHSG di Juni 2026, Elandry memaparkan tiga skenario yang dapat menjadi acuan bagi pelaku pasar:
- Skenario Optimistis: IHSG berpeluang bergerak ke kisaran 7.450–7.550. Skenario ini dapat terwujud jika didukung oleh arus masuk dana asing yang berkelanjutan, nilai tukar rupiah yang stabil, serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga global.
- Skenario Moderat: IHSG diperkirakan berada di rentang 7.150–7.350. Asumsinya, kondisi perekonomian global masih dibayangi volatilitas, namun fundamental ekonomi domestik tetap solid dan mampu menopang sentimen pasar.
- Skenario Pesimistis: IHSG berpotensi melemah ke area 6.900–7.050. Skenario ini terjadi jika tekanan eksternal semakin besar, seperti penguatan dolar AS, berlanjutnya arus keluar dana asing, maupun meningkatnya ketegangan geopolitik yang dapat mengurangi minat investor terhadap aset berisiko.
Sementara itu, Liza Camelia Suryanata berpendapat, posisi IHSG saat ini dapat diibaratkan “balik ke dasar laut”, mendekati level terendah yang pernah dicapai pada tahun 2025 di posisi 5.882. Dalam kondisi pasar yang masih didominasi tren bearish kuat, indikator teknikal seperti Relative Strength Index (RSI) tidak selalu dapat menjadi acuan utama, mengingat RSI dapat bertahan lama di area oversold tanpa menunjukkan sinyal pembalikan arah yang signifikan.
Dari sisi teknikal, area 6.000 hingga 5.882 menjadi zona support krusial yang kini menjadi tumpuan harapan pasar. Liza menambahkan, “IHSG akan sulit mengulang kejayaan di 9.000, bahkan jika IHSG rebound ke 7.000 pun itu masih dalam tren bearish pola channel.” Kontras dengan kondisi pasar domestik yang penuh tantangan, bursa global seperti Wall Street justru menunjukkan performa impresif, dengan saham-saham teknologi yang meroket dan mendorong S&P 500 serta Nasdaq mencetak rekor baru. Perbedaan sentimen ini turut memengaruhi keputusan investor global dalam alokasi aset mereka.
Untuk strategi investasi di tengah kondisi pasar yang menantang ini, Liza Camelia Suryanata menyarankan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dengan likuiditas tinggi dan valuasi yang relatif menarik masih berpotensi menjadi pilihan utama bagi pelaku pasar, baik investor asing maupun domestik. Namun, ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengambil posisi, penerapan manajemen risiko yang disiplin, serta pengelolaan portofolio yang baik.
Elandry Pratama sepakat, melihat investor cenderung akan fokus pada sektor-sektor yang bersifat defensif namun tetap memiliki proyeksi pendapatan (earnings visibility) yang baik. Beberapa sektor yang menarik untuk dicermati antara lain perbankan big caps, sektor konsumer, telekomunikasi, serta komoditas tertentu yang masih didukung oleh harga global yang kuat. Selain itu, saham-saham konglomerasi juga mulai menunjukkan pergerakan yang lebih aktif, sehingga berpotensi kembali menarik perhatian pelaku pasar dalam jangka pendek. Di tengah ketidakpastian ini, para investor juga tidak jarang melirik instrumen investasi lain yang menawarkan stabilitas dan potensi imbal hasil menarik, seperti unitlink pendapatan tetap berbasis dolar AS, yang menjadi pilihan alternatif di tengah gejolak pasar saham.













