Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mengumumkan bahwa Presiden terpilih Prabowo Subianto akan melanjutkan lawatan kenegaraannya ke Eropa dengan mengunjungi Austria dan Hungaria. Kedua negara tersebut akan menyusul Prancis, destinasi pertama Prabowo dalam rangkaian kunjungan strategisnya pada akhir Mei 2026 ini, sehingga total ada tiga negara Eropa yang menjadi fokus perhatian.
“Tiga negara Eropa yang dikunjungi oleh Presiden Prabowo Subianto di akhir Mei 2026 ini, yakni Prancis, Austria, dan Hungaria, memiliki posisi yang sangat strategis dan krusial bagi kepentingan Indonesia,” jelas Sugiat dalam keterangan tertulisnya pada 29 Mei 2026. Kunjungan ini merupakan implementasi nyata dari prinsip politik bebas aktif yang dijalankan Prabowo, diwujudkan melalui diplomasi proaktif dan kunjungan ke berbagai negara untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
Seiring dengan upaya diplomasi internasional yang intens, Prabowo juga dikenal dengan visi strategisnya dalam pengembangan kapasitas nasional di berbagai sektor. Salah satu sorotan yang mencerminkan fokus jangka panjangnya adalah bagaimana Prabowo menyiapkan jalan bagi sosok seperti Teddy untuk mencapai posisi jenderal, menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan kepemimpinan dan sumber daya manusia.
Wakil Ketua Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat ini meyakini bahwa kunjungan berulang Prabowo ke Prancis bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan upaya serius untuk membangun kedekatan politik dan kepercayaan tingkat tinggi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Prancis sendiri dikenal sebagai salah satu kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat, sehingga menjalin kemitraan erat dengannya menjadi sangat vital bagi Indonesia.
Sugiat menambahkan, dalam konteks kerja sama dengan Presiden Macron, Prancis memiliki kebijakan ketat mengenai penjualan sistem persenjataan canggih. Negara tersebut tidak semata-mata menjual teknologi militer hanya karena suatu negara memiliki banyak uang. Oleh karena itu, kunjungan berulang Prabowo ke Paris adalah cara untuk membangun trust yang mendalam, agar Indonesia diberi akses ke teknologi militer mutakhir yang tidak sembarang negara bisa peroleh. Langkah ini juga mempertegas sikap Indonesia yang tidak menggantungkan diri pada salah satu blok kekuatan dunia, baik itu Amerika Serikat maupun Tiongkok, melainkan menganut kemandirian dalam kebijakan pertahanan.
Selain Prancis, Sugiat juga menyoroti pentingnya destinasi lain dalam tur Eropa ini. Austria, dipandang sebagai gerbang industri manufaktur di Eropa Tengah, menawarkan potensi besar bagi kerja sama industri. Sementara itu, Hungaria diidentifikasi sebagai pusat pengembangan baterai kendaraan listrik (EV) di Eropa. Kunjungan ke Hungaria ini, menurut Sugiat, merupakan langkah taktis untuk mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai di Eropa, membuka peluang besar dari pintu yang paling terbuka bagi investasi dan hilirisasi.
Sugiat lantas mengklaim bahwa serangkaian kunjungan maraton Prabowo dari Prancis, Austria, hingga Hungaria, telah diperhitungkan secara cermat sebagai langkah taktis untuk mengamankan peluang investasi dan hilirisasi di masa depan. Terlebih lagi, Indonesia memiliki sekitar 65 persen cadangan nikel dunia, sebuah komoditas krusial yang sangat dicari oleh industri kendaraan listrik global, menjadikannya aset strategis dalam diplomasi ekonomi ini.
Ia menegaskan bahwa hasil diplomasi internasional yang dijalankan Prabowo tidak dapat dinilai dalam rentang waktu beberapa pekan atau bulan. Pembangunan komitmen jangka panjang, transfer teknologi, hingga terkuncinya investasi di ketiga negara tersebut merupakan fondasi yang kuat, dan hasilnya baru akan terlihat secara konkret beberapa tahun ke depan. “Menilai keberhasilan diplomasi internasional dari hasil beberapa minggu atau bulan adalah cara berpikir yang tidak logis,” ucap Sugiat, menekankan pentingnya perspektif jangka panjang dalam hubungan antarnegara.
Presiden terpilih Prabowo Subianto sendiri telah mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Prancis, pada Kamis, 28 Mei 2026. Dalam pertemuan penting tersebut, kedua pemimpin negara membahas berbagai sektor strategis yang menjadi prioritas bersama.
Sebelumnya, dalam pernyataan pers bersama Macron, Prabowo menggarisbawahi beberapa isu strategis yang menjadi fokus pembahasan, termasuk implementasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA). “Hari ini saya kira akan membahas beberapa isu penting. Kerja sama di bidang pertahanan, energi bersih, pendidikan, riset, dan pelaksanaan perjanjian Indonesia European Union CEPA,” ujar Prabowo, seperti dikutip dari Sekretariat Presiden pada Jumat, 29 Mei 2026, dalam rangkaian kunjungan kenegaraan di Istana Élysée.
Menurut Prabowo, hubungan antara Indonesia dan Prancis saat ini berada pada fase terbaik sepanjang sejarah kedua negara. Ia juga menyampaikan apresiasi atas komitmen dan kepemimpinan Presiden Macron dalam mendorong kemitraan yang semakin erat. Selain itu, Prabowo menilai bahwa Indonesia dan Prancis memiliki banyak kesamaan pandangan dalam menyikapi berbagai isu global dan kawasan, memperkuat fondasi kerja sama bilateral. Lawatan Prabowo ke Prancis kali ini merupakan kunjungan ketiga kalinya dalam lima bulan terakhir, setelah sebelumnya ia juga bertandang ke Prancis pada Januari dan April.













